Tanjakan di kawasan Ciwidey menjadi titik paling terasa dalam touring 504 km memakai Polytron Fox Air. Di atas kertas, biaya pengisian dayanya memang sangat hemat, totalnya hanya sekitar Rp40.900, tetapi angka itu tidak membuat perjalanan terasa mudah di semua medan.
Selama tiga hari, motor listrik ini dipakai melintas Jakarta, Bandung, Ciwidey, hingga Purwakarta. Rute yang beragam membuat pengujian ini tidak sekadar soal jarak jauh, tetapi juga soal bagaimana motor menghadapi jalan kota, antarkota, dan area pegunungan dalam satu perjalanan panjang.
Biaya irit, tapi kondisi jalan sangat menentukan
Angka Rp40.900 menjadi sorotan karena dipakai untuk menempuh 504 km. Dari sisi biaya operasional, hasil ini menunjukkan potensi penghematan yang besar jika dibandingkan dengan kendaraan bermesin konvensional.
Namun efisiensi itu tidak muncul dalam kondisi yang selalu stabil. Saat motor mulai dipakai menanjak atau dibawa boncengan, konsumsi baterai berubah jauh lebih cepat daripada saat melaju santai di jalan datar.
Salah satu momen yang paling terasa terjadi ketika baterai masih sekitar 100% lalu turun ke 85% hanya dalam sekitar 8–9 km. Di bagian lain perjalanan menuju Ciwidey, daya baterai bahkan menyusut lebih tajam hingga tinggal sekitar 12% setelah menempuh kurang lebih 30 km menuju titik pengisian di PLN Ciwidey.
Medan pegunungan jadi penguji utama
Jalur menuju kawasan wisata seperti Kawah Putih dan Situ Patenggang memberi tantangan yang tidak kecil. Tanjakan yang dominan membuat kerja motor lebih berat, apalagi ketika lalu lintas ikut padat dan perjalanan dilakukan dengan beban tambahan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa angka jarak tempuh di atas kertas belum tentu menggambarkan performa nyata saat motor dipakai touring. Beban penumpang dan karakter jalan sangat memengaruhi seberapa cepat energi baterai terkuras.
Pengendara dalam pengujian tersebut juga merasakan langsung bahwa konsumsi daya meningkat drastis saat motor dipakai menanjak sambil berboncengan. Situasi seperti ini membuat pengelolaan daya menjadi bagian penting dalam perjalanan jarak jauh.
Ada bantuan dari regenerasi daya saat turunan
Di tengah jalur yang banyak naik turun, Polytron Fox Air punya keunggulan lewat fitur regenerative braking. Fitur ini membantu memulihkan sebagian energi saat motor melaju di turunan panjang, sehingga daya yang biasanya hilang bisa kembali ke baterai.
Efeknya terlihat ketika motor turun dari kawasan wisata. Baterai yang sebelumnya sekitar 60% sempat naik menjadi 63% setelah melintasi turunan sekitar 12 km.
Kenaikan itu tidak besar, tetapi cukup menunjukkan bahwa jalur pegunungan memberi peluang tambahan untuk menghemat energi. Dalam touring panjang, tambahan kecil seperti ini bisa membantu memperpanjang jarak tempuh tanpa biaya tambahan.
Pengisian daya tetap harus direncanakan
Selama perjalanan, pengisian dilakukan di beberapa titik SPKLU PLN. Waktu menunggu cas dimanfaatkan untuk istirahat dan makan, meski sempat muncul kendala teknis yang membuat pengisian tidak selesai normal dan harus dialihkan ke akun serta port lain.
Salah satu sesi pengisian bahkan memakan waktu sekitar 1,5 jam sebelum motor dipakai lagi untuk perjalanan malam. Hal ini menunjukkan bahwa touring dengan motor listrik tetap menuntut perencanaan titik isi ulang yang rapi.
Di perjalanan pulang menuju Jakarta lewat Purwakarta, sempat muncul kekhawatiran kehabisan daya di jalan. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan, karena pengalaman sebelumnya menunjukkan baterai di posisi 0% hanya mampu membawa motor sekitar 2 km sebelum benar-benar mati.
Meski sempat diwarnai rasa cemas, perjalanan tetap bisa diselesaikan. Touring ini memberi gambaran yang cukup realistis bahwa Polytron Fox Air memang sanggup diajak menempuh jarak jauh, tetapi pengendara perlu siap menghadapi tanjakan, boncengan, serta disiplin dalam mengatur waktu pengisian daya.





