Program Bayar Angsuranmu dengan Sampahmu mulai menunjukkan bahwa sampah rumah tangga bisa punya nilai yang langsung terasa di dompet. Dalam skema BTN ini, sampah anorganik tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga dikonversi menjadi nilai ekonomi yang masuk ke rekening BTN untuk membantu pembayaran angsuran rumah.
Perluasan program ke 8 provinsi dan 15 kota menjadi sinyal bahwa cara bayar rumah dengan sampah tidak lagi sekadar uji coba kecil. BTN mendorong model ini lewat ekosistem bank sampah, dengan harapan kebiasaan dari rumah bisa sekaligus membantu pengelolaan sampah dan mengurangi emisi.
Sampah rumah tangga masuk ke skema pembiayaan
Langkah terbaru BTN dijalankan bersama Bank Sampah Muria Berseri Kudus. Melalui kerja sama itu, warga bisa menyetor sampah anorganik, lalu hasilnya dihitung menjadi nilai ekonomi yang masuk ke rekening BTN.
BTN menempatkan pendekatan ini sebagai kebiasaan baru yang bisa dimulai dari rumah. Bank ingin membuat aktivitas yang sederhana menjadi bermanfaat ganda, baik untuk nasabah maupun untuk lingkungan.
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menegaskan bahwa perubahan perilaku bisa dimulai dari rumah. Ia menyebut kolaborasi dengan komunitas bank sampah lokal sebagai cara agar masyarakat merasakan manfaat finansial sambil ikut menjaga lingkungan.
“BTN percaya pengurangan emisi bisa dimulai dari rumah. Melalui kolaborasi dengan komunitas bank sampah lokal, kami ingin masyarakat merasakan bahwa setor sampah di BTN menjadi lebih cuan sekaligus ikut menjaga lingkungan,” ujar Setiyo saat kunjungan ke Bank Sampah Muria Berseri Kudus.
Jenis sampah yang bisa disetor
Program ini menerima sampah anorganik yang umum ditemui di rumah. Jenis yang bisa disetorkan meliputi plastik, kardus, aluminium, besi, dan kaca.
Setelah disetor, sampah tersebut diubah menjadi nilai ekonomi. Mekanisme ini membuat nasabah memperoleh manfaat finansial sambil ikut mengurangi beban sampah rumah tangga.
BTN juga melihat model ini sebagai cara untuk mendekatkan layanan pembiayaan dengan aktivitas harian masyarakat. Dalam skema itu, bank sampah diposisikan sebagai bagian dari ekosistem layanan yang lebih luas.
Masalah sampah rumah tangga masih besar
BTN menyoroti bahwa persoalan sampah rumah tangga di Indonesia masih tinggi. Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, rumah tangga menyumbang sekitar 46,3% dari total produksi sampah nasional atau setara 34,1 juta ton per tahun.
Dari jumlah itu, baru 31,3% atau sekitar 10,7 juta ton yang berhasil dikelola. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat pengelolaan sampah dari level rumah tangga.
Karena itu, program ini tidak hanya diarahkan untuk membantu pembayaran angsuran. BTN juga menempatkannya sebagai bagian dari upaya mendorong pengurangan emisi yang bisa dimulai dari rumah.
Capaian awal dan rencana perluasan
Hingga Maret 2026, program Bayar Angsuranmu dengan Sampahmu sudah mengumpulkan lebih dari 1.261 kilogram sampah. Capaian itu berasal dari 21 klaster perumahan yang telah terlibat.
Jumlah tersebut menjadi dasar BTN untuk memperluas program ke wilayah yang lebih luas. Bank pelat merah itu menyebut ekspansi akan dilakukan ke 8 provinsi dan 15 kota di Indonesia.
Direktur Commercial Banking BTN Hermita mengatakan program ini juga mempererat hubungan BTN dengan masyarakat. Ia menilai BTN ingin hadir bukan hanya saat nasabah membeli rumah, tetapi juga saat mereka membentuk kebiasaan baru yang bernilai ekonomi.
“BTN ingin hadir tidak hanya saat masyarakat membeli rumah, tetapi juga mendukung kebiasaan baru yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Hermita.
Dengan perluasan itu, BTN berharap angsuran rumah bisa dipandang dari sudut yang berbeda. Kewajiban pembayaran kini dihubungkan dengan perilaku ramah lingkungan yang dapat dilakukan dari rumah dan memberi dampak ekonomi langsung.
Source: www.viva.co.id




