Pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa (28/4/2026) menunjukkan pasar masih sulit menemukan tenaga baru. Indeks akhirnya ditutup melemah 0,48 persen ke posisi 7.072 setelah sempat bergerak di rentang 7.032 hingga 7.151 sepanjang sesi.
Tekanan tersebut muncul di tengah suasana pasar yang masih dihantui ketidakpastian konflik global. Di saat yang sama, saham-saham berkapitalisasi besar kembali menjadi penarik utama yang membawa indeks turun lebih dalam.
Big caps paling besar menekan indeks
Beban terbesar terhadap IHSG datang dari deretan saham unggulan yang punya kapitalisasi besar. Amman Mineral Internasional (AMMN) mencatat kontribusi negatif paling besar dengan andil minus 8,39 poin.
Di belakangnya, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menekan indeks 7,08 poin, sementara Chandra Asri Pacific (TPIA) menyumbang tekanan 4,15 poin. Astra International (ASII) ikut memberi beban 4 poin, disusul Bayan Resources (BYAN) sebesar 3,99 poin dan Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) sebesar 3,07 poin.
Tekanan juga datang dari Pacific Strategic Financial (APIC), Merdeka Gold Resources (EMAS), Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), dan Alamtri Resources Indonesia (ADRO). Dari saham-saham yang disebut, AMMN terkoreksi 5 persen dan BYAN melemah 2,14 persen.
Pelemahan tidak hanya terkonsentrasi di satu sektor
Data Bursa Efek Indonesia memperlihatkan transaksi harian mencapai Rp17,51 triliun dengan volume 31,94 miliar saham. Di tengah pergerakan itu, jumlah saham yang melemah mencapai 350, sedikit lebih banyak dibanding 339 saham yang menguat.
Ketimpangan tersebut membuat tekanan pasar terasa cukup merata. Kondisi ini juga tercermin dari pergerakan sektoral yang ikut tertekan, sehingga ruang penguatan IHSG menjadi lebih sempit meski sebagian saham masih bertahan di zona hijau.
Sektor konsumen primer menjadi yang paling lemah dengan koreksi 1,61 persen. Barang baku menyusul turun 1,48 persen, sedangkan infrastruktur melemah 0,83 persen.
Sentimen domestik belum cukup membantu
Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG terjadi saat pasar dalam negeri belum memiliki katalis positif baru yang kuat. Dari sisi teknikal, indikator Stochastic RSI disebut sudah masuk area jenuh jual atau oversold.
Dalam risetnya, Phintraco memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak sideways di kisaran 7.000–7.200. Arah tersebut menunjukkan pelaku pasar cenderung menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.
Pasar regional ikut menahan laju
Di luar negeri, kondisi bursa Asia juga belum memberi dukungan berarti. Pergerakan yang cenderung merah membuat sentimen kehati-hatian tetap dominan di pasar.
Phillip Sekuritas Indonesia menyoroti kenaikan harga minyak mentah 3 persen di tengah kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait penutupan Selat Hormuz. Dalam risetnya, Phillip menyebut Presiden AS Donald Trump belum puas dengan proposal terbaru Iran untuk penyelesaian perang yang telah berlangsung dua bulan.
Situasi itu kembali menekan harapan pasar terhadap meredanya konflik. Amerika Serikat tetap mendorong pembahasan program nuklir Iran sejak awal, sementara Iran ingin isu tersebut dibicarakan setelah konflik fisik berakhir.
Perbedaan sikap itu membuat investor tetap berhati-hati, apalagi ketika harga energi bergerak naik dan selera risiko di pasar regional ikut melemah. Dalam kondisi seperti ini, arah IHSG masih sangat ditentukan oleh pergerakan saham-saham besar serta perkembangan sentimen global yang belum stabil.





