Biaya perjalanan mudik Jakarta ke Yogyakarta dengan motor listrik ternyata bisa jauh lebih ringan dari yang banyak dibayangkan. Dalam satu perjalanan solo sejauh lebih dari 570 kilometer, total pengisian daya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp57 ribu.
Perjalanan itu dijalani dengan Polytron Fox R selama dua hari, melewati jalur Pantura hingga kawasan pegunungan di Jawa Tengah sebelum tiba di Yogyakarta. Rute tersebut sekaligus menjadi pembuktian bahwa motor listrik bukan cuma cocok untuk pemakaian dalam kota, tetapi juga bisa dipakai untuk perjalanan jauh selama pengendara paham cara mengatur baterai.
Perjalanan dimulai tanpa persiapan berlebihan
Sang pengendara memilih motor listrik karena ingin merasakan mudik dengan cara yang berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Selama tiga sampai empat tahun terakhir, ia biasa pulang kampung memakai mobil, lalu kali ini ingin kembali solo riding dengan kendaraan yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Pilihan itu berawal dari unggahan di media sosial yang meminta saran kendaraan untuk touring. Tak lama kemudian, Polytron menawarkan unit Fox R untuk dipakai dalam perjalanan mudik Jakarta-Jogja tersebut.
Yang menarik, motor itu langsung dikirim dan dipakai untuk touring tanpa sempat menjalani test ride lebih dulu. Meski persiapannya minim, perjalanan tetap dilanjutkan dari Jakarta setelah salat subuh.
Biaya cas jadi sorotan utama
Selama perjalanan, total biaya fast charging di sejumlah SPKLU disebut hanya sekitar Rp57 ribu. Bahkan ada titik pengisian yang memberi layanan gratis khusus motor listrik, termasuk di SPKLU PLN Kebumen.
Dari sisi penggunaan harian, biaya cas penuh di rumah dengan listrik rumahan juga disebut hanya sekitar Rp5 ribuan. Karena itu, pengalaman ini membuat biaya pengisian daya jadi salah satu keunggulan paling terasa dari motor listrik selama touring jarak jauh.
Di luar urusan cas, motor listrik juga dinilai lebih praktis dalam perawatan. Kendaraan seperti ini tidak membutuhkan penggantian oli rutin seperti motor bensin.
Mode berkendara sangat menentukan jarak tempuh
Pada awal perjalanan, motor masih sering dipacu dalam mode sport. Saat melewati lalu lintas perkotaan yang macet dan dipenuhi lampu merah, konsumsi baterai terasa lebih boros.
Dari situ, terlihat jelas bahwa gaya berkendara sangat memengaruhi efisiensi motor listrik. Semakin tinggi kecepatan dan semakin agresif akselerasi, baterai akan lebih cepat terkuras.
Saat kapasitas baterai turun di bawah 25 persen, layar motor mulai menampilkan estimasi jarak tempuh yang tersisa. Fitur ini membuat pengendara harus lebih disiplin menghitung sisa tenaga dan menentukan kapan waktunya mencari SPKLU.
Pengisian daya pertama dilakukan di SPKLU PLN ULP Cikampek. Di titik ini, fast charging dipakai dengan converter charger mobil listrik agar proses pengisian berlangsung lebih cepat.
Dari pengisian pertama tersebut, motor mampu menempuh sekitar 90 kilometer dengan sisa baterai sekitar 12 persen. Setelah pola berkendara diubah dan mode hemat atau mode D lebih sering dipakai, efisiensinya meningkat hingga motor bisa berjalan lebih dari 110 kilometer dalam sekali pengisian.
Tanjakan Jawa Tengah jadi ujian sesungguhnya
Bagian paling menantang justru muncul pada hari kedua, saat rute melewati Tegal, Purbalingga, Kebumen, Wates, lalu masuk Yogyakarta. Karakter jalan di jalur ini penuh tanjakan dan turunan, sehingga jadi ujian nyata bagi motor listrik yang sering dianggap kurang kuat di medan pegunungan.
Titik yang disebut paling menguji ada di kawasan Randudongkal dan sekitar Bendungan Sempor. Di jalur seperti ini, motor tetap mampu melewati tanjakan tanpa kendala berarti, sesuatu yang membuat pengendaranya cukup terkejut.
Mode sport tetap dipakai, tetapi hanya pada situasi tertentu. Penggunaan itu dilakukan saat perlu menyalip kendaraan besar atau menghadapi tanjakan ekstrem demi alasan keselamatan, meski konsekuensinya baterai memang lebih cepat habis.
Menjelang masuk Yogyakarta, ketegangan sempat meningkat ketika sisa baterai tinggal sekitar 5 persen dan indikator mulai berkedip. Estimasi jarak tempuh yang terus menipis membuat perjalanan terasa rawan berhenti di jalan, tetapi motor akhirnya berhasil tiba di kawasan Tugu Jogja.
Punya catatan, tapi tetap dianggap layak untuk touring
Setelah menempuh ratusan kilometer dalam berbagai kondisi jalan dan cuaca, performa Polytron Fox R dinilai cukup memuaskan untuk touring jarak jauh. Motor ini dianggap solid dan mampu memberi pengalaman mudik yang berbeda dari biasanya.
Skema sewa baterai dari Polytron juga mendapat sorotan positif. Sistem ini dinilai memudahkan pengguna karena tidak perlu membeli baterai baru ketika performanya menurun.
Ada pula fitur aplikasi Polytron EV yang bisa dipakai untuk memantau kondisi motor sekaligus menghubungi customer service secara langsung. Meski begitu, pengalaman touring ini masih menyisakan catatan pada suspensi bawaan dan ban standar yang dianggap belum optimal, terutama saat melintasi jalan beton yang basah.
Dari perjalanan ini, pandangan terhadap motor listrik ikut berubah. Kendaraan seperti Polytron Fox R dinilai tidak lagi terbatas untuk kebutuhan dalam kota, selama pengendara siap mengatur baterai dan merencanakan titik pengisian daya dengan cermat.





