Daging kurban memang cepat berubah kualitas saat masuk ke rumah jika cara menyimpannya asal-asalan. Masalah kecil seperti tangan yang kotor, wadah yang tidak rapat, atau suhu kulkas yang tidak stabil justru sering jadi pemicu utamanya.
Banyak orang fokus pada proses membagi daging, tetapi lupa bahwa tahap penyimpanan menentukan seberapa lama daging tetap layak diolah. Padahal, daging mentah sangat sensitif terhadap air, oksigen, suhu, dan kebersihan tangan.
Salah satu kebiasaan yang paling sering merugikan adalah mencuci daging mentah sebelum masuk kulkas. Air keran memang terlihat membantu, tetapi justru bisa membawa bakteri dan membuat permukaan daging makin lembab.
Kondisi lembab memberi ruang yang lebih baik bagi bakteri untuk berkembang biak. Karena itu, cara yang lebih aman adalah menepuk permukaan daging dengan tisu kering dan bersih, bukan membilasnya dengan air.
Kesalahan berikutnya muncul saat daging disimpan dalam wadah yang terbuka atau penutupnya tidak rapat. Daging yang sudah dipotong sebaiknya langsung dimasukkan ke wadah kedap udara, seperti kotak plastik atau kantong makanan berpenutup zip-lock.
Tanpa pelindung yang rapat, daging lebih mudah terkena oksigen dan aromanya juga bisa menyebar ke bahan makanan lain. Kontak dengan oksigen dapat mengubah warna daging dari merah menjadi cokelat lewat proses oksidasi, sekaligus ikut memicu pembusukan lemak.
Masalah lain yang sering terjadi adalah membekukan ulang daging yang sudah dicairkan. Saat daging beku mulai mencair, mikroba di dalamnya aktif lagi dan mulai membelah diri.
Dalam hitungan jam, jumlah bakteri bisa melonjak. Itu sebabnya daging yang sudah keluar dari freezer sebaiknya segera diolah, bukan dibiarkan terlalu lama di suhu ruang.
Healthline menyebut daging masih bisa dibekukan ulang jika belum lebih dari dua jam berada di luar kulkas atau satu jam pada suhu 32°C. Namun, aturan itu tetap menuntut kehati-hatian agar daging tidak terlanjur lama berada pada suhu yang tidak aman.
Di sisi lain, kebersihan tangan juga sering diremehkan saat menangani daging kurban. Banyak mikroorganisme bisa menempel di telapak tangan lalu berpindah saat tangan menyentuh daging mentah.
Risikonya bukan cuma membuat daging lebih cepat rusak, tetapi juga meningkatkan kemungkinan keracunan makanan. Karena itu, tangan perlu dibasuh dengan sabun dan air mengalir setidaknya 20 detik sebelum mulai mengolah daging.
Suhu penyimpanan menjadi faktor terakhir yang tak kalah penting. World Health Organization menyebut daging segar perlu disimpan di bawah suhu 5°C agar kualitasnya tetap terjaga lebih lama.
Kalau suhu berada di atas batas itu, bakteri bisa berkembang dan merusak daging dalam waktu singkat. Kebiasaan sering membuka-tutup pintu kulkas juga sebaiknya dihindari, karena perubahan suhu dari pintu yang terlalu sering dibuka dapat mengganggu kondisi dingin yang optimal.
Saat suhu kulkas tidak stabil, daya simpan daging ikut berkurang. Kondisi itu juga membuat kandungan gizinya lebih sulit bertahan lebih lama.
Source: yoursay.suara.com




