Festival Sinema Australia Indonesia atau FSAI 2026 menjadi salah satu ruang yang menegaskan arah baru industri film. Bukan hanya soal pemutaran karya, ajang ini juga diposisikan sebagai tempat berbagi pengetahuan, memperluas jejaring, dan mendorong pengembangan kapasitas pelaku film dari Indonesia dan Australia.
Di tengah pijakan itu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyoroti hal yang lebih jauh dari sekadar capaian penonton di bioskop. Menurutnya, film seharusnya dipahami sebagai pintu masuk menuju pengembangan intellectual property atau IP yang bisa hidup lebih lama lewat lisensi dan merchandising.
Film tidak berhenti di layar bioskop
Irene menilai pembelian tiket bioskop bukan sekadar transaksi untuk menonton sebuah karya. Ia melihatnya sebagai bentuk promosi awal yang dapat memicu konsumsi lanjutan terhadap produk turunan dari film tersebut.
“Pada saat kita membeli tiket untuk menonton film, itu setara dengan kita melihat promosi yang kemudian mendorong kita untuk konsumsi lanjutan. Dari situ lahir potensi besar seperti licensing dan merchandising,” ujarnya.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa nilai sebuah film tidak hanya ada pada pendapatan tiket. Saat sebuah karya memiliki karakter yang kuat dan mudah dikenali penonton, karya itu bisa berkembang menjadi IP yang lebih panjang umurnya dan lebih luas nilai komersialnya.
Lisensi dan merchandise jadi bagian dari ekosistem
Dalam kerangka yang disorot Irene, lisensi dan merchandise bukan pelengkap semata. Keduanya menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang dapat memperpanjang usia ekonomi sebuah film setelah masa tayangnya di bioskop selesai.
Karena itu, penguatan IP menjadi penting agar sebuah karya tidak hanya sukses dalam waktu singkat. Pendekatan ini juga membuat film punya peluang untuk terus menghasilkan nilai komersial melalui bentuk turunan yang relevan dengan karakter dan penerimaan penonton.
Irene juga menekankan bahwa pelaku industri perlu melihat film sebagai aset kreatif yang bisa tumbuh lintas kanal. Dengan cara pandang seperti itu, film tidak lagi dibaca hanya dari hasil penjualan tiket, tetapi juga dari kemampuan membangun penonton setia dan membuka ruang bisnis baru.
Pasar lokal besar, tetapi pasar dunia lebih luas
Selain bicara soal IP, Irene mengingatkan pentingnya melihat pasar di luar negeri sejak awal. Ia mengaku Indonesia memang punya pasar yang besar, tetapi skala pasar dunia jauh lebih luas dan tidak bisa diabaikan.
“Indonesia memang besar, tetapi pasar dunia jauh lebih besar. Ini yang harus mulai dipikirkan oleh pelaku industri,” kata Irene.
Dorongan ke pasar global menjadi penting karena pengembangan IP, lisensi, dan merchandising membutuhkan jangkauan yang lebih lebar. Semakin luas pasar yang dibidik, semakin besar pula peluang sebuah film membangun basis penonton, memperpanjang siklus hidup karya, dan membuka bentuk bisnis turunan yang lebih beragam.
Jumbo jadi contoh nyata potensi animasi
Gambaran tentang peluang itu juga terlihat dari film animasi Jumbo. Film tersebut mencatat lebih dari 10 juta penonton pada 2025 dan masuk jajaran film terlaris sepanjang masa di Indonesia.
Art Supervisor Jumbo, Chris Lee, mengatakan capaian itu membuka mata banyak pihak mengenai potensi film animasi di Indonesia. “Jumbo membuka mata banyak orang mengenai potensi film animasi di Indonesia,” ujarnya.
Capaian Jumbo menunjukkan bahwa animasi Indonesia mampu menarik perhatian penonton dalam jumlah besar. Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan seperti ini juga memperkuat pandangan bahwa film bisa menjadi basis IP yang kuat untuk dikembangkan ke berbagai bentuk turunan.
Chris juga mengaitkan pengalamannya dalam program beasiswa Australia Awards dengan pemahamannya atas ekosistem film Australia. Pengalaman itu memberinya sudut pandang tambahan soal pendanaan dan kebijakan yang ikut mendukung pertumbuhan industri film.
FSAI 2026 perluas ruang kolaborasi
FSAI 2026 dijadwalkan berlangsung pada 8–23 Mei 2026 di 11 kota, yaitu Jakarta, Mataram, Bandung, Surabaya, Manado, Makassar, Kupang, Medan, Banjarmasin, Yogyakarta, dan Semarang. Festival ini akan menampilkan lima film Australia, dua film karya Alumni Australia di Indonesia, serta empat film pendek Indonesia karya alumni Australian Awards untuk program film pendek.
Susunan program tersebut memperlihatkan bahwa FSAI bukan hanya ajang tontonan. Festival ini juga menjadi ruang pertemuan ide, jejaring, dan pengalaman antarpelaku industri dari dua negara.
Dengan format seperti itu, FSAI 2026 relevan untuk membicarakan masa depan film sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Irene Umar memandang arah ini penting agar film Indonesia tidak hanya kuat saat diputar, tetapi juga mampu tumbuh sebagai aset bernilai tinggi di pasar yang lebih luas.
Source: lifestyle.bisnis.com




