Kenai Fjords Memanas Di Alaska, Gletser Susut Dan Rantai Hidup Laut Ikut Terguncang

Perubahan di Kenai Fjords National Park kini terlihat bukan hanya pada es yang menyusut, tetapi juga pada cara laut dan daratan saling memengaruhi. Di wilayah seluas 271.132 hektare ini, pemanasan iklim membuat lanskap bergerak cepat, dan dampaknya sudah terasa pada ekosistem pesisir yang bergantung pada keseimbangan yang rapuh.

Salah satu tanda paling jelas datang dari rantai makanan laut. Saat lelehan gletser membawa air tawar dan material batuan ke teluk-teluk fjord, unsur hara seperti kalsium, zat besi, dan magnesium ikut tersapu ke dasar perairan yang dalamnya mencapai 600 hingga 1.000 kaki.

Kondisi itu memicu ledakan fitoplankton pada musim semi. Dari sana, zooplankton tumbuh, lalu ikan kecil, paus bungkuk, hingga predator puncak seperti orca ikut bergantung pada alur makanan yang sama.

Burung laut juga ikut terdampak langsung. Common murre membentuk koloni besar hingga 10.000 individu untuk mencari ikan di perairan sekitar fjord, sehingga perubahan pada stok makanan cepat memengaruhi keberadaan mereka.

Di daratan, Kenai Fjords berada di zona subduksi Aleutian-Alaska, tempat Lempeng Pasifik bergerak ke bawah Lempeng Amerika Utara. Gerakan itu membuat wilayah ini mengalami gempa berkala sekaligus mendorong permukaan daratan naik perlahan.

Pengukuran GPS sejak tahun 1990-an menunjukkan garis pantai taman nasional ini terangkat rata-rata 10 milimeter per tahun. Namun peristiwa besar seperti Gempa Alaska 1964 pernah membuat daratan pantai turun 3 hingga 8 kaki dalam waktu singkat.

Lapisan es di pusat kawasan juga terus berubah. Harding Icefield, yang luasnya sekitar 1.800 kilometer persegi, terbentuk sejak 23 ribu tahun lalu pada Zaman Pleistosen dan menjadi sumber bagi 38 gletser yang mengalir ke berbagai arah.

Sebagian gletser itu berakhir di laut, sementara yang lain mencapai daratan atau danau glasial. Selain membentuk lanskap, massa es ini juga memasok air tawar bagi ekosistem pesisir, sehingga penyusutannya mengganggu lebih dari sekadar pemandangan.

Data satelit menunjukkan luas permukaan Harding Icefield menyusut sekitar 3 persen dalam 16 tahun. Penurunan itu tampak jelas pada gletser seperti Exit Glacier dan Bear Glacier, yang memperlihatkan betapa cepat lapisan es di kawasan ini berubah.

Penyusutan es juga mengubah proses alam di sekitar fjord. Saat material batuan yang terkikis dan aliran air tawar ikut berubah, keseimbangan pesisir yang selama ini ditopang gletser menjadi semakin rentan.

Secara geologis, kawasan ini tersusun atas kompleks akresi Chugach–Prince William. Peneliti juga menemukan terrane berupa batu gamping berfosil yang mirip dengan temuan di Asia, menandakan batuan di wilayah ini menempuh perjalanan sangat panjang sebelum membentuk daratan Alaska modern.

Di tengah perubahan alam itu, ada jejak panjang manusia yang tetap bertahan. Suku Sugpiaq, atau Alutiiq, telah tinggal di pesisir luar Semenanjung Kenai dan memanfaatkan wilayah ini setidaknya selama 1.000 tahun.

Mereka hidup dengan pengetahuan mendalam tentang mamalia laut, migrasi burung, dan ketersediaan hewan buruan seperti anjing laut. Dalam bahasa mereka, Sugpiaq berarti “orang sejati”, sebutan yang menunjukkan kedekatan kuat dengan lingkungan setempat.

Mereka juga mengembangkan qayaq untuk menjelajahi perairan dingin dengan aman. Hingga kini, praktik berburu tradisional masih berlangsung melalui kerja sama dengan pengelola taman nasional sebagai bagian dari pelestarian budaya dan sejarah.

Kenai Fjords kini menjadi salah satu lokasi yang paling tegas memperlihatkan dampak pemanasan global di Alaska. Kawasan ini kehilangan sekitar 12 persen luas es antara 1985 dan 2020, sementara suhu Alaska naik dua kali lebih cepat dibanding rata-rata wilayah lain di Amerika Serikat.

Perubahan itu ikut membuka wajah baru lanskap. Hutan dan aliran sungai muncul di area yang sebelumnya tertutup gletser, sementara di laut, gelombang panas laut di Samudra Pasifik Utara pada 2014 hingga 2016 berpusat di garis pantai Kenai Fjords.

Peristiwa itu mengganggu rantai makanan laut dan memicu kematian massal sekitar 500 ribu hingga satu juta burung laut common murre akibat kekurangan sumber makanan. Di Kenai Fjords, perubahan iklim bukan lagi ancaman yang jauh, melainkan proses yang sedang berlangsung di depan mata.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button