Kemesraan Putin Dan Xi Tertahan Urusan Gas, Harga Dan Kepentingan Bikin Negosiasi Mandek

Di balik panggung yang terlihat hangat, hubungan Vladimir Putin dan Xi Jinping tetap ditentukan oleh hitung-hitungan yang keras. Salah satu buktinya ada pada proyek gas besar Power of Siberia 2, yang masih belum bergerak ke tahap akhir meski Rusia sangat membutuhkannya.

Bagi Moskow, pipa itu penting untuk mengalirkan gas dari Siberia Barat ke Tiongkok Utara lewat Mongolia. Proyek ini dipandang sebagai jalan untuk menutup sebagian kehilangan pasar Eropa setelah sanksi Barat menekan ruang gerak energi Rusia.

Kedekatan yang sengaja ditampilkan

Di Beijing, simbol kebersamaan Putin dan Xi dibuat sangat jelas. Musik militer Tiongkok bahkan memainkan lagu klasik Rusia, Moscow Nights, saat keduanya berjalan di atas karpet merah menuju Balai Agung Rakyat.

Pilihan sapaan mereka ikut memperkuat kesan itu. Putin menyebut Xi sebagai “sahabatku”, sementara Xi membalas dengan “teman lamaku”, di tengah relasi personal yang disebut sudah terbangun lewat lebih dari 40 pertemuan resmi.

Di ruang publik, keduanya juga terus menonjolkan narasi kerja sama strategis, kemitraan, saling menghormati, dan kepercayaan. Pesan tersebut makin kuat ketika mereka bersama-sama mengecam kebijakan nuklir Amerika Serikat yang dinilai tidak bertanggung jawab.

Putin dan Xi juga sama-sama mengkritik rencana pertahanan rudal Golden Dome milik Donald Trump. Media pemerintah Rusia turut menggarisbawahi pesan itu lewat visual yang kontras, dengan foto Trump yang tampak sendirian disandingkan bersama gambar Putin dan Xi yang berjalan berdampingan.

Tetapi energi membuat batas itu terlihat

Meski tampak kompak, hubungan Rusia dan Tiongkok tidak bergerak di luar kepentingan nasional masing-masing. Di sektor energi, batas itu terlihat paling jelas karena Beijing belum memberi tanda ingin mempercepat keputusan final soal Power of Siberia 2.

Nota kesepahaman untuk proyek itu disebut sudah ditandatangani tahun lalu. Namun sampai sekarang, belum ada kesepakatan final yang mengikat secara hukum.

Salah satu hambatan utama ada pada harga. Selain itu, ada pandangan bahwa Tiongkok tidak ingin terlalu bergantung pada pasokan bahan bakar fosil dari Rusia, terutama jika ketergantungan itu bisa membatasi ruang gerak energi jangka panjangnya.

Kremlin memang menyebut telah mencapai pemahaman umum soal parameter proyek pada Rabu (20/5). Tetapi pernyataan itu belum mengubah kenyataan bahwa negosiasi masih berjalan dan belum tuntas.

Kemitraan strategis, bukan ikatan tanpa syarat

Media pemerintah Rusia sendiri mengakui bahwa kepentingan kedua negara tidak selalu sejalan. Dalam pandangan mereka, Rusia dan Tiongkok sama-sama punya psikologi sebagai kekuatan besar, sehingga perbedaan prioritas menjadi sesuatu yang nyaris tidak terhindarkan.

Karena itu, hubungan Putin dan Xi lebih tepat dibaca sebagai kemitraan strategis yang kuat. Kedekatan personal memang memberi efek simbolik besar, tetapi keputusan nyata tetap bergantung pada untung-rugi geopolitik.

Istilah “bromance” memang kerap dilekatkan pada hubungan para pemimpin besar. Namun pengalaman menunjukkan bahwa simbol kedekatan tidak selalu berujung pada hasil politik yang bertahan lama.

Situasi ini membuat hubungan Putin dan Xi kembali diuji oleh realitas yang berubah-ubah. Tekanan energi dan perbedaan prioritas strategis membuat kehangatan di depan kamera belum tentu sama dengan keselarasan penuh di belakang layar.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button