Iran Tutup Pintu Pembukaan Selat Hormuz, Tuduh AS dan Israel Langgar Gencatan

Ketegangan di Selat Hormuz kembali naik setelah Iran menegaskan jalur itu belum bisa dibuka. Sikap Teheran ini muncul di tengah tudingan bahwa Amerika Serikat dan Israel melanggar gencatan senjata yang sedang berlaku.

Pernyataan tersebut membuat perhatian dunia kembali tertuju pada selat yang menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting untuk distribusi energi. Di tengah situasi yang belum stabil, pemerintah Iran justru menilai pembukaan selat itu tidak mungkin dilakukan saat ini.

Iran kaitkan Selat Hormuz dengan tekanan politik

Kepala negosiator Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut kondisi sekarang masih terlalu rapuh. Dalam unggahannya di platform X, ia menuding ada pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan secara terang-terangan oleh AS dan Israel.

Ghalibaf juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Menurut dia, situasi itu membuat ekonomi global seperti dijadikan sandera karena eskalasi yang terus membesar di kawasan.

Ia tidak hanya membahas soal keamanan maritim. Ghalibaf juga mengaitkannya dengan berbagai provokasi perang Israel di beberapa lini, yang menurut Teheran memperluas tekanan terhadap Iran.

Peluang dialog masih ada, tetapi hambatannya besar

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih membuka ruang untuk dialog dengan Washington. Namun, ia menekankan bahwa negosiasi yang tulus sulit berjalan jika pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman masih terus terjadi.

“Pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama untuk negosiasi yang tulus,” ujarnya, dikutip dari BBC, Kamis (23/4/2026).

Walau ada sinyal dialog, pembicaraan damai yang sempat diperkirakan berlangsung di Pakistan pekan ini belum juga terlaksana. Wakil Presiden AS JD Vance yang dijadwalkan memimpin delegasi juga masih berada di Amerika Serikat.

Perpanjangan gencatan senjata belum meredakan keadaan

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang semula akan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Setelah itu, Gedung Putih menegaskan bahwa perpanjangan tersebut berlaku tanpa batas waktu.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump puas dengan blokade angkatan laut terhadap Iran. Ia juga menyebut posisi Teheran kini melemah sambil merespons penyitaan kapal yang dilakukan Iran.

“Ini bukan kapal AS, ini bukan kapal Israel,” ujar Leavitt.

Penyitaan kapal di selat tambah panas suasana

Ketegangan di kawasan makin terasa setelah Iran mengumumkan penyitaan dua kapal kargo di Selat Hormuz untuk keperluan inspeksi. Langkah itu dilakukan setelah muncul laporan serangan terhadap tiga kapal di kawasan yang sama.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menyebut kapal-kapal tersebut diduga beroperasi tanpa izin. IRGC juga menuduh ada pelanggaran berulang serta upaya meninggalkan wilayah secara diam-diam dengan merusak sistem navigasi.

Iran menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap setiap pelanggaran di jalur pelayaran itu. Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz makin sulit dibayangkan selama ketegangan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv belum mereda.

Jalur vital yang rawan terganggu

Selat Hormuz tetap punya peran penting dalam perdagangan global, terutama untuk arus energi. Dalam situasi seperti ini, gangguan kecil di jalur sempit tersebut dapat memicu dampak yang lebih luas bagi pengiriman internasional dan stabilitas pasar energi.

Data pelacakan maritim juga menunjukkan salah satu kapal yang sebelumnya dilaporkan diserang, Euphoria, telah berlabuh di dekat Uni Emirat Arab. Laporan itu menyebut kapal tersebut tidak mengalami kerusakan signifikan dan tidak ada korban jiwa, tetapi insiden tersebut tetap menambah kekhawatiran atas keamanan pelayaran di kawasan itu.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button