Indonesia Beri Hormat Terakhir untuk Praka Rico, Minta PBB Usut Serangan di Lebanon

Gugurnya Praka Rico Pramudia di Lebanon meninggalkan duka mendalam sekaligus memunculkan sorotan tajam terhadap keselamatan pasukan perdamaian PBB di wilayah konflik. Pemerintah Indonesia menyampaikan penghormatan tertinggi atas pengabdian almarhum, sambil mendorong agar insiden yang menewaskannya diusut tuntas oleh pihak PBB.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyebut pemerintah hadir bukan hanya untuk menyatakan belasungkawa, tetapi juga untuk memberi penghormatan kepada Praka Rico dan keluarga yang ditinggalkan. Di saat yang sama, pemerintah terus berkoordinasi dengan UNIFIL agar proses pemulangan jenazah bisa segera dilakukan dengan penuh penghormatan.

Upaya penyelamatan yang tak berhasil

Sebelum gugur, Praka Rico sempat menjalani perawatan intensif selama hampir sebulan. Kondisinya memburuk setelah ia mengalami luka berat akibat ledakan artileri dari tank Israel di dekat Kota Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan.

Pemerintah menyampaikan bahwa sejumlah upaya medis sudah ditempuh untuk menyelamatkan nyawanya. Penanganan dilakukan bersama UNIFIL, pemerintah Lebanon, dan tim medis di Beirut, namun luka yang dialami Praka Rico terlalu berat sehingga nyawanya tidak tertolong.

Kecaman keras dari Indonesia

Pemerintah Indonesia mengecam keras serangan yang merenggut nyawa personel penjaga perdamaian asal Indonesia tersebut. Sikap itu menegaskan bahwa keselamatan pasukan perdamaian PBB tidak boleh diperlakukan sebagai hal yang bisa dikompromikan.

Indonesia juga menilai serangan terhadap personel perdamaian sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Pemerintah bahkan menyebut peristiwa itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan harus menjadi perhatian komunitas internasional.

Desakan agar PBB bertindak

Selain mengecam, Indonesia mendesak PBB melakukan penyelidikan yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel atas insiden tersebut. Bagi pemerintah, langkah ini penting agar fakta kejadian terbuka dengan jelas dan ada pertanggungjawaban atas serangan yang terjadi.

Dalam keterangannya, Nabyl menekankan bahwa pengorbanan para penjaga perdamaian harus dibalas dengan perlindungan nyata dari seluruh pihak. Ia juga menegaskan bahwa peristiwa semacam ini tidak boleh dibiarkan tanpa kejelasan.

Risiko tinggi di medan tugas

Peristiwa yang menimpa Praka Rico kembali menunjukkan betapa berbahayanya tugas pasukan perdamaian di wilayah konflik. Kehadiran personel Indonesia di bawah bendera UNIFIL selama ini menjadi bagian dari kontribusi Indonesia untuk menjaga stabilitas dan perdamaian.

Praka Rico juga tercatat sebagai personel Indonesia keempat yang gugur saat bertugas di bawah komando UNIFIL. Sebelumnya, Praka Farizal Rhomadhon gugur di lokasi kejadian akibat serangan yang sama.

Sehari setelahnya, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan juga turut gugur akibat serangan di dekat Bani Haiyyan, Lebanon Selatan. Rangkaian peristiwa itu menambah duka sekaligus mempertegas beratnya tugas yang dijalankan para penjaga perdamaian di tengah situasi yang tidak aman.

Di tengah dukacita ini, pemerintah menempatkan pemulangan jenazah sebagai bagian dari penghormatan terakhir untuk Praka Rico Pramudia. Pada saat yang sama, dorongan agar PBB mengusut tuntas insiden di Lebanon terus menguat sebagai upaya menegakkan akuntabilitas dan perlindungan bagi personel perdamaian di lapangan.

Source: www.medcom.id
Exit mobile version