Ekspor Tertekan Dan Biaya Energi Naik, Suryopratomo Mulai Pimpin Gajah Tunggal

Pergantian pucuk pimpinan PT Gajah Tunggal Tbk datang saat perusahaan harus menjaga langkah di dua medan sekaligus. Di satu sisi, pasar domestik masih menjadi penopang yang solid, tetapi di sisi lain ekspor perusahaan masih terdampak dinamika geopolitik dan geoekonomi.

Suryopratomo kini resmi memimpin produsen ban terbesar di Asia Tenggara itu setelah penunjukannya ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Movenpick Hotel, Jakarta. Ia juga membenarkan kabar tersebut saat dihubungi pada Sabtu petang dan menjawab singkat bahwa dirinya memang menjabat posisi Presiden Direktur.

Di tengah perubahan kepemimpinan itu, manajemen tetap menaruh perhatian besar pada tekanan biaya. Kenaikan harga energi menjadi salah satu tantangan utama yang sedang dimitigasi agar tidak mengganggu kinerja keuangan maupun operasional perusahaan.

Bagi industri manufaktur ban, energi bukan sekadar komponen biaya biasa. Posisi energi sangat penting karena langsung memengaruhi efisiensi produksi, sehingga setiap kenaikan harga dapat mempersempit ruang gerak perusahaan saat pasar belum sepenuhnya stabil.

Meski begitu, perusahaan menilai kondisi operasional masih terkendali. Realisasi kinerja hingga kuartal I 2026 disebut masih berada di jalur aman dan sesuai target, sehingga perusahaan belum melihat adanya penyimpangan besar dari rencana kerja.

Dari sisi pasar, Suryopratomo menilai bisnis dalam negeri masih berjalan baik pada tahun lalu. Penopang dari pasar domestik ini menjadi penting ketika ekspor belum sepenuhnya pulih dari gangguan faktor luar negeri.

Masalah ekspor sendiri tidak berdiri di ruang kosong. Dinamika geopolitik dan geoekonomi masih memengaruhi pasar luar negeri, membuat perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan risiko yang datang dari luar Indonesia.

Situasi itu membuat tugas Suryopratomo tidak sederhana. Ia masuk ke Gajah Tunggal dengan kondisi pasar yang dinamis, sementara perusahaan dituntut tetap menjaga stabilitas margin di tengah tekanan biaya operasional yang terus bergerak.

Suryopratomo membawa bekal panjang sebelum masuk ke industri ban. Namanya sudah lama dikenal di dunia media dan diplomasi, dengan rekam jejak di ruang redaksi, manajemen, dan hubungan internasional.

Ia merupakan lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor dan memulai karier di Harian Kompas. Di perusahaan itu, ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi pada 2000 sampai 2008, lalu menjabat Wakil CEO Kompas Gramedia Group pada 2005 hingga 2008.

Kariernya kemudian berlanjut ke Metro TV sebagai Direktur Pemberitaan pada 2008 hingga 2016. Setelah itu, ia dipercaya sebagai Direktur Utama pada 2017 hingga 2019, lalu bergabung dengan Board of Executive Media Group pada Januari hingga September 2020 sebelum masuk jalur diplomasi.

Perjalanan itu membawanya ke jabatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Singapura pada September 2020 hingga Desember 2025. Dengan latar belakang tersebut, ia kini menghadapi tantangan baru di Gajah Tunggal yang harus bergerak hati-hati di tengah tekanan ekspor dan biaya energi yang tidak ringan.

Baca Juga

Back to top button