Dewa United datang ke laga pamungkas dengan modal ambisi besar, tetapi justru Bali United yang lebih dulu memberi pukulan di Stadion International Banten, Serang. Situasi itu membuat pertandingan yang semula diproyeksikan berjalan sesuai rencana tuan rumah berubah cepat menjadi duel yang menuntut respons instan.
Bali United tidak tampil setengah hati dalam laga ini. Seusai menang telak 4-1 atas Bhayangkara Presisi Lampung FC, kepercayaan diri mereka terlihat dari susunan pemain yang diturunkan sejak menit awal.
Mike Hauptmeijer berdiri di bawah mistar, dengan Kadek Arel, Joao Ferari, Ricky Fajrin, dan Teppei Yachida mengisi lini belakang. Di sektor lain, Bali United juga menurunkan Made Tito, Kadek Agung, Thijmen Goppel, Rahmat Arjuna, Boris Kopitovic, dan Irfan Jaya.
Komposisi itu menunjukkan Bali United memang datang untuk bermain terbuka, bukan sekadar menunggu. Mereka membawa kekuatan utama untuk menutup musim dengan hasil yang positif di markas lawan.
Di sisi lain, Dewa United juga menurunkan skuad terbaiknya. Sonny Stevens dipercaya menjaga gawang, sementara Damion Lowe, Nick Kuipers, dan Edo Febriansyah mengawal pertahanan.
Lini tengah dan depan tuan rumah juga diisi nama-nama utama seperti Jonathan, Ricky Kambuaya, Ivan Jenner, Alexis Messidoro, Noah Sadaoui, Alex Martins, dan Stefano Lilipaly. Kehadiran mereka menegaskan betapa pentingnya laga ini bagi Dewa United.
Posisi Dewa United yang masih berada di peringkat keenam membuat kemenangan menjadi target yang wajib dikejar. Mereka butuh tiga poin untuk menjaga peluang menembus empat besar klasemen akhir.
Namun, rencana itu diganggu oleh Kadek Agung pada menit ke-40. Gelandang Bali United tersebut mencetak gol yang membuat tuan rumah tertinggal dan langsung mengubah arah pertandingan.
Gol itu menjadi pembeda di tengah laga yang sejak awal sudah tinggi tensinya. Bali United mendapat keuntungan psikologis, sementara Dewa United dipaksa mengejar ketertinggalan di kandang sendiri saat pertandingan mulai memasuki fase penting.
Bagi Bali United, gol Kadek Agung menjadi bukti bahwa mereka mampu memanfaatkan peluang dengan efektif. Dalam duel seperti ini, satu momen bisa mengubah alur permainan dan memaksa lawan keluar dari skenario yang sudah disiapkan.
Kepentingan kedua tim memang berbeda, tetapi sama-sama besar. Bali United ingin menutup musim dengan hasil yang kuat, sedangkan Dewa United membutuhkan kemenangan untuk menjaga ambisi mereka di papan atas klasemen akhir.
Pertandingan ini pun sejak awal terasa berat bagi kedua kubu karena sama-sama menurunkan pemain inti. Dewa United mengandalkan kekuatan serangan, sementara Bali United menjawabnya dengan permainan disiplin dan ancaman yang nyata dari depan.
Gol Kadek Agung akhirnya membuat laga pamungkas itu berjalan di luar dugaan tuan rumah. Bali United pulang dengan kejutan besar, sementara Dewa United harus menerima kenyataan bahwa target poin penuh mereka terganggu di hadapan pendukung sendiri.





