Di tengah rupiah yang masih melemah, pasar kini tidak hanya melihat seberapa besar pemerintah membelanjakan anggaran, tetapi juga ke mana dana itu mengalir. Efeknya terhadap ekonomi memang masih terasa, namun ruang untuk terus mengandalkan dorongan fiskal mulai tidak selebar sebelumnya.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, penguatan pada triwulan I banyak ditopang faktor yang sifatnya sementara. Efek dasar yang rendah dari tahun sebelumnya, percepatan belanja, pembayaran THR, serta momentum Ramadan-Idulfitri membuat dorongan fiskal terlihat lebih kuat pada periode tersebut.
Belanja masih jadi penopang, tapi tidak tanpa batas
Selama penerimaan negara belum bergerak sekuat belanja, tekanan pada fiskal akan makin terasa. Josua menyebut ruang fiskal pemerintah kini menghadapi beban dari pertumbuhan belanja negara yang tinggi di tengah kebutuhan pembiayaan yang ikut meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, belanja pemerintah masih bisa menopang aktivitas ekonomi. Namun, laju dukungannya berpotensi melambat pada triwulan II dan III jika belanja tetap dipacu tanpa penopang penerimaan yang memadai.
Pasar juga akan memperhatikan risiko defisit dan pembiayaan dari arah kebijakan ini. Bila persepsi risiko naik, imbal hasil Surat Berharga Negara atau SBN dapat tertekan dan rupiah ikut berada di bawah tekanan.
Kualitas belanja jadi pembeda utama
Tidak semua belanja pemerintah memberi efek yang sama ke perekonomian. Menurut Josua, dorongan terbesar datang dari belanja produktif seperti infrastruktur dasar, distribusi pangan, kesehatan, pendidikan, dan pelibatan usaha kecil dalam rantai pasok domestik.
Sebaliknya, belanja yang hanya mendorong konsumsi jangka pendek dinilai cepat kehilangan daya dorong. Pola seperti itu juga berisiko memicu inflasi dan meningkatkan impor, sehingga manfaatnya bagi ekonomi domestik menjadi lebih terbatas.
Karena itu, belanja negara tetap penting sebagai penyangga pertumbuhan. Tetapi perannya akan lebih kuat jika diarahkan untuk menambah kapasitas produksi, bukan hanya menjaga konsumsi sesaat.
Impor yang lebih cepat ikut mengubah dampak belanja
Perhatian lain datang dari perdagangan luar negeri. Pada triwulan I 2026, impor tumbuh 7,18% secara tahunan, sementara ekspor hanya naik 0,90% yoy.
Kondisi itu menunjukkan sebagian manfaat pertumbuhan domestik masih berpotensi mengalir ke luar negeri. Aliran tersebut bisa terjadi lewat kebutuhan impor bahan baku, barang modal, dan energi yang masih dipakai dalam proses produksi.
Josua menekankan bahwa efek pengganda akan lebih besar bila belanja pemerintah menyerap produk domestik. Jika terlalu bergantung pada barang impor, dorongan fiskal tidak akan sepenuhnya tinggal di dalam negeri.
Angka belanja memang besar, tetapi keberlanjutan jadi pertanyaan
Kekuatan belanja pemerintah terlihat dari realisasi triwulan I 2026 dalam Produk Domestik Bruto. Komite Stabilitas Sistem Keuangan mencatat belanja negara mencapai Rp 815 triliun, tumbuh 31,4% yoy.
Dari total itu, belanja pemerintah pusat tercatat Rp 610,3 triliun. Sementara transfer ke daerah mencapai Rp 204,8 triliun, menegaskan bahwa fiskal masih menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi.
Meski begitu, besarnya belanja tidak otomatis menjamin daya dorong yang bertahan lama. Keberlanjutannya tetap bergantung pada penerimaan, efisiensi anggaran, serta arah belanja yang dipilih pemerintah.
Situasi itu membuat pasar lebih peka terhadap kombinasi rupiah yang masih melemah dan harga energi global yang tetap tinggi. Selama penerimaan belum cukup kuat, belanja pemerintah masih membantu menahan perlambatan, tetapi ruang untuk mendorong ekonomi kini makin terbatas.
Source: www.beritasatu.com