Habib Beye dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman saat Marseille bersiap meladeni OGC Nice di Stadion Vélodrome. Bukan hanya laga derby yang menuntut konsentrasi penuh, Marseille juga datang dengan daftar pemain absen yang membuat opsi tim menipis tajam.
Kondisi itu langsung mengubah cara Marseille menyusun laga. Total tujuh pemain inti tidak tersedia, dan Hamed Junior Traoré bahkan mendadak jatuh sakit tepat sebelum pertandingan sehingga Beye harus menata ulang rencana dalam waktu singkat.
Krisis di hampir semua lini
Masalah Marseille tidak berhenti pada satu atau dua posisi. Aguerd, Kondogbia, Gouiri, dan Paixao masih menjalani pemulihan di ruang medis, sehingga staf pelatih kehilangan sejumlah nama penting dari belakang hingga depan.
Absennya para pemain tersebut membuat Marseille bukan hanya kehilangan kualitas, tetapi juga kehilangan pilihan rotasi. Dalam laga dengan tensi setinggi derby, situasi seperti ini jelas menyulitkan tim untuk menjaga konsistensi permainan sepanjang pertandingan.
Beye pun harus bertumpu pada pemain yang masih fit agar struktur tim tetap berjalan. Di tengah skuad yang tambal sulam, beberapa pemain utama memikul beban lebih besar dari biasanya untuk menjaga daya saing Marseille.
Tumpuan ada pada nama-nama andalan
Pierre-Emerick Aubameyang dan Mason Greenwood menjadi dua sosok yang diharapkan bisa memberi pengaruh paling besar. Keduanya dituntut mengangkat performa tim ketika Marseille tidak leluasa meracik susunan ideal.
Dengan pilihan yang terbatas, Marseille akhirnya menyiapkan komposisi yang lebih banyak bertumpu pada ketersediaan pemain daripada kenyamanan taktik. Situasi ini memaksa Beye mengambil keputusan cepat agar tim tetap punya bentuk permainan yang layak saat menghadapi Nice.
Nama-nama seperti Lago, Lamare, dan Mmadi juga ikut masuk untuk menutup lubang yang ditinggalkan para pemain inti. Kehadiran mereka memberi tenaga tambahan di saat Marseille benar-benar membutuhkan kedalaman skuad yang lebih kuat.
Susunan darurat yang dipasang Beye
Keterbatasan itu terlihat jelas dari komposisi yang disiapkan Marseille. Rulli dipercaya di bawah mistar, lalu Pavard, Balerdi, dan Medina mengisi lini belakang, sementara Weah, Timber, Højbjerg, Vermeeren, Nnadi, dan Emerson menopang area tengah sebelum Aubameyang berada di lini depan.
Susunan tersebut memperlihatkan betapa sempitnya ruang gerak Marseille menjelang laga penting ini. Tanpa banyak alternatif, Beye harus menyusun tim yang bisa menjaga keseimbangan dasar sambil tetap mencoba tampil kompetitif di kandang sendiri.
Nice datang dengan modal yang lebih stabil
Di sisi lain, Nice membawa suasana yang lebih tenang ke Vélodrome. Mereka baru saja memastikan tiket ke final Coupe de France setelah menaklukkan Strasbourg, hasil yang tentu memberi dorongan moral sebelum kembali bertanding di laga tandang.
Namun, Nice tidak datang hanya untuk menikmati hasil itu. Les Aiglons masih membutuhkan poin tambahan untuk menjauh dari tekanan zona degradasi yang dihuni Auxerre, sehingga pertandingan ini tetap punya arti besar bagi mereka di liga.
Komposisi yang mereka turunkan juga menunjukkan kondisi yang lebih siap. Nice menurunkan Diouf; Mendy, Bah, Oppong; Clauss, Abdul Samed, Boudaoui, Sanson, Bard; Cho, dan Wahi.
Derby dengan tekanan dari arah berbeda
Derby Côte d’Azur kali ini mempertemukan dua tim dengan kebutuhan yang sama-sama mendesak, tetapi berasal dari situasi yang berbeda. Marseille mengejar posisi papan atas, sedangkan Nice berusaha mengamankan jarak dari ancaman papan bawah.
Karena itu, laga ini tidak hanya ditentukan oleh rivalitas regional, tetapi juga oleh kemampuan masing-masing tim membaca tekanan. Marseille harus menjaga agar badai cedera tidak merusak ambisi mereka, sementara Nice melihat peluang dari kondisi tuan rumah yang sedang tidak berada dalam keadaan terbaik.
Di Vélodrome, Marseille bertarung dengan skuad darurat demi menjaga target musim tetap hidup. Nice, yang datang dengan kondisi lebih stabil, mencoba memanfaatkan momen ketika lawan tidak bisa tampil dengan kekuatan penuh.





