Penahanan sembilan warga negara Indonesia oleh militer Israel membuat jalur diplomasi kembali jadi sorotan. Di tengah tidak adanya hubungan resmi antara Indonesia dan Israel, perhatian kini tertuju pada Board of Peace sebagai salah satu pintu yang dinilai masih bisa dipakai untuk menekan pembebasan para relawan dan jurnalis itu.
Kementerian Luar Negeri Indonesia disebut sudah merespons situasi tersebut dengan menyiapkan langkah pelepasan melalui jalur khusus. Pemerintah juga diminta mengerahkan seluruh instrumen yang tersedia agar sembilan WNI yang ikut dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla itu bisa segera pulang.
Sorotan terhadap Board of Peace muncul karena forum itu dianggap memberi ruang politik yang masih terbuka. Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menilai Indonesia tetap punya peluang untuk mendesak Israel meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.
Andi menyinggung posisi Indonesia dalam Board of Peace serta forum yang pernah mempertemukan Presiden Prabowo dengan Benjamin Netanyahu dan Donald Trump. Dari situ, ia menilai pemerintah perlu memakai semua saluran yang ada untuk mendorong pembebasan para WNI yang ditahan.
Di sisi lain, permintaan agar Israel melepaskan para awak kapal dan misi kemanusiaan internasional juga terus menguat. Andi menegaskan seluruh kapal dan awak yang ditahan semestinya segera dibebaskan.
Penangkapan sembilan WNI itu terjadi saat mereka mengikuti pelayaran bantuan menuju Gaza. Armada Global Sumud Flotilla disebut dicegat militer Israel di laut lepas saat masih berada sekitar 460 kilometer sebelum mencapai garis pantai Gaza.
Pusat misi Global Sumud Flotilla menyatakan armada mereka diserang dalam agresi ilegal di wilayah laut bebas. Mereka menilai penghadangan bersenjata itu terjadi di zona maritim internasional yang tidak semestinya menjadi sasaran operasi militer.
Israel membantah tuduhan tersebut. Tel Aviv justru menyebut pelayaran sipil itu sebagai provokasi politik dan mengklaim misi tersebut dirancang untuk memberi dukungan strategis kepada Hamas.
Keluarga para relawan membantah keras tuduhan itu. Mereka menegaskan misi tersebut murni membawa bantuan logistik untuk warga sipil Palestina, bukan senjata atau kepentingan militer.
“Dia tidak membawa senjata, dia hanya membawa makanan, obat-obatan untuk orang yang membutuhkan di Palestina,” kata Sutrawati Kaharuddin, ibunda Andi Angga Prasadewa, salah satu WNI yang ditangkap Israel.
Di tengah kabar penahanan itu, keluarga para WNI berusaha tetap tenang. Kekhawatiran utama mereka adalah keselamatan fisik dan psikologis para relawan selama proses interogasi berlangsung.
Hany Hanifah Humanisa, ibu dari Thoudy Bada Rifanbillahi yang juga jurnalis Republika, mengaku sempat menahan izin saat putranya hendak berangkat. Ia khawatir militer Israel akan bertindak di luar batas.
“Thoudy orangnya tenang,” ujar Hany, sambil mengungkapkan kekhawatirannya soal kemungkinan anaknya disakiti secara fisik. Ia lalu menjelaskan bahwa izin akhirnya diberikan setelah melihat keseriusan dan keyakinan putranya untuk menjalankan tugas liputan.
Keluarga sempat berkomunikasi dengan awak kapal beberapa jam sebelum penyergapan terjadi. Dalam pesan terakhir, para relawan mengatakan mereka masih berada di perairan internasional.
Hany berharap Thoudy dan rekan-rekannya bisa tetap mengendalikan diri saat berada dalam interogasi. Ia juga berpesan agar putranya tidak kehilangan kontrol diri yang bisa merugikan dirinya sendiri maupun teman-temannya.
Keterlibatan jurnalis dalam misi ini kembali memperlihatkan besarnya risiko kerja media di wilayah konflik. Bagi keluarga, keputusan ikut berlayar bukan sekadar soal liputan, tetapi juga tentang keberanian menghadapi ancaman di lapangan.
Hany menyebut putranya sempat batal berlayar pada pertengahan tahun lalu karena tidak mendapat izin darinya. Namun saat penugasan liputan kembali datang, izin itu akhirnya diberikan setelah melalui obrolan panjang tentang risiko dan tujuan keberangkatan.
Insiden ini menambah daftar panjang konfrontasi Israel terhadap armada kemanusiaan internasional yang mencoba menembus blokade Gaza. Bagi Indonesia, kasus sembilan WNI ini menjadi ujian baru dalam diplomasi kemanusiaan yang harus dijalankan tanpa jalur hubungan langsung dengan Israel.
Source: www.suara.com




