Pasar mobil listrik Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari keraguan, tetapi BYD justru melihat ruang tumbuh yang masih sangat besar. Di tengah kekhawatiran soal infrastruktur pengisian daya, produsen asal China itu sudah mengklaim penjualan 90.000 unit dan penguasaan sekitar 40 persen pangsa pasar EV di Tanah Air.
Angka tersebut membuat BYD semakin yakin bahwa Indonesia bukan sekadar pasar percobaan. Perusahaan menilai lonjakan ini ikut menunjukkan perubahan besar dalam minat konsumen terhadap kendaraan listrik, terutama setelah tren elektrifikasi menguat tajam sejak 2023.
Vice President BYD Co., Ltd sekaligus General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division, Liu Xueliang, menyebut seluruh kendaraan BYD yang beroperasi di Indonesia telah mencapai 90.000 unit. Ia memandang capaian itu bukan hanya hitungan penjualan, melainkan juga mewakili 90.000 keluarga yang ikut mendukung industri hijau.
BYD juga mencatat pertumbuhan penjualan tahunan atau year on year sebesar 53 persen untuk periode 2024 hingga 2026. Data itu menjadi salah satu alasan perusahaan makin percaya diri membaca arah pasar kendaraan listrik di Indonesia.
Pasar EV masih berkembang cepat
Keyakinan BYD muncul di tengah pasar yang memang sedang bergerak naik. Sebelum lonjakan besar pada 2023, pangsa pasar kendaraan listrik di Indonesia disebut masih berada di bawah 1 persen.
Itu berarti ruang pertumbuhannya masih lebar. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan penjualan BYD terlihat sejalan dengan meningkatnya penetrasi kendaraan listrik di pasar domestik.
Namun, pertumbuhan tersebut belum berarti semua hambatan sudah hilang. Masalah utama justru masih terasa di sisi ekosistem pendukung, terutama ketersediaan charging station.
Kekhawatiran soal pengisian daya belum hilang
Liu mengatakan sebagian konsumen di daerah masih ragu karena belum yakin dengan akses pengisian daya. Kekhawatiran ini terutama terasa di luar Pulau Jawa, tempat infrastruktur EV belum sepadat wilayah lain.
Ia mencontohkan konsumen di Makassar yang tertarik pada teknologi BYD, tetapi tetap berhati-hati karena akses pengisian daya belum sepenuhnya meyakinkan. Situasi itu menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada produk yang dijual.
Bagi BYD, kesiapan ekosistem sama pentingnya dengan daya tarik mobilnya. Selama jaringan pengisian daya belum merata, sebagian calon pembeli masih akan menimbang ulang keputusan mereka.
Lini produk dibuat lebih lengkap
Untuk menjawab pasar yang makin beragam, BYD kini menawarkan jajaran produk yang lebih luas di Indonesia. Portofolionya mencakup mobil listrik di berbagai segmen, mulai dari city car, SUV, hingga MPV mewah.
Langkah itu memperlihatkan strategi BYD yang tidak hanya mengejar volume penjualan. Perusahaan juga ingin memberi lebih banyak pilihan bagi konsumen dengan kebutuhan yang berbeda-beda di pasar EV yang semakin padat.
Di saat yang sama, perluasan produk ini juga memperkuat posisi BYD sebagai pemain yang aktif membentuk pasar, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan pilihan yang lebih lengkap, perusahaan berharap bisa menjangkau kelompok pembeli yang lebih luas.
DM jadi opsi tambahan untuk konsumen
Selain mobil listrik murni, BYD juga membawa teknologi DM ke Indonesia. Model pertama yang hadir dengan teknologi tersebut adalah M6 DM Cross.
Teknologi DM itu disebut sudah dikembangkan selama lebih dari dua dekade. Arah penggunaannya ditujukan untuk konsumen yang masih mempertimbangkan jarak tempuh dan fleksibilitas pemakaian harian.
Kehadiran opsi ini terasa relevan dengan kondisi pasar Indonesia saat ini. Minat terhadap kendaraan listrik terus naik, tetapi sebagian calon pembeli masih menahan diri karena faktor infrastruktur belum merata.
Dengan penjualan 90.000 unit, klaim pangsa pasar sekitar 40 persen, dan lini produk yang makin lebar, BYD melihat dirinya berada di posisi yang kuat untuk terus bertahan di Indonesia. Meski begitu, laju pertumbuhan perusahaan tetap akan sangat bergantung pada seberapa cepat ekosistem kendaraan listrik nasional bisa mengejar kebutuhan pasar.
Source: voi.id




