Kabar terbaru soal Matahari justru membuat para astronom lebih waspada. Bintang pusat tata surya itu tidak hanya menunjukkan perubahan di permukaan, tetapi juga mengisyaratkan pergeseran pola di bagian dalam yang selama ini dipakai untuk membaca aktivitasnya.
Temuan ini penting karena aktivitas Matahari berhubungan langsung dengan cuaca antariksa. Jika dinamika di dalamnya berubah, dampaknya tidak berhenti pada urusan ilmiah, tetapi juga dapat merembet ke satelit, GPS, komunikasi, hingga jaringan listrik di Bumi.
Apa yang berubah di dalam Matahari
Para peneliti melihat bahwa energi magnetik Matahari tampaknya makin terkonsentrasi di lapisan yang lebih dangkal. Lapisan itu berada dekat fotosfer, yaitu bagian bercahaya yang terlihat dari Bumi.
Kondisi tersebut membuat apa yang tampak di permukaan tidak selalu sejalan dengan proses yang berlangsung di interior. Bukan sekadar melemah, aktivitas magnetik justru terlihat seperti sedang diatur ulang di bagian dalam.
Profesor Bill Chaplin dari Universitas Birmingham, Inggris, menilai ritme alami Matahari mengatur periode aktivitas magnetiknya. Namun, pengukuran tradisional dari permukaan dinilai belum tentu mampu menggambarkan perubahan yang terjadi jauh di bawah lapisan yang terlihat itu.
Gelombang suara menjadi alat pembaca interior
Untuk melihat kondisi tersebut, ilmuwan memakai gelombang suara yang merambat di dalam Matahari. Getaran ini bekerja seperti pemindai alami yang membantu membaca bagian dalam tanpa harus melihatnya secara langsung.
Dari cara osilasi itu berubah, peneliti bisa menilai apa yang terjadi pada struktur internal Matahari. Metode ini memberi sudut pandang berbeda dibanding pengamatan biasa yang hanya berpatokan pada permukaan.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hubungan antara getaran internal dan aktivitas yang tampak di permukaan tidak lagi sama seperti dulu. Perubahan itu mulai terlihat sejak Siklus Matahari ke-23.
Jejak panjang dari data BiSON
Analisis terbaru menggunakan data yang dikumpulkan antara 1987 hingga 2025. Data tersebut berasal dari enam teleskop dalam jaringan Birmingham Solar Oscillations Network atau BiSON.
Jaringan ini mencatat perubahan sangat kecil pada frekuensi osilasi Matahari selama beberapa siklus aktivitas. Dari catatan panjang itu, peneliti menemukan tanda-tanda perubahan yang cukup berarti.
Salah satu hal yang paling menonjol adalah dugaan bahwa medan magnet Matahari kini semakin tertekan ke lapisan yang lebih dekat ke fotosfer. Ini membuat pembacaan dari permukaan dan kondisi di dalam tampak makin berbeda.
Mengapa Siklus ke-25 tidak sepenuhnya sederhana
Dari luar, Siklus Matahari ke-25 memang terlihat relatif biasa. Tetapi dari sisi seismik atau getaran internal, aktivitasnya justru dinilai lebih kuat.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa wajah Matahari yang terlihat dari Bumi belum tentu mencerminkan energi magnetik yang sedang bekerja di kedalamannya. Karena itu, data permukaan saja dianggap belum cukup untuk menangkap seluruh gambaran.
Tim peneliti juga menilai temuan ini lebih dari sekadar penurunan kekuatan magnetik. Ada kemungkinan sedang terjadi reorganisasi besar dalam cara energi magnetik disimpan dan didistribusikan di interior Matahari.
Dampaknya ke Bumi tidak bisa diabaikan
Perubahan di tubuh Matahari bukan hanya persoalan teori. Aktivitas bintang ini memengaruhi cuaca antariksa, dan efeknya bisa menjangkau sistem teknologi di Bumi.
Badai geomagnetik yang dipicu oleh aktivitas Matahari dapat mengganggu satelit, sistem navigasi GPS, komunikasi, dan infrastruktur kelistrikan. Karena itu, perubahan pada struktur internal Matahari ikut menjadi perhatian serius.
Pemantauan terhadap Siklus Matahari ke-25 masih terus berjalan. Para peneliti juga menunggu Siklus ke-26 yang diperkirakan mulai sekitar tahun 2030 untuk melihat apakah pola ini berlanjut atau hanya muncul sebagai anomali sementara.
Studi ini telah dimuat dalam jurnal ilmiah Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Temuannya menegaskan bahwa cara membaca Matahari perlu melihat lebih dari sekadar permukaannya, karena bagian dalamnya bisa menyimpan petunjuk paling penting soal ancaman cuaca antariksa bagi Bumi.
Source: www.suara.com




