Mazda Temukan Formula Baru di Tiongkok, EZ-6 dan EZ-60 Mulai Mengangkat Penjualan NEV

Mazda kini menaruh harapan besar pada kerja samanya dengan Changan untuk memperkuat posisi di pasar New Energy Vehicle atau NEV Tiongkok. Di tengah persaingan elektrifikasi yang semakin ketat, langkah ini menjadi penanda bahwa Mazda memilih jalur kolaborasi yang lebih terarah agar tetap kompetitif.

Hasil dari strategi itu mulai terlihat lewat model-model baru yang lahir dari arsitektur EPA milik Changan. Dari platform tersebut, Mazda menghadirkan sedan 6e yang di pasar domestik dikenal sebagai EZ-6, serta SUV menengah CX-6e yang juga disebut EZ-60.

Kedua model itu tidak hanya ditawarkan sebagai kendaraan listrik murni. Mazda juga menyediakan opsi Range Extended EV atau REEV, sehingga konsumen punya pilihan yang lebih beragam sesuai kebutuhan penggunaan harian dan karakter pasar di Tiongkok.

Perubahan arah Mazda ini tidak muncul secara instan. Pabrikan asal Jepang tersebut sebenarnya sudah lebih dulu mencoba peruntungan di segmen kendaraan listrik lewat MX-30 pada 2019, lalu disusul CX-30 EV, namun keduanya belum memberi dorongan kuat di pasar.

Pengalaman itu tampaknya mendorong Mazda untuk mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih berjalan sendiri, perusahaan kini memanfaatkan sinergi dengan Changan yang sudah memahami kebutuhan konsumen lokal dan dinamika pasar Tiongkok.

Toru Nakajima, Direktur Eksekutif Senior Mazda, menyebut perusahaan sudah menemukan ritme yang tepat untuk menghadapi pasar kendaraan listrik di Tiongkok. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kemitraan dengan Changan kini dipandang bukan sekadar uji coba, melainkan strategi yang lebih matang.

Kemitraan yang dibangun lama mulai menunjukkan hasil

Kerja sama Mazda dan Changan bukan hubungan singkat yang baru terbentuk. Kemitraan yang sudah berlangsung selama dua dekade ini menjadi modal penting bagi Mazda untuk membangun produk NEV yang lebih sesuai dengan preferensi pasar setempat.

Dengan fondasi itu, Mazda tidak hanya mengandalkan satu model, tetapi mulai menempatkan lini elektrifikasinya dalam jalur yang lebih jelas. Langkah ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi jangka panjang dapat menjadi kunci saat produsen menghadapi perubahan besar di industri otomotif.

Dampaknya terlihat dari performa pengiriman kendaraan yang membaik. Berdasarkan data China EV DataTracker, Mazda mencatat pengiriman 91.061 unit dalam periode April 2025 hingga Maret 2026.

Angka tersebut melampaui target internal yang sebelumnya dipatok sebanyak 76.000 unit. Secara sederhana, pencapaiannya hampir 20 persen di atas sasaran awal, yang menandakan ada momentum positif dari strategi baru tersebut.

Kontribusi model baru ikut menguat

Peran EZ-6 dan EZ-60 juga tidak kecil dalam mendorong kinerja Mazda. Pada kuartal pertama 2026, penjualan gabungan kedua model ini menyumbang lebih dari 40 persen terhadap total penjualan bulanan Mazda.

Porsi itu penting karena menunjukkan bahwa produk hasil kolaborasi dengan Changan benar-benar memberi kontribusi nyata, bukan hanya hadir sebagai pelengkap. Bagi Mazda, situasi ini membuka ruang lebih besar untuk mengembangkan produk NEV berikutnya dengan pendekatan yang lebih sesuai pasar Tiongkok.

Lebih jauh, kemitraan ini juga membuka peluang strategis yang menarik. Mazda berpotensi menjadi perusahaan patungan pertama di Tiongkok yang menjual lebih banyak NEV dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar bensin atau ICE.

Jika tren tersebut terus bertahan, posisi Mazda bersama Changan bisa menjadi contoh transisi yang berhasil dari mobil bermesin konvensional menuju kendaraan energi baru. Dalam pasar yang bergerak cepat, pencapaian seperti ini tentu punya bobot besar bagi arah bisnis jangka panjang.

Di luar Tiongkok, perhatian terhadap model hasil kerja sama Mazda-Changan juga ikut meningkat. Mazda 6e disebut akan segera hadir di Indonesia, bahkan mobil itu sudah sempat terlihat menjalani tes jalan dengan balutan kamuflase.

SUV CX-6e juga tidak tertutup peluang untuk masuk ke Indonesia. Mengingat segmen SUV listrik dinilai memiliki pasar yang cukup besar, model ini berpotensi menarik minat lebih luas jika benar-benar dipasarkan di Tanah Air.

Source: otomotif.kompas.com
Exit mobile version