Rupiah Melemah, Jatim Perketat Pangan Dan Pasar Demi Cegah Harga Naik

Harga barang impor mulai terasa lebih mahal ketika rupiah melemah, dan Jawa Timur langsung mengarahkan perhatian ke pangan agar tekanan itu tidak merembet lebih jauh. Di saat kurs sempat menembus Rp17.938 per dolar AS pada pukul 12.41 WIB, Rabu (3/6/2026), Pemprov Jatim memilih bergerak di area yang paling dekat dengan kebutuhan warga, yaitu stok, distribusi, dan harga bahan pokok.

Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak menilai guncangan nilai tukar tidak berhenti di pasar keuangan saja. Dampaknya, kata dia, cepat terasa pada biaya hidup, terutama bagi kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah dan juga peternak.

Tekanan kurs ikut mendorong biaya produksi

Salah satu keluhan yang muncul datang dari peternak ayam petelur. Emil menyoroti harga pakan yang melonjak, meski jagung di dalam negeri sebenarnya tersedia cukup banyak.

Dari sisi lain, penguatan dolar AS juga membuat barang impor ikut terkerek naik di pasar. Efeknya menyentuh suku cadang, peralatan elektronik, hingga kendaraan yang mengalami kenaikan harga.

Emil juga menekankan bahwa tekanan eksternal tidak boleh dibarengi masalah lain di dalam negeri. Menurut dia, efisiensi logistik penting supaya beban sektor riil tidak semakin berat saat kondisi global sedang tidak stabil.

Pangan jadi titik pertahanan utama

Di tengah situasi itu, Pemprov Jatim memilih menjadikan pangan sebagai fokus utama. Emil menyebut Jawa Timur sebagai produsen pangan, sehingga sektor ini dipandang paling strategis untuk menjaga ketahanan daerah di tengah dinamika global.

Pemerintah provinsi juga menyiapkan langkah menjaga stabilitas harga bahan pokok dengan turun langsung ke pasar-pasar tradisional. Jika ada harga yang naik di lapangan, pemerintah daerah akan melakukan intervensi agar komoditas tetap berada pada level normal sesuai patokan pemerintah.

Emil menegaskan perhatian itu bukan hanya untuk satu jenis barang. Beras dan komoditas penting lain tetap masuk dalam pengawasan agar harga di pasar tidak ikut melambung.

Dari sawah sampai distribusi tetap dijaga

Selain mengawal harga di pasar, Pemprov Jatim juga memantau sisi hulu melalui Dinas Pertanian. Fokus utamanya ada pada masa tanam padi supaya produksi dan stok beras di Jawa Timur tetap aman.

Langkah ini dipandang penting karena upaya menjaga inflasi tidak bisa ditanggung pemerintah daerah sendirian. TPID dan Bank Indonesia juga ikut terlibat dalam pengendalian harga dan pasokan.

Di saat yang sama, pemerintah provinsi memberi perhatian pada kelancaran masa tanam agar produksi pertanian tidak terganggu oleh hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah. Pemprov Jatim juga mewaspadai ancaman bencana kekeringan yang berpotensi menambah tekanan pada pasokan.

Emil juga menyinggung aturan yang sempat diberlakukan supaya kendaraan pengangkut logistik tetap memperoleh BBM dengan harga normal di SPBU. Kebijakan seperti ini dinilai perlu agar jalur distribusi tidak ikut menambah beban ketika rupiah sedang tertekan.

Bagi Jawa Timur, pelemahan rupiah akhirnya dibaca sebagai persoalan yang bisa menjalar ke banyak sisi sekaligus. Karena itu, menjaga produksi, distribusi, dan harga pasar menjadi prioritas agar tekanan dari luar tidak berubah menjadi beban harian bagi warga.

Source: surabaya.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button