Bagi Reed Hastings, arah pendidikan tidak lagi bisa dibaca dengan cara lama. Salah satu pendiri Netflix itu menilai perkembangan kecerdasan buatan membuat jalur yang selama ini dianggap paling aman, yaitu STEM, tidak lagi punya posisi dominan seperti sebelumnya.
Hastings melihat kemampuan teknis yang sangat terstruktur kini semakin mudah ditangani mesin. Di saat yang sama, ia justru menilai bidang yang berhubungan dengan manusia, emosi, dan pemahaman sosial akan kembali punya nilai besar.
Dalam podcast Possible, Hastings mendorong siswa agar tidak terpaku pada satu jalur pendidikan saja. Ia juga menyebut bahwa bila harus membesarkan anak kecil saat ini, perhatian yang lebih besar akan diarahkan pada kemampuan emosional, bukan semata pada pemrograman.
Menurut Hastings, AI berkembang cepat pada pekerjaan yang punya pola jelas dan bisa disusun secara rapi. Karena itu, ia menilai software engineering dan bidang medis berbasis data termasuk area yang berpotensi paling terdampak.
Tugas seperti menulis kode dan mengolah informasi dalam jumlah besar disebut sangat cocok dikerjakan mesin. AI bisa memproses data lebih cepat, mengenali pola, dan bekerja dalam skala yang sulit disaingi manusia.
Ia juga menegaskan bahwa pekerjaan yang terkait biologi dan analisis serupa akan makin tertekan. Hastings bahkan mengatakan, “Hal-hal yang Anda lakukan dengan latar belakang biologi akan dilakukan jauh lebih baik dan lebih cepat oleh AI.”
Humaniora dapat ruang baru
Di tengah kekuatan AI di bidang teknis, Hastings melihat arah yang berbeda untuk humaniora. Ia menyebut sejarah, literatur, pemahaman tentang otak, dan cara manusia berinteraksi sebagai bidang yang bisa kembali menarik perhatian.
Pandangan itu berangkat dari keyakinan bahwa tidak semua nilai bisa digantikan algoritma. Bagi Hastings, seni, hiburan, dan olahraga tetap bertumpu pada pengalaman manusia yang sulit ditiru mesin.
Ia memberi contoh sederhana dengan basket. Menurutnya, penonton tidak akan tertarik menyaksikan pertandingan yang dimainkan robot, karena daya tarik hiburan lahir dari unsur manusia, bukan hanya dari hasil yang efisien.
Karena itu, Hastings menilai kemampuan membaca orang lain, berempati, dan bekerja sama akan menjadi keunggulan penting. Keterampilan seperti ini dianggap lebih sulit digantikan komputer dibanding tugas teknis yang bisa dipetakan dengan jelas.
Ia bahkan mengatakan akan “menggandakan keterampilan emosional” jika memiliki anak berusia tiga tahun saat ini. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya menekankan kemampuan teknis.
STEM tidak otomatis jadi pilihan paling aman
Bagi Hastings, kemajuan AI membuat sebagian bidang STEM kehilangan status sebagai pilihan yang paling aman. Ia memandang teknologi baru ini bergerak sangat cepat di wilayah kerja yang bisa dirinci langkah demi langkah.
Itulah sebabnya ia melihat perubahan minat belajar bukan sekadar soal tren, tetapi juga soal kebutuhan baru di pasar kerja. Jika pekerjaan analitis makin banyak diambil alih mesin, maka manusia perlu memperkuat kemampuan yang tidak mudah disalin algoritma.
Pandangan itu juga membuat fokus pada relasi sosial dan emosional terasa lebih relevan. Di tengah dunia yang makin otomatis, kemampuan untuk memahami situasi, membangun hubungan, dan membaca orang lain menjadi bekal yang tetap dibutuhkan.
Sejalan dengan suara dari dunia AI
Gagasan Hastings tidak berdiri sendiri. Sejumlah tokoh teknologi lain juga menilai latar belakang nonteknis tetap punya tempat penting di era kecerdasan buatan.
Jack Clark, salah satu pendiri Anthropic, mengatakan gelar sastra Inggris yang dimilikinya justru sangat relevan dalam dunia AI. Ia menilai pelajaran sejarah dan cara manusia membangun narasi tentang masa depan memberi bekal penting saat berhadapan dengan teknologi yang kompleks.
Clark juga menyebut tidak akan memilih “rote programming” jika harus menentukan jurusan hari ini. Sementara itu, Daniela Amodei, sesama pendiri Anthropic, menyampaikan pandangan serupa dan mengatakan bahwa ia tidak menyesal mempelajari sastra Inggris.
Menurut Amodei, dalam dunia yang makin cerdas oleh AI, hal-hal yang membuat manusia tetap manusia justru akan semakin penting. Pandangan para eksekutif ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak selalu mempersempit nilai humaniora, melainkan bisa mengangkat kembali bidang yang membahas emosi, budaya, dan relasi sosial.





