Anak Muda Makin Tergoda Aset Spekulatif, Banyak Yang Merasa Tertinggal Secara Finansial

Aset spekulatif makin sering dilihat sebagai jalan cepat untuk mengejar target finansial, terutama oleh orang-orang yang merasa posisi keuangannya tertinggal. Dari kelompok yang sudah masuk atau sedang mempertimbangkan aset berisiko tinggi seperti prediction markets, taruhan olahraga, dan kripto, 73% mengaku terdorong oleh perasaan tertinggal secara finansial.

Dorongan itu muncul di tengah kondisi ekonomi yang masih menekan banyak rumah tangga. Survei menunjukkan 42% warga Amerika masih menyebut inflasi sebagai hambatan terbesar, sementara 48% rumah tangga mengatakan pendapatan mereka tumbuh lebih lambat daripada harga barang dan jasa.

Tekanan biaya hidup membuat jalur cepat terlihat menarik

Survei Northwestern Mutual 2026 Planning & Progress Study memperlihatkan sekitar empat dari 10 warga Amerika kini berinvestasi atau setidaknya mempertimbangkan aset spekulatif. Dari kelompok ini, 39% menyebut alasan utamanya karena percaya cara tersebut bisa mempercepat pencapaian tujuan keuangan.

Data itu menggambarkan bahwa minat terhadap aset spekulatif tidak hanya datang dari harapan meraih untung besar. Banyak orang juga sedang berhadapan dengan rasa terdesak, karena target finansial terasa makin jauh sementara biaya hidup terus naik.

Di situasi seperti ini, aset spekulatif kerap dipandang bukan sekadar pilihan investasi, melainkan semacam pintasan. Masalahnya, pintasan semacam itu juga membawa risiko kerugian yang besar, sehingga keputusan yang lahir dari tekanan justru bisa memperburuk kondisi keuangan.

Anak muda paling mudah tergoda

Kelompok Gen Z dan milenial tercatat paling banyak terlibat dalam aset spekulatif menurut survei tersebut. Pada kelompok yang masuk ke aset berisiko tinggi itu, 80% responden Gen Z mengatakan alasan utama mereka adalah karena merasa tertinggal dalam mencapai tujuan finansial.

Situasi ini terasa kontras karena Gen Z dan milenial sebenarnya masih punya waktu investasi yang lebih panjang dibanding generasi yang lebih tua. Namun, tekanan inflasi dan pendapatan yang tidak mengejar kenaikan biaya hidup membuat sebagian dari mereka lebih tertarik pada hasil cepat daripada proses membangun aset secara bertahap.

Perasaan tertinggal itu juga memperkuat anggapan bahwa menunggu terlalu lama bisa membuat posisi finansial semakin sulit dikejar. Akibatnya, peluang untung dalam waktu singkat terdengar lebih menggoda meski risikonya tinggi.

Kekhawatiran ekonomi ikut memperkuat sikap terburu-buru

Optimisme terhadap kondisi ekonomi ternyata juga belum pulih sepenuhnya. Survei yang sama mencatat 45% warga Amerika memperkirakan ekonomi akan melemah lagi, sementara lebih dari separuh responden menilai inflasi masih akan naik.

Kekhawatiran seperti ini ikut mendorong sebagian orang mencari cara yang dianggap bisa memberi hasil lebih cepat. Dalam suasana penuh ketidakpastian, aset spekulatif tampak menjanjikan karena menawarkan kemungkinan keuntungan besar dalam waktu singkat, walaupun kerugiannya bisa sama cepatnya.

Tekanan psikologis semacam ini penting dicermati karena keputusan keuangan sering kali tidak hanya dipengaruhi angka. Rasa cemas, takut tertinggal, dan keinginan mengejar target secepat mungkin bisa membuat orang lebih mudah mengambil risiko yang sebenarnya sulit ditanggung.

Masih ada kelompok yang memilih disiplin

Di tengah minat pada aset spekulatif, laporan tersebut juga menunjukkan sisi lain dari perilaku keuangan warga Amerika. Sebanyak 53% kini menyebut diri sebagai perencana keuangan yang disiplin, naik dari rekor terendah 45% pada 2024.

Kelompok ini cenderung melakukan hal-hal yang lebih tenang dan terukur, seperti menyusun anggaran, menabung sesuai target kontribusi, melunasi utang secara bertahap, dan membangun perlindungan finansial. Jalur seperti ini memang berjalan lebih lambat, tetapi hasil jangka panjangnya dinilai lebih stabil.

Ada juga tanda bahwa rasa aman finansial mulai membaik. Laporan itu mencatat 50% warga Amerika kini merasa aman secara finansial, naik dari 44% pada 2025.

Meski begitu, belum semua rasa waswas hilang. Sebanyak 52% masih mengaku terlalu fokus pada pertumbuhan aset dan belum cukup berinvestasi pada perlindungan, sehingga kebutuhan akan stabilitas tetap belum sepenuhnya terpenuhi.

Gabungan antara rasa aman yang mulai pulih, tekanan inflasi, dan keinginan mengejar tujuan lebih cepat membantu menjelaskan mengapa aset spekulatif tetap menarik. Bagi banyak orang, tantangannya bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga menyeimbangkan ambisi dengan perlindungan agar kondisi keuangan tidak makin rapuh.

Baca Juga

Back to top button