Panel Surya Raksasa Cikarang Mulai Menopang Pabrik 24 Jam, Emisi Turun Drastis

Pabrik yang beroperasi tanpa jeda kini semakin dekat dengan sumber listrik yang lebih bersih. Di Kompleks Mulia Industri, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, PLTS Atap berkapasitas 22,5 megawatt peak atau MWp resmi mulai beroperasi dan langsung menjadi yang terbesar di Indonesia untuk sektor komersial dan industri.

Proyek ini hadir melalui kerja sama PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya bersama PT Xurya Daya Indonesia atau Xurya. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kebutuhan listrik besar di pabrik 24 jam tetap bisa dipenuhi dengan energi surya dalam skala yang sangat besar.

Skala instalasi yang langsung mencuri perhatian

PLTS Atap tersebut dipasang di area seluas 122.783 meter persegi dengan total 36.862 panel surya. Luas ini disebut setara sekitar 17 kali lapangan sepak bola Gelora Bung Karno, sehingga proyek ini masuk jajaran instalasi atap industri yang sangat besar.

Dengan kapasitas 22,5 MWp, sistem ini diperkirakan mampu menghasilkan rata-rata 68.500 kilowatt hour atau kWh listrik per hari. Energi itu akan menopang kebutuhan fasilitas produksi yang berjalan tujuh hari seminggu tanpa jeda.

Di tengah industri manufaktur yang sangat bergantung pada kontinuitas pasokan energi, proyek seperti ini menjadi penanda bahwa pemanfaatan energi surya tidak lagi terbatas pada fasilitas kecil. PLTS Atap berskala besar justru bisa masuk ke jantung operasional pabrik yang beroperasi terus-menerus.

Alasan proyek ini dianggap penting bagi industri

Direktur PT Mulia Industrindo Tbk, Ekman Tjandranegara, menilai proyek ini sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan operasi perusahaan. Menurut dia, ketersediaan energi yang stabil menjadi kebutuhan utama bagi industri manufaktur yang tidak boleh terganggu ritme produksinya.

Ekman juga menegaskan bahwa proyek ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjalankan agenda keberlanjutan. Ia menyebut kapasitas 22,5 MW sebagai bukti pemanfaatan energi surya skala besar di sektor industri.

Dari sisi operasional, kehadiran PLTS Atap ini tidak berdiri sebagai proyek terpisah dari proses produksi. Justru instalasi tersebut dirancang agar kebutuhan energi pabrik yang berjalan 24 jam tetap bisa terbantu tanpa mengganggu alur kerja yang sudah ada.

Dampak lingkungan yang ditargetkan

Selain mendukung pasokan listrik, proyek ini juga menargetkan pengurangan emisi yang signifikan. Instalasi tersebut diperkirakan mampu menekan lebih dari 26,8 juta kilogram emisi karbon dioksida atau CO2 setiap tahun.

Angka itu disebut setara dengan kemampuan 198.258 pohon dalam menyerap karbon. Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara hingga 20.000 kilogram per tahun.

Dari sisi transisi energi, pemanfaatan panel surya berskala besar di sektor manufaktur memberi pesan bahwa industri berat pun bisa ikut bergerak menuju sistem energi yang lebih bersih. Proyek di Cikarang ini menjadi salah satu contoh yang paling terlihat dari arah perubahan tersebut.

Kolaborasi lintas sektor yang mendukung transisi energi

Vice President Pengelolaan Penjualan PT PLN (Persero) Yondri Zulfadli menyebut proyek ini sebagai bukti kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat transisi energi nasional. Ia mengaitkannya dengan target net zero emission pada 2060 yang menjadi arah kebijakan energi Indonesia.

Menurut Yondri, sektor industri punya peran besar karena menjadi salah satu pengguna energi terbesar. Karena itu, pemanfaatan PLTS Atap dinilai bisa menjadi langkah konkret untuk mendorong industri yang lebih hijau, kompetitif, dan berkelanjutan.

Eka Himawan, Direktur Manajemen Xurya, juga melihat proyek ini sebagai langkah maju dalam penerapan energi bersih skala besar di fasilitas produksi. Ia menilai keberhasilan instalasi tersebut menunjukkan bahwa industri yang beroperasi nonstop tetap bisa memanfaatkan listrik surya secara efektif.

Eka menambahkan bahwa proyek ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak, termasuk pemerintah, Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta PT PLN (Persero). Dukungan itu penting agar energi terbarukan bisa masuk ke sistem industri modern dengan lebih mulus.

Hingga Maret 2026, PLN tercatat telah melayani 11.840 pelanggan PLTS Atap dengan total kapasitas modul terpasang 861,14 MWp dan kapasitas inverter 768,3 MW. Data itu memperlihatkan bahwa penggunaan PLTS Atap terus berkembang, sementara proyek di Cikarang menjadi salah satu penanda paling besar dalam penerapan energi surya di kawasan industri.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button