Di Aceh, masalah imunisasi anak kini bukan lagi sekadar soal target layanan kesehatan. Rendahnya cakupan imunisasi membuat campak terus bergerak dan membuka risiko lebih luas bagi anak-anak yang belum terlindungi.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut kasus campak di Aceh sudah mencapai 263 kasus. Menurut dia, kondisi ini terjadi di tengah cakupan imunisasi yang baru berada di angka 33,7%, jauh di bawah realisasi nasional yang sekitar 80,2% pada 2025.
Ancaman dari imunisasi yang rendah tidak berhenti pada campak. Dante menegaskan bahwa anak yang tidak diimunisasi lebih rentan mengalami komplikasi serius, termasuk gangguan yang dapat berkaitan dengan penyakit paru-paru hingga TBC.
Ia juga mengingatkan bahwa campak bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat bila tidak ditangani dengan baik. Dalam penjelasannya, penyakit itu bahkan dapat memicu lumpuh dan kematian, sehingga perlindungan melalui imunisasi menjadi sangat penting.
Masalah serupa terlihat di Banda Aceh
Kondisi di Banda Aceh juga menunjukkan tantangan yang belum ringan. Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal mengatakan cakupan imunisasi di wilayahnya mulai membaik, tetapi masih ada sekitar 63% anak yang berstatus zero dose.
Status zero dose berarti anak belum menerima imunisasi sama sekali. Illiza mengaitkan kondisi itu dengan 119 kasus campak di Banda Aceh, sementara angka tuberculosis di kota tersebut disebut sudah lebih dari 1.600 kasus.
Bagi pemerintah kota, situasi ini menjadi peringatan serius. Rendahnya imunisasi dinilai ikut memengaruhi persebaran penyakit di masyarakat dan membuat kelompok anak lebih mudah terpapar.
Langkah jemput bola mulai disiapkan
Untuk mengejar anak yang belum mendapat imunisasi, pemerintah kota menyiapkan pendekatan yang lebih aktif. Upaya itu mencakup penguatan layanan primer di Puskesmas dan Posyandu, serta pemetaan hingga tingkat gampong agar data anak yang belum diimunisasi bisa lebih akurat.
Pemkot Banda Aceh juga mendorong gerakan jemput bola ke keluarga. Pendekatan ini dipilih karena sebagian orang tua dinilai bukan menolak imunisasi, melainkan belum mendapat informasi yang utuh.
Karena itu, pemerintah setempat ingin memakai cara yang lebih persuasif dan manusiawi. Harapannya, orang tua lebih terbuka membawa anak ke layanan imunisasi tanpa merasa didesak.
Selain menyasar keluarga, Pemkot Banda Aceh juga menyiapkan peningkatan imunisasi di kalangan aparatur sipil negara atau ASN. Kebijakan itu diharapkan ikut membantu menaikkan cakupan imunisasi dan menekan jumlah anak zero dose.
Peran tokoh masyarakat ikut diperluas
Di beberapa daerah lain di Aceh, pesan soal imunisasi juga mulai disebarkan lewat jalur sosial dan keagamaan. Salah satunya lewat surat edaran di sebuah kabupaten agar khutbah Jumat di seluruh masjid memuat pesan tentang imunisasi.
Dante menilai langkah seperti itu penting karena masalah imunisasi tidak bisa dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan. Pemerintah, keluarga, dan tokoh ulama sama-sama memegang peran dalam menekan penyebaran campak di Aceh.
Dengan cakupan imunisasi yang masih rendah, risiko penyakit menular di daerah itu belum mereda. Data dari Aceh dan Banda Aceh memperlihatkan masih banyak anak yang belum terlindungi, sementara campak terus menyebar di tengah masyarakat.
Source: lifestyle.bisnis.com




