Komponen Dan Mobilitas Jadi Penopang, Astra Tetap Catat Laba Saat Pasar Mobil Lesu

Di tengah pasar mobil yang belum benar-benar pulih, Astra masih bisa menjaga laba tetap bergerak naik. Penopangnya bukan datang dari lonjakan penjualan kendaraan baru, melainkan dari bisnis mobilitas, komponen, dan transportasi yang masih bekerja kuat saat pasar otomotif melemah.

Kinerja itu terlihat dari divisi otomotif dan mobilitas Grup Astra yang membukukan laba bersih Rp2,4 triliun, naik 4 persen dari Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, jika komponen non-operasional dikeluarkan, laba bersih divisi ini menjadi Rp2,6 triliun dan justru turun 4 persen dibanding kuartal pertama 2025.

Bisnis penyangga yang paling terasa

Salah satu penopang utama datang dari PT Astra Otoparts Tbk. Perusahaan komponen itu mencatat laba bersih Rp447 miliar, tumbuh 10 persen, berkat performa yang solid di seluruh segmen bisnisnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan aftermarket dan manufaktur komponen masih berjalan. Dalam situasi penjualan mobil baru belum memberi dorongan besar, lini komponen justru membantu menahan tekanan.

Kontribusi lain datang dari PT Serasi Autoraya yang bergerak di solusi transportasi dan logistik. Jumlah unit kontrak Serasi Autoraya naik 14 persen menjadi 28.800 unit.

Bisnis mobil bekasnya juga ikut bergerak positif. Penjualannya naik 9 persen menjadi 8.200 unit, sehingga pasar kendaraan pre-owned masih terlihat aktif.

Pasar mobil dan motor belum pulih

Di sisi lain, pasar otomotif nasional masih memberi tekanan. Penjualan mobil nasional hanya tumbuh 2 persen menjadi 209.000 unit sepanjang tiga bulan pertama 2026, sementara pangsa pasar otomotif Astra terkoreksi menjadi 49 persen.

Tekanan itu datang dari pelemahan segmen mass market dan persaingan yang makin ketat. Kondisi serupa juga terlihat di roda dua, ketika penjualan sepeda motor nasional turun 4 persen menjadi 1,6 juta unit.

Meski begitu, PT Astra Honda Motor tetap menjaga posisinya dengan pangsa pasar 78 persen. Artinya, di tengah pasar yang melambat, kekuatan Astra di segmen motor masih tetap besar.

Laba naik, tapi tetap ada beban lain

Kenaikan laba divisi otomotif dan mobilitas tidak sepenuhnya lepas dari tekanan non-operasional. Astra masih mencatat kerugian nilai wajar investasi ekuitas sebesar Rp241 miliar terkait GoTo.

Kerugian itu memang membaik dari Rp456 miliar pada tahun lalu, tetapi tetap memberi tekanan pada bottom line. Karena itu, pergerakan laba yang terlihat naik tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi operasional tanpa beban tambahan tersebut.

Di luar otomotif, tekanan juga datang dari lini lain

Kinerja Astra di divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi justru bergerak lebih berat. Divisi itu mencatat laba bersih Rp408 miliar, turun 79 persen.

UT mengakui ada non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi. Tanpa beban itu, laba bersih divisi tersebut tetap turun 42 persen menjadi Rp1,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan itu terutama dipicu tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe. Tekanan lain juga datang dari permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan, seiring alokasi RKAB batubara nasional yang lebih rendah pada 2026.

Pada akhirnya, hasil Astra menunjukkan satu hal penting: ketika penjualan mobil belum cukup kuat, bisnis komponen, logistik, dan kendaraan bekas bisa menjadi bantalan yang membantu grup tetap bertahan. Kombinasi itulah yang membuat laba Astra masih bisa naik di tengah pasar otomotif yang belum ramah.

Source: www.oto.com

Baca Juga

Back to top button