Jetour T1 hadir bukan cuma sebagai SUV kompak berwajah kotak, tetapi juga sebagai model yang mencoba menjangkau dua tipe pembeli sekaligus. Satu sisi disiapkan untuk mereka yang masih nyaman dengan mesin bensin turbo biasa, sementara sisi lain membawa varian PHEV i-DM yang lebih agresif untuk menantang ramai pasar SUV petualang.
Di Indonesia, Jetour memosisikan T1 sebagai Urban Adventure SUV. Arah ini ditujukan untuk konsumen sub-urban yang aktif, butuh mobil tangguh untuk dipakai harian, tetapi tetap enak diajak bepergian jauh.
Dua mesin, dua karakter
Pilihan paling sederhana datang lewat varian ICE. Versi ini memakai mesin bensin 1,5 liter turbo dengan tenaga 170 PS dan torsi 270 Nm, lalu disalurkan ke roda depan melalui transmisi otomatis dual-clutch 7-percepatan atau 7DCT.
Di atasnya ada T1 i-DM yang memakai pendekatan plug-in hybrid. Varian ini mengandalkan mesin bensin ACTECO 1.5 TGDI generasi kelima berkapasitas 1,5 liter turbo, yang menghasilkan 136 PS dan torsi 220 Nm.
Mesin tersebut dipadukan dengan motor listrik berperforma tinggi. Motor itu menyumbang tambahan tenaga 204 PS dan torsi instan 310 Nm, sehingga karakter akselerasinya dibuat lebih kuat dan responsif.
Jetour menyebut kombinasi itu punya efisiensi termal hingga 44,5 persen. Angka tersebut diklaim sebagai salah satu yang tertinggi di kelas SUV hibrida saat ini.
Pengaturan tenaga diatur otomatis
Untuk mengelola aliran tenaga, Jetour memasang Dedicated Hybrid Transmission atau DHT. Sistem ini bekerja otomatis saat menentukan kapan mobil bergerak memakai motor listrik, kapan mesin bensin mengambil alih, dan kapan keduanya bekerja bersama.
Transisinya diklaim halus, sehingga mobil tetap terasa nyaman saat dipakai dalam kondisi harian maupun perjalanan lebih jauh. Pola kerja seperti ini menjadi salah satu pembeda utama T1 i-DM dibanding versi bensin biasa.
Baterai dibuat siap dipakai harian
Pada varian PHEV, Jetour T1 i-DM menggunakan baterai Lithium Ferro Phosphate atau LFP. Jenis baterai ini dikenal stabil dan lebih tahan terhadap risiko panas berlebih, sehingga cocok untuk kebutuhan harian maupun perjalanan jarak jauh.
Jetour juga memberi sertifikasi IP68 pada baterai tersebut. Artinya, komponen ini punya ketahanan tinggi terhadap debu dan air, termasuk saat mobil melewati genangan yang cukup dalam.
Soal pengisian daya, T1 i-DM mendukung DC Fast Charging dan AC Slow Charging. Dari 30 persen ke 80 persen, pengisian cepat diklaim butuh sekitar 27 menit, sedangkan pengisian AC dari 30 persen ke 100 persen memerlukan sekitar 180 menit.
Harga dibikin berlapis
Jetour menempatkan T1 dengan struktur harga yang cukup jelas antara mesin bensin murni dan plug-in hybrid. Harga on the road yang diumumkan adalah Rp499,5 juta untuk T1 gasoline dan Rp599 juta untuk T1 i-DM.
Ada juga potongan harga Rp20 juta untuk 1.000 konsumen pertama. Skema ini membuat posisi T1 terlihat kompetitif di kelas SUV petualang, sekaligus memberi ruang bagi calon pembeli untuk memilih sesuai kebutuhan dan preferensi teknologi.
Punya modal global sebelum masuk Indonesia
Sebelum masuk pasar Indonesia, Jetour T1 sudah lebih dulu mencatat penjualan global 169.831 unit dalam 19 bulan sejak debut dunianya. Model ini juga meraih Red Dot Design Award 2024 dan menyandang predikat 2026 Recommended SUV of the Year di pasar otomotif Chile.
Dari sisi tampilan, T1 membawa desain boxy yang tegas. Karakter visual itu memperkuat kesan petualang, tetapi tetap selaras dengan kebutuhan mobilitas modern di wilayah urban dan sub-urban.
Source: www.zigwheels.co.id




