Di tengah perang yang makin melebar, jalur laut dan meja diplomasi sama-sama ikut panas. Dari Selat Hormuz sampai Washington, Beijing, dan Beirut, rangkaian peristiwa terbaru menunjukkan konflik di Timur Tengah sudah menarik banyak pihak ke dalam pusaran yang sama.
Salah satu titik paling sensitif muncul di sekitar Selat Hormuz, ketika sebuah kapal di lepas pantai Uni Emirat Arab dilaporkan dibawa oleh orang tak dikenal ke arah Iran. Badan maritim Inggris mengatakan kapal itu berada sekitar 38 mil laut timur laut Fujairah saat berlabuh sebelum diambil alih oleh personel tanpa otorisasi.
United Kingdom Maritime Trade Operations menyebut kapal tersebut kini menuju perairan teritorial Iran. Laporan ini langsung menambah kekhawatiran soal keamanan pelayaran di salah satu jalur laut terpenting di dunia.
Perhatian atas insiden itu tidak berdiri sendiri. Ketegangan di kawasan memang sudah meluas ke banyak bidang, mulai dari serangan militer, pengawasan jalur laut, sampai manuver politik antarnegara besar.
Trump dan Xi ikut membahas Timur Tengah
Di saat situasi di lapangan memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membahas perang di Timur Tengah saat bertemu di Beijing, menurut pemerintah China. Pembicaraan mereka juga mencakup perang di Ukraina dan isu di Semenanjung Korea.
Pertemuan itu menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah sudah naik ke level yang lebih tinggi dalam agenda internasional. Washington bahkan mendorong Beijing untuk ikut menekan Iran agar menjauh dari langkah-langkahnya di Teluk Persia.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan Amerika Serikat ingin China “memainkan peran yang lebih aktif” dalam isu ini. Dorongan itu menunjukkan bahwa perang yang meluas kini juga menjadi ajang tarik-menarik pengaruh di antara kekuatan besar.
Lebanon dan Iran sama-sama menambah ketegangan
Di Lebanon, korban terus berjatuhan ketika Israel meningkatkan serangan. Kementerian kesehatan Lebanon mengatakan 22 orang tewas pada Rabu, termasuk delapan anak, sementara National News Agency milik negara menyebut sekitar 40 lokasi di Lebanon selatan dan timur dihantam serangan udara Israel.
Sejumlah serangan mematikan juga menghantam selatan Beirut. Serangan yang menyebar ke banyak titik itu menunjukkan bahwa intensitas konflik masih tinggi dan belum menunjukkan tanda mereda.
Iran pun membuka ketegangan baru dengan Kuwait. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran berhak membalas setelah menuduh Kuwait menyerang sebuah kapal Iran dan menangkap empat warganya di Teluk.
Araghchi menuntut pembebasan segera atas empat warga Iran tersebut. Dalam unggahan di X, ia menyebut tindakan itu tidak sah dan terjadi dekat sebuah pulau yang digunakan Amerika Serikat untuk menyerang Iran.
Washington ikut terbelah soal kewenangan perang
Di Amerika Serikat, perdebatan soal perang meluas ke Senat. Pada Rabu, Senat menolak dengan selisih tipis resolusi yang akan membatasi kekuasaan Presiden Donald Trump untuk berperang melawan Iran.
Pemungutan suara itu menjadi yang pertama terkait konflik tersebut setelah tenggat 60 hari bagi Gedung Putih untuk meminta otorisasi formal berakhir. Hasilnya tercatat 50-49, menunjukkan dukungan politik terhadap kewenangan presiden masih cukup kuat meski tekanan perang makin besar.
Di tengah semua itu, muncul pula bantahan dari Uni Emirat Arab atas laporan yang beredar soal Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kantor Netanyahu sebelumnya mengatakan ia mengadakan pertemuan “rahasia” dengan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan selama perang dengan Iran, dan menyebutnya sebagai “terobosan bersejarah” dalam hubungan kedua negara.
Namun, Kementerian Luar Negeri UEA membantah laporan tentang kunjungan Netanyahu ke negara itu. UEA juga membantah tuduhan bahwa mereka menerima delegasi militer Israel apa pun di dalam negeri, sehingga menambah lapisan baru dalam situasi regional yang sudah sangat rumit.