Dari total lebih dari 40 ribu penerima manfaat di lebih dari 140 lokasi, Srikandi Movement milik PLN menunjukkan bahwa program tanggung jawab sosial tidak harus berhenti pada bantuan sesaat. Gerakan ini menyasar pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi, dengan perempuan ditempatkan sebagai penggerak utama di tengah masyarakat.
Pendekatan itu membuat peran Srikandi PLN terasa lebih luas dari sekadar identitas internal perusahaan. Di sejumlah kegiatan, perempuan didorong untuk hadir sebagai agen perubahan yang membawa dampak langsung bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Dorongan bagi ekonomi perempuan
Salah satu pilar yang paling menonjol dari gerakan ini adalah Women Support Women. Program ini dirancang untuk memberi akses, peluang, keterampilan, dan pendampingan usaha agar perempuan bisa mengembangkan kegiatan ekonomi mereka secara lebih mandiri.
Ketua Harian Srikandi PLN Kamia Handayani menyebut program tersebut telah menjangkau 1.296 penerima manfaat dari 36 kelompok. Ia juga menjelaskan bahwa pendekatan yang dipakai tidak berhenti pada bantuan awal, melainkan mendorong perempuan membangun jejaring supaya usaha mereka bisa bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang.
Dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku UMKM asal Manado, Sulawesi Utara, Lanny Juliana Mogot. Lanny menilai program itu bukan hanya memberi bantuan, tetapi juga pengetahuan dan pendampingan yang membantu meningkatkan penghasilan keluarga.
Pendidikan dan perlindungan untuk anak
Selain ekonomi, Srikandi Movement juga menyentuh dunia pendidikan lewat Srikandi Goes to School/Campus. Program ini membawa materi di luar kurikulum formal untuk memperkaya wawasan peserta, dan telah melibatkan 5.102 peserta serta 240 tenaga pendidik di 60 titik lokasi.
Masih di jalur pendidikan, Srikandi Sahabat Anak hadir untuk memperkuat pemenuhan hak dasar anak. Program ini telah menjangkau 16.591 anak dan 301 guru di 83 sekolah serta lembaga pendidikan dengan nilai Social Return on Investment atau SROI sebesar 2,59.
Fokus dari program tersebut adalah memberikan edukasi, pendampingan, dan bantuan kebutuhan dasar agar anak bisa tumbuh dalam lingkungan belajar yang lebih baik. PLN menempatkan aspek ini sebagai bagian penting dari upaya membangun kapasitas sosial sejak dini.
Kesehatan keluarga dan penguatan internal
Gerakan ini juga menyentuh isu kesehatan melalui Srikandi Care. Program tersebut diarahkan untuk mendukung upaya menekan stunting sekaligus meningkatkan kesehatan ibu dan anak, dengan sasaran 7.309 ibu dan 3.249 anak.
Nilai efektivitas investasi sosial dari program itu tercatat sebesar 2,68. Angka ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga punya dampak yang terukur dalam mendukung kualitas hidup keluarga.
Di sisi lain, PLN juga memperkuat kapasitas perempuan di dalam lingkup perusahaan lewat Inspiring Srikandi. Sebanyak 8.400 peserta perempuan telah mengikuti program ini sebagai bagian dari pengembangan kompetensi sumber daya manusia.
Gerakan dengan lima pilar
Seluruh rangkaian tersebut dibangun melalui lima pilar utama, yaitu Srikandi Goes to School/Campus, Srikandi Sahabat Anak, Women Support Women, Srikandi Care, dan Inspiring Srikandi. Setiap pilar disusun untuk menjawab kebutuhan yang berbeda, mulai dari peningkatan kapasitas perempuan, perlindungan anak, hingga kesehatan keluarga.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa Srikandi PLN didorong untuk memberi nilai tambah bagi publik. Ia menyebut kehadiran PLN harus menghadirkan manfaat yang lebih luas, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan, melalui dorongan kemandirian dan peningkatan kualitas hidup.
Dengan jangkauan yang luas dan fokus yang beragam, Srikandi Movement memperlihatkan bahwa perempuan bukan sekadar penerima manfaat, tetapi juga penggerak perubahan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.