Luka Serangan Artileri di Libanon Renggut Praka Rico Pramudia, TNI Kembali Berduka

Kabar gugurnya Praka Rico Pramudia kembali menyorot situasi berbahaya yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di Libanon. Prajurit TNI itu wafat setelah hampir sebulan menjalani perawatan intensif akibat luka berat yang diterima dalam serangan terhadap posisi UNIFIL di Adchit Al-Qusayr.

Insiden yang menewaskan Praka Rico juga merenggut nyawa Praka Farizal Rhomadhon. Keduanya menjadi bagian dari rangkaian korban di tengah memanasnya konflik di Libanon selatan, saat operasi penjaga perdamaian berlangsung di wilayah yang rawan tembakan.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyebut Praka Rico meninggal pada Jumat akibat luka berat yang dideritanya sejak insiden 29 Maret. Serangan itu terjadi saat posisi UNIFIL dihantam proyektil, sehingga membawa duka mendalam bagi kontingen Indonesia di bawah bendera Pasukan Sementara PBB di Libanon.

Temuan awal penyelidikan UNIFIL juga memunculkan dugaan bahwa proyektil tersebut ditembakkan dari tank Merkava milik Israel. Dujarric mengatakan, hasil awal itu menunjukkan proyektil dari tank tersebut mengenai posisi penjaga perdamaian, lalu menimbulkan korban dari unsur TNI.

Meski begitu, PBB belum mengumumkan hasil akhir penyelidikan. Karena itu, informasi yang beredar masih berada pada tahap awal, sementara sorotan terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian terus menguat di tengah konflik bersenjata yang belum mereda.

Di tengah situasi itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, pemerintah Indonesia, dan rakyat Indonesia. Ia juga menyoroti pengabdian Praka Rico dalam tugas misi perdamaian dunia yang menempatkan prajurit Indonesia di garis risiko.

Gugurnya Praka Rico menambah daftar personel UNIFIL yang menjadi korban dalam eskalasi pertempuran antara militer Israel dan kelompok Hizbullah. Sejak awal Maret, enam personel penjaga perdamaian dilaporkan tewas di tengah memburuknya keamanan di wilayah tersebut.

Bagi Indonesia, rangkaian kehilangan itu terasa sangat berat. Dalam satu bulan terakhir, empat prajurit yang bertugas di bawah bendera UNIFIL gugur, termasuk Praka Farizal Rhomadhon yang tewas langsung dalam serangan artileri pada 29 Maret.

Dua nama lain menyusul dalam peristiwa berbeda, yakni Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan. Keduanya gugur saat mengawal konvoi pada 30 Maret, sehingga rentetan korban semakin menggambarkan kerasnya medan yang dihadapi pasukan perdamaian.

PBB menegaskan bahwa serangan terhadap personel penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 tahun 2006. Dalam pernyataannya, PBB juga menyebut tindakan seperti itu dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan perang.

Dorongan agar investigasi dilakukan secara tuntas kini juga makin kuat setelah Prancis melaporkan kehilangan dua tentaranya dalam misi UNIFIL usai patroli mereka diserang pada 18 April. Rangkaian peristiwa ini membuat keamanan personel penjaga perdamaian kembali menjadi perhatian utama di tengah konflik Libanon selatan yang belum menunjukkan tanda mereda.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button