Kelelahan Digital Makin Terasa, Vinyl dan iPod Lama Jadi Tempat Berlindung dari AI

Banyak orang mulai melirik kembali teknologi lawas karena dunia digital terasa makin melelahkan. Di tengah derasnya notifikasi, konten sintetis, dan dorongan untuk selalu terhubung, perangkat yang lebih sederhana justru terasa lebih menenangkan.

Perubahan ini tidak cuma soal selera nostalgia. Bagi sebagian pengguna, kebosanan itu muncul karena internet dan perangkat modern dianggap terlalu agresif dalam memonetisasi perhatian, sehingga pengalaman online terasa penuh gangguan hampir tanpa jeda.

Teknologi yang terasa terlalu ramai

Perangkat utama kini sering diminta selalu tersambung. Dari sana muncul notifikasi, ajakan berinteraksi, dan gangguan yang terus datang tanpa henti.

Di saat yang sama, generative AI ikut mendorong produksi konten demi engagement. Kondisi itu membuat orang semakin sering berhadapan dengan karya seni palsu dan informasi yang sengaja dibengkokkan untuk memancing reaksi.

Akibatnya, batas antara yang nyata dan yang palsu makin sulit dibedakan. Bagi sebagian orang, situasi ini membuat teknologi modern tidak lagi terasa netral, melainkan ikut aktif mendorong ketergantungan dan kebisingan.

Alasan 80-an kembali menarik

Di tengah kejenuhan itu, era 80-an dipandang sebagai ruang pelarian yang lebih tenang. Masa tersebut dianggap mewakili periode ketika teknologi belum serumit sekarang dan belum membanjiri hidup dengan begitu banyak gangguan.

Nostalgia yang muncul juga bukan sekadar soal gaya lama yang kembali populer. Yang dicari banyak orang adalah pengalaman yang lebih nyata, lebih sederhana, dan punya jejak digital lebih kecil.

Karena itu, muncul minat pada perangkat dan media yang tidak selalu tersambung ke jaringan. Pilihan seperti ini dipandang sebagai cara untuk mengurangi kebisingan digital yang terus bertambah.

Vinyl dan iPod kembali dicari

Salah satu simbol paling jelas dari pergeseran ini adalah kebangkitan vinyl. Album vinyl disebut mengalami penggunaan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena banyak pengguna ingin media fisik yang bebas iklan dan tidak bergantung pada internet.

Barang lama lain juga ikut naik pamor. Model asli iPod kembali dicari, dan pencarian perangkat itu meningkat di platform seperti eBay.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna tidak benar-benar menolak teknologi. Mereka hanya ingin versi yang lebih tenang, lebih sederhana, dan tidak terus menuntut perhatian.

AI ikut mengubah rasa percaya

Kekhawatiran terhadap generative AI tidak berhenti pada banjir konten palsu. Semakin canggih sistemnya, semakin sulit pula bagi orang untuk membedakan mana yang dibuat mesin, mana yang nyata, dan bahkan siapa yang benar-benar manusia.

Pada awal kemunculannya, AI memang masih mudah dikenali dari hasil yang kikuk. Namun sekarang persoalannya justru lebih serius karena kemampuan sistem makin baik dalam menipu persepsi pengguna.

Di titik ini, sebagian orang mulai melihat dorongan untuk “disconnect” sebagai kebutuhan yang masuk akal. Bagi mereka, menjauh sejenak dari jaringan memberi ruang yang lebih tenang, lebih manusiawi, dan lebih mudah dipahami.

Jejak pandemi masih terasa

Rasa lelah terhadap dunia digital juga tidak lepas dari pengalaman masa pandemi COVID-19. Saat interaksi daring menjadi satu-satunya bentuk kontak bagi banyak orang, kebiasaan itu meninggalkan jejak psikologis yang masih terasa sampai sekarang.

Karena itu, keinginan untuk hidup lebih analog tidak selalu dipahami sebagai tren sesaat. Bagi sebagian pengguna, ini adalah respons terhadap dunia digital yang terasa makin padat, makin bising, dan makin sulit dihindari.

Pergeseran seperti ini kerap muncul setiap kali teknologi masuk fase perubahan besar. Dengan AI yang kini hadir di hampir semua sektor teknologi, dorongan untuk mencari hidup yang lebih sederhana tampaknya belum akan cepat reda.

Baca Juga

Back to top button