Kivu Selatan Bukan Lagi Titik Aman, Ebola Makin Menjauh Dari Episentrum Awal di Kongo Timur

Di timur Republik Demokratik Kongo, penanganan Ebola kini menghadapi tantangan baru karena kasus yang muncul tidak lagi terkonsentrasi di titik awal wabah. Temuan di Provinsi South Kivu membuat perhatian bergeser ke wilayah yang berada ratusan kilometer dari episentrum di Ituri dan jauh lebih sulit dipantau.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa virus sudah bergerak lintas wilayah tanpa terdeteksi lebih awal. Para ahli menilai Ebola mungkin telah beredar sekitar dua bulan di Ituri sebelum akhirnya diidentifikasi pekan lalu, sementara kasus baru justru muncul di area yang masih dipengaruhi konflik dan mobilitas penduduk.

Kasus di South Kivu menjadi perhatian karena lokasinya berada dekat Bukavu, ibu kota provinsi itu, menurut pernyataan otoritas aliansi pemberontak yang menguasai wilayah tersebut. Alliance Fleuve Congo, yang mencakup kelompok M23 yang didukung Rwanda, menyebut pasien berusia 28 tahun itu telah meninggal dan dimakamkan dengan aman.

Kelompok yang sama juga mengatakan pasien sempat bepergian dari Kisangani di bagian utara. Namun, mereka tidak memberi rincian lebih lanjut tentang pergerakan terakhir pasien sebelum sakit.

Temuan di South Kivu juga bukan satu-satunya kasus di luar pusat wabah. Pekan lalu, satu kasus Ebola lain telah dikonfirmasi di Goma, ibu kota Provinsi North Kivu yang berada di bawah kendali M23.

Kementerian kesehatan Republik Demokratik Kongo pada Kamis melaporkan 670 kasus suspek dan 160 kematian suspek. Dari jumlah itu, 61 kasus telah terkonfirmasi, menunjukkan wabah masih terus berkembang di tengah pelacakan yang belum stabil.

Di South Kivu, juru bicara kesehatan Claude Bahizire mengatakan kepada Reuters bahwa ada dua kasus suspek, termasuk kasus yang berujung fatal. Satu pasien lainnya masih diisolasi sambil menunggu hasil tes, sehingga verifikasi di lapangan belum sepenuhnya selesai.

Respons lintas negara ikut tertekan

Dampak wabah tidak berhenti di Kongo. Uganda juga mengonfirmasi dua kasus di wilayahnya, lalu pada Kamis menyebut akan menangguhkan penerbangan ke DRC dalam 48 jam ke depan sebagai langkah pencegahan.

WHO telah menyatakan wabah strain Bundibugyo, yang belum memiliki vaksin, sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Jane Halton dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations mengatakan kasus yang sudah diumumkan kemungkinan baru mencerminkan “puncak gunung es”.

CEPI kini menilai kandidat vaksin untuk Ebola, sementara Halton menilai target lembaganya untuk memiliki vaksin yang aman dan efektif bagi wabah besar dalam 100 hari mungkin tercapai. Meski begitu, ia menegaskan upaya itu akan sangat berat.

Layanan kesehatan kekurangan napas

Para pekerja bantuan yang menangani wabah mengatakan mereka kekurangan pasokan dasar. Sebagian dari mereka mengaitkan kondisi itu dengan pemotongan bantuan luar negeri dari donor besar yang ikut melemahkan layanan kesehatan lokal dan pengawasan penyakit.

Inggris mengatakan pada Kamis akan mengalokasikan hingga 20 juta pound untuk respons wabah. Amerika Serikat, yang memberi sekitar 600 juta dolar pada respons 2018-2020, sejauh ini telah menjanjikan 23 juta dolar dan pada Selasa mengatakan akan membantu membuka hingga 50 klinik di DRC dan Uganda.

Namun kementerian kesehatan Uganda mengatakan pada Rabu malam bahwa pihaknya belum diajak berkonsultasi soal rencana klinik dari AS. Pemerintah Uganda juga menegaskan belum ada transmisi lokal yang diketahui di wilayahnya.

Ketegangan di lapangan membuat respons makin sulit

Di Ituri, salah satu titik panas wabah, bentrokan pecah di kota Rwampara pada Kamis setelah keluarga korban Ebola mempersoalkan penyebab kematian dan menuntut jenazahnya. Para saksi Reuters mengatakan massa berkumpul di luar rumah sakit dan membakar tenda yang dikelola lembaga medis ALIMA.

Polisi kemudian melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Insiden itu mengingatkan pada wabah 2018-2020 di timur DRC, ketika ratusan pusat kesehatan diserang kelompok bersenjata dan warga marah.

Wabah sebelumnya menjadi yang kedua paling mematikan dalam catatan, dengan hampir 2.300 kematian. Petugas tanggap darurat kini memperkirakan kekerasan bersenjata yang masih meluas di timur DRC akan kembali menghambat penanggulangan wabah.

Di wilayah itu, puluhan milisi masih aktif dan ketidakpercayaan warga terhadap petugas medis tetap menjadi tantangan besar. Dalam situasi seperti ini, setiap kasus baru yang muncul jauh dari episentrum membuat pelacakan kontak dan penahanan penularan semakin rumit.

Dampak politik dan kawasan ikut meluas

Menteri Informasi Uganda, Chris Baryomunsi, mengatakan negaranya memiliki kapasitas untuk menahan wabah. Ia juga menilai langkah Amerika Serikat yang melarang sebagian besar pelancong dari Uganda, DRC, dan Sudan Selatan sebagai reaksi berlebihan.

Uni Afrika juga menyebut KTT India-Africa Forum Summit di New Delhi yang dijadwalkan pada 28-31 Mei akan dijadwal ulang karena “situasi kesehatan masyarakat yang muncul di benua itu”. Dengan kasus yang kini muncul di luar titik awal, penanganan Ebola di timur Kongo makin bergantung pada respons kesehatan, stabilitas keamanan, dan kepercayaan publik yang masih rapuh.

Baca Juga

Back to top button