Kasus unggahan kerang milik mantan Direktur FBI James Comey kini jadi sorotan karena banyak pakar hukum menilai dakwaan pidana yang diarahkan kepadanya terlihat lemah. Inti persoalannya bermula dari foto kerang di pantai yang disusun membentuk angka “86 47”, lalu dibaca jaksa sebagai ancaman terhadap Presiden Donald Trump.
Comey sudah hadir di pengadilan sehari setelah dakwaan dibacakan dan menyatakan dirinya tidak bersalah. Ia juga menegaskan akan melawan tuduhan itu, sementara unggahan tersebut sudah dihapus tak lama setelah dipublikasikan.
Makna “86 47” yang diperdebatkan
Jaksa menafsirkan angka “86” sebagai tanda ancaman, karena dalam beberapa konteks istilah itu bisa berarti mengusir, menolak layanan, atau menyingkirkan sesuatu. Sementara itu, angka “47” dipahami sebagai kemungkinan rujukan kepada Trump sebagai presiden ke-47 Amerika Serikat.
Namun, pembacaan itu dinilai terlalu jauh oleh sejumlah pakar hukum jika langsung diperlakukan sebagai ancaman pidana. David Hudson, profesor di Belmont University College of Law, menyebut unggahan itu memang terasa tidak pantas, tetapi tetap masuk kategori ekspresi yang dilindungi hukum.
Hudson menilai pesan tersebut lebih mungkin dibaca sebagai bentuk penolakan terhadap presiden atau dorongan agar presiden disingkirkan dari jabatan. Ia menegaskan bahwa Amandemen Pertama memberi ruang yang sangat luas bagi warga untuk mengkritik pejabat publik, termasuk dengan bahasa yang keras dan tidak sopan.
Batas antara kritik dan ancaman nyata
Dalam hukum Amerika Serikat, Amandemen Pertama melindungi kebebasan berbicara, bersama kebebasan beragama, pers, berkumpul, dan mengajukan petisi kepada pemerintah. Perlindungan itu tidak mencakup “true threats”, tetapi tetap melindungi kritik tajam dan ekspresi keras terhadap pejabat publik.
Rujukan yang sering dipakai dalam perkara seperti ini adalah Watts v. United States pada 1969. Dalam kasus itu, Mahkamah Agung membatalkan vonis seorang pemuda berusia 18 tahun yang menyampaikan komentar bernada ancaman kepada Presiden Lyndon Baines Johnson dalam aksi demonstrasi anti-perang.
Mahkamah menyebut komentar tersebut sebagai “political hyperbole”, bukan ancaman serius. Dalam putusan-putusan berikutnya, pengadilan tinggi juga menegaskan bahwa “true threats” adalah pernyataan serius yang menunjukkan niat melakukan kekerasan ilegal.
Clay Calvert, pakar Amandemen Pertama yang berafiliasi dengan American Enterprise Institute, menilai foto kerang milik Comey jauh lebih lemah dibandingkan ekspresi yang dipersoalkan dalam perkara Watts. Ia menyebut, “Seashells on a beach would be an odd context to convey a threat of violence.”
Sorotan politik yang ikut membayangi
Di luar perdebatan hukum, kasus ini juga dipandang tidak bisa dilepaskan dari situasi politik yang mengitarinya. Dakwaan terbaru muncul ketika Acting Attorney General Todd Blanche mendorong langkah baru di Departemen Kehakiman, sementara sejumlah pengamat melihat ada dorongan untuk menargetkan lawan-lawan politik presiden lewat proses pidana.
Thomas Berry, pengacara konstitusi di Cato Institute, juga menilai Comey menjadi contoh orang yang menghadapi penuntutan lemah dan pelecehan dari Departemen Kehakiman. Pandangan itu memperkuat anggapan bahwa unsur ancaman dalam unggahan kerang masih sulit dibuktikan secara hukum.
Trump sendiri pernah menyebut nama Comey dalam unggahan media sosial tahun lalu dan menyerukan tuntutan pidana terhadap para lawannya. Dalam konteks itu, perkara unggahan kerang di Instagram dipandang lebih besar daripada sekadar persoalan simbol di media sosial.
Comey memang sudah lama dikenal berseberangan dengan Trump. Ia kini menghadapi dua kasus pidana dari Departemen Kehakiman selama pemerintahan kedua Trump, dan kasus sebelumnya sudah dibatalkan hakim federal karena jaksa sementara yang menangani perkara itu dinilai diangkat secara tidak sah.
Berry memperkirakan dakwaan terbaru ini juga tidak akan berujung pada vonis. Menurut dia, beban terbesar Comey justru terletak pada proses hukum yang menyita waktu dan biaya, bahkan jika perkara itu nantinya tidak mampu bertahan di pengadilan.





