Di Beijing, pertemuan Vladimir Putin dan Xi Jinping bukan cuma soal hubungan dua negara. Momen itu juga dipakai untuk mengirim pesan bahwa Rusia dan China masih ingin tampil satu barisan saat berhadapan dengan dominasi Amerika Serikat.
Pesan tersebut terlihat sejak awal dari kemasan acara KTT China-Rusia. Karpet merah dan penampilan band militer yang memainkan lagu kebangsaan kedua negara memberi kesan bahwa Beijing ingin menunjukkan kedekatan yang solid di depan publik.
Dalam pernyataan bersama, Moskwa dan Beijing sama-sama menyoroti langkah Washington yang dinilai memperuncing ketegangan strategis. Keduanya mengecam rencana Presiden AS Donald Trump membangun sistem pertahanan “Golden Dome” senilai US$ 175 miliar.
Sistem itu disebut akan menciptakan lapangan rudal baru di kawasan Midwest, AS. Bagi Rusia dan China, proyek tersebut dipandang sebagai bagian dari agenda pertahanan yang justru menambah panas persaingan global.
Isu pengendalian senjata ikut mengemuka
Putin dan Xi juga menyinggung berakhirnya perjanjian pengendalian senjata terakhir antara AS dan Rusia. Kesepakatan itu gagal diperpanjang pada Februari lalu, dan Rusia sempat mengajukan proposal perpanjangan selama satu tahun.
Namun, Washington tidak memberi tanggapan atas usulan tersebut. Situasi ini membuat pengendalian senjata tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Rusia-AS, sekaligus memperkuat alasan mengapa Beijing memilih berdiri sejajar dengan Moskwa.
Di forum yang sama, Putin menegaskan bahwa kerja sama ekonomi kedua negara masih berjalan positif meski ada tekanan dari luar. Ia menyebut interaksi dan hubungan ekonomi Rusia-China tetap menunjukkan momentum kuat.
Xi Jinping memberi nada yang mirip. Ia mengatakan China dan Rusia masih mampu menjaga kepercayaan politik serta koordinasi strategis meskipun menghadapi berbagai tekanan.
Pesan yang melampaui hubungan bilateral
Pertemuan di Beijing juga tidak berhenti pada isu Rusia dan China semata. Xi ikut menyinggung konflik antara AS-Israel dan Iran, lalu menyerukan agar eskalasi segera dihentikan.
Ia menilai gencatan senjata komprehensif sangat mendesak, dan melanjutkan permusuhan bukan pilihan yang baik. Xi juga menekankan bahwa menjaga negosiasi tetap penting di tengah situasi itu.
Nuansa ini memperlihatkan bahwa China ingin tampil sebagai pihak yang mendorong de-eskalasi. Pada saat yang sama, Beijing tetap menjaga kedekatan dengan Moskwa melalui panggung diplomatik yang terbuka.
Kunjungan Putin ke Beijing juga menarik perhatian karena berlangsung hanya beberapa hari setelah kunjungan Trump ke Beijing untuk KTT AS-China. Urutan itu menambah kesan bahwa Beijing sedang menjaga keseimbangan hubungan dengan dua kekuatan besar.
Sinyal soal tatanan global
Dalam pernyataan bersama, Rusia dan China turut memperingatkan bahaya fragmentasi komunitas internasional. Mereka juga menilai ada risiko kembalinya pola “hukum rimba” dalam hubungan geopolitik jika negara-negara bertindak sepihak.
Keduanya menyebut upaya sejumlah negara untuk mengatur urusan global secara sepihak telah gagal. Mereka juga menolak pendekatan yang memaksakan kepentingan pada dunia sambil membatasi pembangunan kedaulatan negara lain dengan semangat era kolonial.
Dari panggung Beijing, pesan yang muncul cukup jelas. Rusia dan China ingin menunjukkan bahwa tata kelola global tidak boleh dikuasai satu pihak, dan mereka masih berusaha menyatukan sikap saat menghadapi tekanan strategis dari Washington.
Source: www.beritasatu.com




