Gelombang kecaman terhadap Itamar Ben Gvir kembali menguat setelah ia mengunggah video yang memperlihatkan puluhan aktivis armada bantuan ke Jalur Gaza dalam posisi berlutut, tangan terikat, dan dahi menempel ke tanah. Rekaman itu langsung memantik tekanan baru terhadap sosok yang memang sudah lama dikenal sebagai salah satu figur paling keras dalam politik Israel.
Respons dari luar negeri pun cepat muncul. Italia dan Spanyol mendesak Uni Eropa agar menjatuhkan sanksi terhadap Ben Gvir, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ikut menegurnya. Namun, alih-alih menunjukkan penyesalan, Ben Gvir justru menyebut gambar-gambar tersebut sebagai sumber kebanggaan besar.
Sikap seperti itu membuat posisinya di pemerintahan Israel makin menonjol. Sebagai Menteri Keamanan Nasional, Ben Gvir tidak sekadar duduk di kabinet, tetapi juga berada di pusat pengambilan arah kebijakan yang berkaitan langsung dengan konflik Israel dan Palestina.
Kekuatan politik Ben Gvir tidak lahir dari jalur moderat. Ia masuk Knesset pada 2021 sebagai ketua partai Jewish Power, lalu naik menjadi menteri setahun kemudian setelah beraliansi dengan partai Zionisme Religius yang dipimpin Bezalel Smotrich.
Dari sana, pengaruhnya semakin terasa, terutama dalam garis kebijakan yang keras terhadap Palestina. Ia konsisten mendorong pendekatan yang memperkuat kendali Israel atas wilayah pendudukan, termasuk dari wilayah permukiman radikal di Tepi Barat yang diduduki tempat ia tinggal bersama keluarganya.
Latar politik Ben Gvir memang lama dikaitkan dengan gagasan aneksasi Tepi Barat dan dukungan terhadap pemindahan paksa penduduk Arab ke negara tetangga. Ia juga dikenal sebagai ayah dari enam anak, dan dari lingkungan tempat tinggalnya yang berada di wilayah yang dihuni sekitar tiga juta warga Palestina, ia terus membawa ideologi ekstrem ke dalam ruang pemerintahan.
Reputasinya sebagai tokoh provokatif tidak datang tiba-tiba. Ia pernah merayakan pengesahan undang-undang hukuman mati bagi warga Palestina dengan sebotol sampanye, dan pada momen lain merayakan ulang tahun dengan kue berhias simbol tiang gantungan.
Ia juga kerap tampil di lokasi yang sangat sensitif secara politik dan keagamaan. Di kompleks Al-Aqsa, yang oleh umat Yahudi disebut Temple Mount, ia beberapa kali bersuara keras dan meneriakkan slogan “Hidup rakyat Israel!”.
Bagi banyak pengamat, tindakan-tindakan itu memperbesar ketegangan yang sudah ada. Ia dinilai memanfaatkan jabatan untuk menekan kepolisian dan memperkeras konflik di titik-titik yang rawan.
Nada keras itu semakin tajam setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza pecah. Ben Gvir mendorong warga sipil untuk dipersenjatai, menyerukan emigrasi penduduk Gaza, dan mengusulkan pembangunan kembali permukiman Israel di wilayah kantong itu.
Pernyataan kerasnya juga muncul dalam kasus lain. Pada November lalu, ia menyatakan dukungan penuh kepada pasukan Israel yang menembak mati dua warga Palestina dari jarak dekat setelah mereka menyerah di Jenin, Tepi Barat.
Di platform X, Ben Gvir menulis, “Teroris harus mati!”. Ucapan itu kembali mempertegas citranya sebagai politisi yang memilih bahasa ekstrem di tengah konflik yang sudah sangat sensitif.
Jejak ideologinya sendiri punya akar panjang. Retorikanya banyak dikaitkan dengan pengaruh rabi ekstremis Meir Kahane, dan ia pernah mendukung gerakan Kach yang kemudian dilarang di Israel.
Larangan itu tak lepas dari aksi Baruch Goldstein, simpatisan Kach yang membunuh 29 jemaah Palestina di sebuah masjid di Hebron pada 1994. Ben Gvir pernah memajang potret Goldstein di ruang tamunya sebelum menurunkannya ketika mulai masuk ke politik arus utama.
Riwayat hukumnya juga panjang. Saat muda, ia didakwa lebih dari 50 kali atas tuduhan penghasutan kekerasan atau ujaran kebencian, lalu mengklaim bebas dari 46 dakwaan dan mempelajari hukum untuk membela dirinya sendiri.
Kepada AFP pada 2022, Ben Gvir mengatakan dirinya telah berubah, meski tidak sepenuhnya meninggalkan pandangan lama. Ia juga mengakui pernah ingin mengusir semua orang Arab tanpa meminta maaf atas ucapannya itu.
Di tengah jabatan tinggi, ideologi keras, dan gaya politik yang kerap memancing respons, Ben Gvir tetap menjadi figur yang sulit diabaikan. Di saat banyak tokoh memilih menahan tensi, ia justru terus menjadikan konfrontasi sebagai bagian dari identitas politiknya.
Source: mediaindonesia.com




