Awal Zulhijah Jangan Dilewatkan, Tuan Guru Madyan Soroti Zikir Tauhid dan Puasa Arafah

Awal Zulhijah mendapat perhatian khusus dari Tuan Guru Haji Madyan Noor Mar’ie karena ia menilai ada amalan-amalan yang sangat besar nilainya pada masa itu. Dalam tausyiah di Masjid Assa’adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ia mengajak jamaah untuk tidak mengabaikan kesempatan ibadah yang hanya datang pada hari-hari tertentu.

Ia menekankan bahwa awal bulan haji bukan sekadar penanda mendekati Idul Adha. Bagi umat Islam, periode ini disebut sebagai waktu yang penuh dengan amalan utama, mulai dari zikir hingga puasa pada hari-hari tertentu.

Zikir pembuka yang disebut sangat berat timbangannya

Salah satu amalan yang disorot Tuan Guru Madyan adalah zikir pada 1 Zulhijah. Ia menjelaskan bahwa membaca “Laa ilaha illallah” satu kali pada hari pertama disebut lebih berat timbangannya daripada tujuh lapis bumi dan langit.

Pernyataan itu menegaskan besarnya nilai kalimat tauhid dalam pandangan agama. Ia menempatkan zikir ini sebagai amalan awal yang memiliki kedudukan sangat tinggi dan layak dijaga oleh umat Islam.

Puasa pada hari keempat dan kelima ikut disorot

Selain zikir, Tuan Guru Madyan juga menyebut keutamaan puasa pada hari keempat Zulhijah. Menurut penjelasannya, puasa pada hari itu dapat menjauhkan seseorang dari sifat munafik dan dari rasa kefakiran.

Ia juga mengaitkan penjelasan tersebut dengan hadits Rasulullah Muhammad SAW. Dalam pemaparannya, orang munafik diibaratkan sebagai kerak neraka, sehingga pesan yang dibawa menjadi pengingat agar kualitas iman tetap dijaga.

Pada hari kelima Zulhijah, ia menyebut ada keutamaan lain bagi orang yang berpuasa. Ia menjelaskan bahwa pelakunya disebut dibebaskan dari azab neraka dan kelak berada di surga bersama auli Allah.

Puasa Arafah diminta jangan dilewatkan

Di antara seluruh amalan yang ia sampaikan, puasa Arafah pada 9 Zulhijah mendapat perhatian khusus. Tuan Guru Madyan meminta kaum Muslim, terutama jamaah Masjid Assa’adah, agar tidak melewatkan amalan tersebut.

Pesan itu menunjukkan bahwa puncak perhatian pada awal Zulhijah tidak berhenti pada dua atau tiga hari pertama saja. Menurutnya, 9 Zulhijah tetap menjadi momen penting yang patut dijaga oleh umat Islam.

Latar belakang ulama yang menyampaikan tausyiah

Tuan Guru Madyan dikenal sebagai ulama asal Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Ia juga lama menimba ilmu agama di Mekkah-Madinah, Arab Saudi, dan merupakan alumnus Universitas Islam Madinah.

Riwayat kiprahnya juga mencatat dirinya pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Qari dan Qariah DKI Jakarta. Dalam garis keluarga, ia merupakan keponakan almarhum KH Idham Chalid, mantan Wakil Perdana Menteri pada masa Presiden Soekarno.

Melalui tausyiah itu, Tuan Guru Madyan menempatkan awal Zulhijah sebagai masa ibadah yang padat makna. Zikir, puasa, dan puasa Arafah ia dorong sebagai amalan yang bernilai besar dan tidak seharusnya dilewatkan begitu saja.

Source: kalsel.antaranews.com

Baca Juga

Back to top button