Ada pola yang berulang dalam banyak tragedi kereta api: saat satu pengaman gagal, dampaknya bisa menjalar cepat dan mematikan. Dari kebakaran di gerbong penuh sesak sampai tabrakan di terowongan, sejarah mencatat bahwa kereta yang seharusnya menjadi transportasi massal justru bisa berubah menjadi lokasi bencana besar.
Beberapa nama tragedi bahkan masih dikenang karena jumlah korbannya yang luar biasa. Di Sri Lanka, tsunami menerjang kereta Samudradevi yang menuju Galle dan menewaskan sekitar 1.700 orang, menjadikannya kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah.
Ledakan dan kebakaran juga menjadi bagian kelam dari daftar ini. Di Rusia, dua kereta penumpang meledak dekat Ufa setelah gas mudah terbakar dari pipa bocor menyapu jalur rel, menewaskan 575 orang dan melukai 800 lainnya.
Italia mengalami tragedi Balvano ketika kereta barang yang membawa sekitar 650 penumpang berhenti di terowongan sempit. Lebih dari 530 penumpang mati lemas akibat karbon monoksida dari mesin yang masih menyala.
Mesir pun punya catatan serupa saat kereta penuh sesak terbakar di tengah perjalanan Idul Adha. Api menyebar cepat ke tujuh gerbong dan menewaskan 370 penumpang sebelum kereta berhasil dihentikan.
Kereta yang jatuh, tergelincir, dan tak lagi terkendali
Tidak semua tragedi datang dari api atau ledakan. Sejumlah kecelakaan paling fatal justru bermula dari rel yang tak lagi mampu menahan laju kereta, seperti di Guadalajara, Meksiko, saat kereta yang membawa keluarga tentara Carranza melaju tak terkendali di lereng curam.
Sekitar 600 dari 900 penumpang tewas seketika dalam insiden itu, dan hanya enam orang dilaporkan selamat tanpa cedera. Nasib serupa juga dialami kereta pengungsi di Ciurea, Rumania, yang terlalu penuh saat berangkat ke Iasi dan diduga memuat hingga 5.000 orang.
Kereta itu menabrak truk tangki bahan bakar lalu meledak, dengan perkiraan korban jiwa mencapai 1.000 orang. Di Ethiopia, kereta dari Dire Dawa ke Addis Ababa tergelincir dari jembatan setinggi lebih dari 12 meter dan menewaskan antara 392 hingga 559 orang menurut berbagai laporan.
Tragedi yang melibatkan tabrakan dan kesalahan jalur
Ada pula kecelakaan yang dipicu benturan langsung antarkereta. Di Spanyol, tragedi Torre del Bierzo terjadi saat tiga kereta bertabrakan di dalam terowongan, dan beberapa perkiraan menempatkan jumlah korban di kisaran 500 hingga 800 orang meski pemerintah saat itu menyebut angka di bawah 100.
Di Tennessee, tabrakan frontal di Dutchman’s Curve menewaskan lebih dari 100 orang ketika dua kereta penumpang berakhir di jalur yang sama dan melaju berlawanan arah tanpa koordinasi yang aman. New York City mengalami Malbone Street saat masinis muda dan tak berpengalaman membawa 650 penumpang melewati tikungan terlalu tajam, yang kemudian menewaskan hampir 100 orang.
Kedua kasus itu sama-sama memperlihatkan bahwa masalah di jalur, sinyal, dan kendali masinis bisa berujung fatal. Di Prancis, tragedi Saint-Michel-de-Maurienne menambah daftar serupa ketika lebih dari 1.000 tentara yang pulang dari Italia menaiki kereta dengan beban jauh di atas batas aman.
Kereta itu kehilangan kendali, tergelincir, lalu terbakar, dan laporan menyebut 543 orang tewas. Dari sisi lain Eropa, Italia, Spanyol, dan Prancis menunjukkan bahwa kepadatan, beban berlebih, dan kendali yang gagal bisa sama mematikannya dengan ledakan.
Indonesia juga punya catatan pahit
Di Indonesia, tragedi lama di Singgalang Kariang, dekat Padang Panjang, Sumatera Barat, menewaskan 200 penumpang dan melukai sekitar 250 orang. Peristiwa pada 22 Desember 1944 itu menjadi salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan yang pernah tercatat di Tanah Air.
Catatan Indonesia kembali muncul dalam daftar kecelakaan paling mematikan di dunia, berdampingan dengan tragedi besar dari berbagai negara. Bekasi Timur kemudian menjadi pengingat baru bahwa keselamatan rel tetap rapuh, karena satu insiden bisa langsung mengubah perjalanan biasa menjadi bencana.
Sejarah panjang tragedi kereta api ini memperlihatkan pola yang sulit diabaikan. Saat pengawasan, koordinasi, atau keselamatan gagal, kereta yang membawa ratusan orang bisa berubah menjadi sumber duka yang meninggalkan jejak panjang selama puluhan tahun.
Source: www.idntimes.com




