NPCI Kota Bandung memilih memperketat pintu klasifikasi menjelang Peparda VII Jawa Barat 2026. Langkah ini diambil untuk mencegah atlet non-disabilitas masuk ke ajang yang seharusnya menjadi ruang kompetisi bagi atlet disabilitas.
Ketua Umum NPCI Kota Bandung, Yadi Sofyan, menilai celah itu paling rawan muncul pada klasifikasi low vision. Menurut dia, kategori B2 dan B3 menjadi titik paling sensitif karena kondisi fisik atlet tidak selalu mudah dibaca dari luar.
Fokus pengawasan ada di klasifikasi
Sebagai tuan rumah, NPCI Kota Bandung tidak ingin proses seleksi berjalan longgar. Yadi menyebut pengawasan harus dimulai sejak tahap klasifikasi supaya tidak ada ruang untuk manipulasi.
NPCI Kota Bandung juga akan memperkuat koordinasi dengan NPCI Jawa Barat. Selain memberi masukan strategis, tim klasifikasi internal akan diterjunkan langsung untuk ikut mengawasi proses di lapangan.
Yadi mengingatkan bahwa dugaan manipulasi klasifikasi pernah muncul pada Peparda sebelumnya. Karena itu, ia meminta pengawasan kali ini dibuat jauh lebih disiplin.
Low vision dianggap paling rentan
Sorotan utama Yadi tertuju pada disabilitas netra, terutama low vision. Ia menilai masalah di kategori ini lebih sulit dikenali hanya dari tampilan luar, sehingga rawan dimanfaatkan pihak yang tidak berhak.
Cabang catur juga masuk daftar perhatian karena dinilai memiliki peluang disalahgunakan dalam proses klasifikasi. Pada cabang seperti ini, verifikasi administratif dan medis menjadi kunci untuk menjaga keadilan kompetisi.
Untuk menutup celah tersebut, NPCI Kota Bandung akan mewajibkan surat verifikasi resmi bagi atlet di klasifikasi low vision. Dokumen itu minimal harus berasal dari rumah sakit mata dengan standar klasifikasi internasional, seperti JEC Kedoya di Jakarta.
Yadi juga menegaskan bahwa atlet disabilitas yang sah semestinya punya rekam medis valid dan riwayat pendidikan formal yang jelas. Jejak yang terang, termasuk dari Sekolah Luar Biasa, dianggap penting dalam proses verifikasi.
Menurut dia, atlet yang muncul tanpa riwayat yang jelas tidak semestinya lolos klasifikasi. Sikap itu dipasang untuk menjaga hak atlet disabilitas sekaligus mempertahankan integritas pertandingan.
Waktu pelaksanaan mulai mengerucut
Di tengah penguatan pengawasan, jadwal Peparda VII Jawa Barat 2026 juga mulai mendekati kepastian. Berdasarkan rapat terakhir bersama Pengurus Besar, ajang itu diproyeksikan berlangsung pada pertengahan November atau akhir November 2026.
NPCI Kota Bandung berencana kembali bertemu PB dalam waktu dekat. Pertemuan itu akan dipakai untuk memfinalisasi struktur kepengurusan sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan di Kota Bandung.
Bandung menyambut, tapi waktu persiapan sempit
Peparda VII awalnya direncanakan digelar di Kabupaten Indramayu, lalu dialihkan ke Kota Bandung. Yadi menjelaskan Kota Bandung sebenarnya sudah mengajukan diri bersama Indramayu pada akhir 2024 hingga awal 2025, sebelum penetapan awal jatuh ke Indramayu.
Perubahan terjadi setelah kesiapan Indramayu dinilai belum memadai. Hak penyelenggaraan resmi kemudian dialihkan ke Kota Bandung pada Februari lalu, sehingga waktu persiapan menjadi lebih sempit dari kondisi ideal.
Yadi menilai penunjukan tuan rumah seharusnya dilakukan dua tahun sebelumnya. Menurut dia, keputusan lebih awal akan membuat perencanaan anggaran dan infrastruktur lebih matang sejak awal.
Karena penetapan datang di tahun berjalan, pendanaan Peparda VII tidak bisa masuk APBD murni. Anggaran harus melalui Anggaran Biaya Tambahan, dan proses administrasinya butuh waktu.
Meski begitu, NPCI Kota Bandung dan Pemerintah Kota Bandung menyatakan tetap berkomitmen menyukseskan Peparda VII pada 2026. Yadi menegaskan kerja keras dan sinergi menjadi modal utama agar ajang itu berjalan sesuai harapan.
Source: pelitajabar.com




