Perbandingan harta Teddy Indra Wijaya dan Dino Patti Djalal menarik perhatian karena selisihnya terasa sangat lebar. Dari data LHKPN, Sekretaris Kabinet Teddy tercatat memiliki kekayaan yang jauh lebih besar meski usianya lebih muda dibanding Dino saat berada di posisi strategis sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat.
Angka yang muncul memang kontras. Teddy membukukan harta bersih Rp 20,1 miliar tanpa utang, sementara Dino saat itu tercatat memiliki Rp 10,65 miliar dan masih menanggung kewajiban finansial.
Di balik perbandingan ini, ada konteks yang ikut membuat publik menoleh. Sorotan terhadap anggaran kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo membuat data kekayaan pejabat kembali ramai dibicarakan, termasuk posisi harta Teddy yang disebut melonjak cukup tajam dalam setahun.
Teddy yang diperkirakan lahir pada 1989 melaporkan total harta Rp 20.116.632.669 dalam LHKPN periodik 2025 yang disampaikan pada Maret 2026. Dalam catatan yang sama, kekayaannya disebut naik sekitar Rp 4,7 miliar dibanding periode sebelumnya.
Jika dibedah, sumber terbesar kekayaan Teddy datang dari properti dan aset nonproperti. Ia tercatat memiliki lima bidang tanah dan bangunan dengan nilai total Rp 9,04 miliar, lalu disusul harta bergerak lainnya senilai Rp 7,7 miliar.
Pos kas Teddy juga terlihat cukup kuat. Uang kas dan setara kas yang ia laporkan mencapai Rp 2,1 miliar, sementara koleksi kendaraannya terdiri dari tiga mobil dengan total nilai Rp 1,21 miliar.
Tiga mobil itu adalah Toyota Jeep LC HDTP, Toyota Fortuner, dan Honda CRV. Menariknya, seluruh kekayaan Teddy tercatat utuh karena ia tidak memiliki utang sama sekali.
Catatan harta Dino saat menjabat dubes
Di sisi lain, Dino Patti Djalal mencatat total kekayaan Rp 10.650.000.000 ketika menjabat Dubes RI untuk Amerika Serikat pada 2010. Saat itu, usianya 45 tahun, atau delapan tahun lebih tua dibanding Teddy pada data yang dibandingkan.
Struktur hartanya juga masih didominasi properti. Dino memiliki tanah dan bangunan di Jakarta Selatan senilai Rp 6,08 miliar, yang menjadi pos terbesar dalam kekayaannya saat itu.
Untuk kendaraan, Dino mencatat dua mobil pribadi dengan total nilai Rp 800 juta. Angka ini masih lebih kecil dibanding nilai kendaraan milik Teddy yang dilaporkan mencapai Rp 1,21 miliar.
Harta bergerak lainnya milik Dino tercatat Rp 2,07 miliar. Jumlah itu jauh di bawah pos serupa milik Teddy yang mencapai Rp 7,7 miliar, sehingga jarak keduanya makin terlihat saat rincian aset dibuka satu per satu.
Kas Dino juga tidak sebesar Teddy. Ia hanya mencatat Rp 286 juta, dan masih memiliki utang Rp 1,15 miliar yang membuat kekayaan bersihnya semakin tertinggal.
Selisih yang paling terasa di angka bersih
Kalau dilihat dari total keseluruhan, harta Teddy hampir dua kali lipat dibanding Dino. Selisih itu makin jelas ketika rekening kas, aset bergerak, dan status utang ikut dihitung dalam satu pembacaan.
Teddy unggul di hampir semua pos yang tercatat, mulai dari kas hingga harta bergerak lainnya. Di saat Teddy tidak memiliki utang, Dino masih membawa beban kewajiban yang mengurangi nilai kekayaan bersihnya.
Perbedaan usia juga ikut menambah sorotan pada angka tersebut. Teddy yang lebih muda justru mencatat kekayaan lebih tinggi daripada Dino saat duduk di jabatan diplomatik penting pada usia 45 tahun.
Di tengah perhatian publik terhadap pejabat dan anggaran negara, data LHKPN keduanya menjadi bahan pembanding yang cukup mencolok. Dari sini, publik bisa melihat bagaimana angka kekayaan pejabat dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas tentang figur yang sedang disorot.
Source: www.suara.com




