Samsung Galaxy A57 mulai menarik perhatian karena membawa beberapa detail yang biasanya lebih sering ditemukan di kelas atas. Di rentang harga sekitar Rp7 juta—8 jutaan, ponsel ini mencoba menawarkan rasa pakai yang lebih solid, lebih rapi, dan lebih premium dibanding mayoritas mid-range lain.
Yang membuatnya makin menonjol bukan cuma satu fitur, melainkan kombinasi dari bodi yang lebih matang, perlindungan yang lebih kuat, dan dukungan perangkat lunak yang panjang. Dari sisi ini, Galaxy A57 terlihat ingin memberi pengalaman yang lebih dekat ke flagship tanpa keluar dari kelas harganya.
Perlindungan bodi yang lebih serius
Salah satu poin yang paling mudah terasa ada pada ketahanan bodinya. Samsung membekali Galaxy A57 dengan sertifikasi IP68, yang membuatnya tahan debu dan mampu bertahan di air sedalam 1,5 meter selama 30 menit.
Sertifikasi seperti ini umum ditemui pada ponsel kelas atas seperti Samsung Galaxy S24, Galaxy S24 Plus, dan Galaxy S25 Ultra. Jika dibandingkan dengan Galaxy A56 dan Galaxy A55 yang masih memakai IP67, peningkatan ini menunjukkan langkah yang lebih berani dari Samsung untuk memperkuat sektor durabilitas.
Rangka metal yang mengubah karakter perangkat
Selain soal perlindungan, kesan premium Galaxy A57 juga datang dari bagian rangka. Informasi dari JagatReview dan 91Mobiles menyebut ponsel ini memakai frame metal datar berbahan aluminium, yang membuat tampilannya lebih meyakinkan saat dilihat dan saat digenggam.
Material aluminium dikenal ringan tetapi tetap kuat, dan karakter seperti ini identik dengan perangkat flagship. Itu sebabnya Galaxy A57 terasa punya kelas yang lebih tinggi dibanding banyak ponsel mid-range lain yang masih mengandalkan material yang lebih sederhana.
Bagian depan dibuat lebih rapi
Di sisi depan, Samsung juga memberi perhatian pada tampilan visual. GSMArena menyebut Galaxy A57 memakai panel Super AMOLED Plus dengan bezel yang lebih tipis, sehingga screen to body ratio-nya berada di sekitar 88,8 persen.
Angka ini memang belum menyamai ponsel flagship Samsung, tetapi sudah mendekati Samsung Galaxy S26 yang disebut memiliki screen to body ratio sekitar 90 persen. Sebagai pembanding, Galaxy A56 masih berada di kisaran 87,7 persen, jadi tampilan depan Galaxy A57 terasa lebih modern dan lebih bersih.
Kaca kelas premium di depan dan belakang
Nilai tambah lain datang dari pemakaian Corning Gorilla Glass Victus+ di sisi depan dan belakang. Lapisan kaca ini dikenal sebagai material premium yang juga dipakai pada HP flagship seperti Samsung Galaxy S22 Ultra.
Pilihan tersebut membuat Galaxy A57 terlihat lebih siap menghadapi risiko goresan dan retak dibanding banyak ponsel di kelas menengah. Di segmennya sendiri, tidak sedikit perangkat yang masih memakai back door plastik atau kaca kelas menengah seperti Corning Gorilla Glass 7i.
Dukungan software yang lebih panjang dari kebanyakan mid-range
Selain faktor fisik, Galaxy A57 juga unggul lewat komitmen pembaruan perangkat lunak. Laman SammyFans menyebut ponsel ini akan mendapat update hingga 6 tahun, termasuk pembaruan sistem Android dan security patch.
Durasi seperti ini melampaui banyak pesaing di kelas menengah yang disebut hanya memberi dukungan 2-5 tahun. Jangka waktunya juga mulai mendekati pola di kelas flagship yang berani menawarkan dukungan hingga 7 tahun, sehingga Galaxy A57 terasa lebih siap dipakai dalam waktu panjang.
Dengan rangka metal, IP68, layar ber-bezel tipis, Gorilla Glass Victus+, dan dukungan software yang panjang, Galaxy A57 membentuk identitas yang cukup jelas. Di harga Rp7 juta—8 jutaan, perangkat ini tampil sebagai mid-range yang membawa banyak elemen khas flagship ke dalam paket yang tetap realistis untuk kelasnya.
Source: www.idntimes.com