Gerakan untuk memperbaiki pendidikan tidak lagi berhenti di ruang diskusi. Di Ganara Art FX Sudirman, Jakarta, berbagai komunitas berkumpul dalam forum Gerakan Pendidikan Kembali ke Akar dan membawa gagasan perubahan yang ingin langsung menyentuh kondisi sekolah.
Dorongan itu terasa kuat karena forum ini mengumpulkan lebih dari 350 peserta dari latar yang sangat beragam. Ada pelajar, mahasiswa, pendidik, pegiat komunitas, akademisi, kreator muda, sampai masyarakat umum yang sama-sama memandang pendidikan sebagai urusan bersama.
Kolaborasi lintas komunitas jadi titik tekan
Dalam forum tersebut, Gekrafs, Sekolah Tanah Air, Bepro, Cemas.co, dan Distrik Berisik hadir dalam satu agenda bersama. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perbaikan pendidikan mulai dipahami sebagai kerja kolektif, bukan pekerjaan satu lembaga saja.
Sejumlah narasumber dari sektor pendidikan, teknologi, kebudayaan, dan komunitas juga ikut memperkaya pembahasan. Nama-nama seperti M. Andy Zaky dari Orbit Edutech, Galih Sulistyaningra dari Smartick Indonesia, Nada Aprianita sebagai kreator dan guru sejarah, Reza Erfit dari Rumus Muda, serta perwakilan kementerian dan pendidik lain memberi sudut pandang yang lebih luas.
Masalah sekolah dibahas dari akar persoalannya
Sesi awal bertajuk Peta Pendidikan Indonesia membuka pembicaraan tentang problem yang masih membayangi sekolah-sekolah. Ketimpangan akses pendidikan, kualitas pembelajaran, kesenjangan fasilitas sekolah, dan tantangan menjaga relevansi sistem pendidikan menjadi isu utama yang disorot.
Pembahasan itu menempatkan sekolah sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Kondisi sekolah, kapasitas guru, dan akses belajar yang belum merata dilihat sebagai persoalan yang saling memengaruhi, sehingga solusi juga harus berjalan bersamaan.
Gerakan Benerin 1000 Sekolah resmi diluncurkan
Puncak forum ditandai dengan peluncuran Segmen STA: Gerakan Benerin 1000 Sekolah. Program ini diarahkan untuk mendorong perubahan nyata di lingkungan sekolah lewat penguatan fasilitas belajar, literasi, kapasitas pendidik, dan budaya belajar yang lebih sehat.
Founder Sekolah Tanah Air, Rian Fahardhi, menekankan bahwa perubahan pendidikan tidak cukup berhenti di forum diskusi. Ia menempatkan gerakan ini sebagai upaya kolektif agar perbaikan benar-benar sampai ke sekolah-sekolah di kota besar maupun wilayah pelosok.
Arah gerakan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pembenahan sekolah harus menyentuh kebutuhan paling dasar. Dengan begitu, dampaknya diharapkan bisa terasa langsung bagi murid dan guru.
Anak muda didorong ikut bergerak
Ketua Umum Bepro, Luthfi Dipa, melihat antusiasme peserta sebagai tanda meningkatnya kesadaran publik terhadap isu pendidikan. Ia juga menegaskan bahwa anak muda perlu tampil sebagai penggerak, bukan hanya penonton, dalam upaya pembenahan pendidikan.
Melalui program sosial BeCare, Bepro berencana mengaktifkan jaringan relawan di 20 provinsi untuk mengawal Gerakan Benerin 1000 Sekolah sampai ke tingkat akar rumput. Jaringan itu membentang dari Aceh hingga Papua Barat, sejalan dengan posisi Bepro sebagai penghubung aspirasi anak muda lintas daerah.
Gerakan ini juga dikaitkan dengan tujuan menuju Indonesia Emas 2045, dengan pendidikan merata sebagai fondasi utamanya. Di titik ini, forum tersebut memperlihatkan pergeseran yang cukup jelas: pembenahan pendidikan mulai bergerak dari wacana menuju aksi yang lebih terukur.
Source: www.medcom.id