Empat Kediaman Kerajaan di Amalienborg, Alun-Alun Simetris yang Menyimpan Pusat Monarki Denmark

Di tengah Kopenhagen, Amalienborg sering menarik perhatian bukan hanya karena tampilannya yang megah, tetapi juga karena cara kompleks ini bekerja sebagai ruang kerajaan yang masih aktif. Dari luar, kawasan ini terlihat seperti satu kesatuan bangunan yang rapi, padahal sebenarnya ada empat kediaman berbeda yang mengitari alun-alun segi delapan di pusatnya.

Keunikan itu membuat Amalienborg punya dua wajah sekaligus: ruang tinggal keluarga kerajaan dan tempat yang tetap bisa diamati publik dari luar. Di satu sisi, kompleks ini menyimpan tradisi monarki Denmark yang masih berjalan; di sisi lain, pengunjung juga bisa menemukan jejak sejarah, upacara resmi, dan museum dalam satu kawasan yang sama.

Empat istana, satu alun-alun

Susunan Amalienborg menjadi alasan utama kompleks ini mudah dikenali. Empat bangunan bergaya Rococo berdiri simetris menghadap pusat alun-alun, sehingga keseluruhan kawasan tampak sangat teratur dan serasi.

Walau bentuk luarnya mirip, fungsi tiap bangunan tidak sama. Istana Christian VII berada di barat daya dan dipakai untuk menerima tamu resmi negara, sementara Istana Christian VIII di barat laut berfungsi sebagai museum dan menjadi satu-satunya bagian yang terbuka untuk umum.

Di sisi timur laut, Istana Frederick VIII digunakan sebagai tempat tinggal resmi Putra Mahkota. Sementara itu, Istana Christian IX di tenggara menjadi kediaman kepala negara Denmark saat ini.

Dari istana hiburan menjadi pusat kerajaan

Nama Amalienborg berasal dari Sophie Amalie, istri Raja Frederick III, yang dulu memiliki istana hiburan di area ini. Bangunan tersebut kemudian terbakar habis pada 1689, dan kawasan itu sempat berubah menjadi taman sebelum dipilih lagi sebagai lokasi kompleks istana.

Raja Frederick V lalu mendorong pembangunan kawasan yang lebih megah untuk menandai 300 tahun kekuasaan dinasti keluarganya. Namun, dana yang terbatas membuat rencana awal tidak berjalan seperti istana pada umumnya.

Lahan itu akhirnya diberikan kepada empat bangsawan terkemuka dengan syarat mereka membangun istana yang serupa. Arsitek Nicolai Eigtved kemudian merancang empat bangunan yang tampil sejalan satu sama lain dan menghadap ke pusat lapangan, sehingga identitas Amalienborg terbentuk seperti yang dikenal sekarang.

Patung berkuda yang jadi pusat perhatian

Di tengah alun-alun Amalienborg berdiri patung berkuda Raja Frederick V. Patung perunggu karya pemahat Prancis Jacques Saly ini menjadi titik fokus kawasan dan menambah kesan monumental di ruang terbuka tersebut.

Saly dipilih setelah pemerintah Denmark ikut mencari seniman terbaik untuk proyek itu. Proses pengerjaannya berlangsung lama karena sang pemahat mempelajari anatomi kuda secara rinci dari kandang kerajaan, lalu membuat sketsa dan model kecil sebelum cetakan perunggu akhirnya selesai pada 1768.

Biaya pembuatannya disebut sangat besar untuk ukuran masa itu, sehingga monumen ini kerap dianggap sebagai salah satu karya paling mewah pada zamannya. Sosok raja digambarkan dengan busana klasik, mahkota karangan bunga, dan tongkat di tangan, memberi kesan tenang sekaligus berwibawa.

Perubahan penjaga yang selalu menarik perhatian

Amalienborg juga dikenal lewat tradisi pergantian penjaga yang rutin menyedot perhatian pengunjung. Pasukan Pengawal Kerajaan Denmark, Den Kongelige Livgarde, sudah berdiri sejak 1658 dan bertugas melindungi keluarga raja sekaligus menjalankan fungsi militer.

Setiap hari pukul 11.27, pasukan ini berparade dari barak menuju istana melewati jalan-jalan utama Kopenhagen. Mereka tiba di alun-alun sebelum pukul 12.00 dan menjalankan upacara pergantian penjaga dengan iringan musik orkestra kerajaan.

Tingkat upacaranya bisa berubah sesuai dengan kehadiran anggota keluarga kerajaan di istana. Jika raja berada di kediamannya, status Penjaga Raja berlaku sebagai bentuk penjagaan tertinggi, lengkap dengan musik dan penyerahan bendera simbol komando.

Bendera yang menunjukkan siapa sedang berada di istana

Kehadiran keluarga kerajaan di Amalienborg juga bisa dibaca dari bendera yang dikibarkan. Saat Raja Frederick X resmi memegang takhta, Bendera Kerajaan dinaikkan di Istana Frederick VIII, sedangkan bendera di kediaman Ratu Margrethe diganti menjadi Bendera Wangsa Kerajaan.

Tradisi itu menjadi penanda visual yang bisa dilihat masyarakat dari luar kompleks. Bendera-bendera khusus yang disebut Dannebrog memiliki lambang berbeda di bagian tengah sesuai dengan siapa yang berada di dalam bangunan atau menjalankan tugas kenegaraan.

Simbol serupa juga dipakai pada kendaraan resmi kerajaan saat acara formal. Lambang yang dipasang bisa menampilkan mahkota, pedang, atau rantai penghargaan kerajaan, sehingga fungsinya tetap kuat dalam kehidupan istana modern.

Meski sebagian besar area Amalienborg bersifat pribadi dan akses publik terbatas, Museum Amalienborg di Istana Christian VIII tetap memberi kesempatan untuk melihat interior kamar-kamar yang pernah dipakai raja dan ratu terdahulu. Dari sana, sejarah monarki Denmark bisa dipahami lebih dekat tanpa mengganggu peran utama kompleks ini sebagai kediaman resmi keluarga kerajaan.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button