Bocoran tentang ponsel supertipis Xiaomi sempat membuat banyak perhatian tertuju ke desainnya yang sangat ramping. Tapi pada akhirnya, proyek yang disebut bergaya iPhone Air itu justru dihentikan Xiaomi sebelum naik ke tahap akhir.
Yang menarik, penghentian ini bukan karena tidak ada persiapan sama sekali. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengungkap bahwa perusahaan sudah menuntaskan perencanaan dan riset awal untuk perangkat tersebut, sehingga proyeknya memang sudah berjalan cukup jauh.
Di titik inilah Xiaomi mengambil langkah mundur. Perusahaan menilai bodi yang terlalu tipis membawa terlalu banyak kompromi untuk penggunaan harian, terutama pada hal-hal yang paling krusial seperti baterai, suhu, dan performa.
Desain tipis tidak selalu sepadan
Bagi Xiaomi, ponsel yang tipis dan ringan memang terlihat menarik. Namun, semakin ramping bodi sebuah ponsel, semakin sulit pula menempatkan baterai besar dan sistem pendingin yang memadai di dalamnya.
Masalah lain muncul pada ruang untuk perangkat keras. Saat bodi dibuat makin tipis, ruang internal ikut menyusut dan produsen harus memilih komponen mana yang harus dikorbankan.
Itu sebabnya Xiaomi menilai proyek ponsel setipis iPhone Air tidak akan memenuhi standar pengalaman pakai yang mereka incar. Perusahaan tampaknya lebih memilih menjaga daya tahan baterai dan stabilitas suhu ketimbang mengejar profil bodi ekstrem.
Bocoran sempat memperlihatkan wujud awal
Sebelum ada penjelasan resmi, bentuk awal perangkat itu lebih dulu beredar di internet. Video yang dibagikan tipster Bald Panda pada Januari 2026 memperlihatkan perangkat yang diklaim sebagai Xiaomi 17 Air.
Dari tampilan yang beredar, desainnya disebut mirip iPhone Air, tetapi memakai dua kamera belakang yang disusun horizontal. Bocoran itu berasal dari cetakan rekayasa awal, jadi lebih merepresentasikan eksplorasi internal ketimbang produk final.
Cetakan tersebut juga menunjukkan bodi yang sangat tipis, dengan ketebalan sekitar 5,5 mm. Angka itu bahkan sedikit lebih tipis dibanding iPhone 17 Air yang disebut memiliki ketebalan sekitar 5,6 mm.
Layar besar ikut menambah tantangan
Selain bodinya yang ramping, perangkat yang bocor itu juga disebut membawa layar besar sekitar 6,59 inci. Kombinasi layar lebar dan bodi tipis jelas membuat tantangan teknis semakin besar.
Semakin besar layar, kebutuhan ruang di dalam ponsel ikut meningkat. Dalam desain seperti ini, ruang untuk baterai, pendinginan, dan komponen utama lain menjadi semakin sempit, sehingga kompromi sulit dihindari.
Karena itu, meski bentuk awalnya sempat terlihat menjanjikan, Xiaomi tampaknya melihat risiko yang terlalu besar jika perangkat tersebut dipaksakan masuk pasar. Keputusan untuk berhenti di tahap itu memperlihatkan bahwa desain menarik belum cukup jika konsekuensinya mengganggu pengalaman pakai.
Berhenti sebelum masuk prototipe
Laporan yang beredar menyebut Xiaomi 17 Air tidak pernah melewati tahap prototipe. Artinya, proyek itu berhenti sebelum berkembang menjadi perangkat komersial yang siap diluncurkan.
Dengan begitu, bocoran yang sempat muncul tidak bisa dianggap sebagai tanda bahwa ponsel itu hampir pasti hadir. Wujud tersebut lebih tepat dipahami sebagai jejak dari eksperimen desain yang akhirnya ditinggalkan.
Langkah Xiaomi ini juga menegaskan arah pilihan perusahaan. Dalam kasus ini, daya tarik bodi supertipis kalah oleh pertimbangan yang lebih mendasar, yaitu baterai, pendinginan, dan performa yang dianggap lebih penting untuk penggunaan sehari-hari.
Source: tekno.kompas.com




