Pasar Cina Dibuka Tanpa Tarif Untuk Afrika, Kenya Langsung Siap Menangkap Peluang Ekspor

Bagi banyak pelaku usaha Afrika, pintu masuk ke pasar Cina kini terasa lebih terbuka, tetapi tantangannya belum ikut menghilang. Kebijakan nol tarif yang mulai berlaku sejak awal Mei memberi peluang baru untuk ekspor, terutama bagi negara yang sudah punya basis produksi dan jalur dagang yang lebih siap.

Langkah itu langsung terlihat dari pengiriman pertama alpukat asal Kenya. Namun di saat yang sama, hubungan dagang kedua kawasan masih sangat timpang karena nilai impor Afrika dari Cina jauh lebih besar daripada ekspornya ke sana.

Total perdagangan barang Cina dan Afrika pada 2025 mencapai rekor 348 miliar dolar AS. Dari angka itu, ekspor Afrika ke Cina bernilai 123 miliar dolar AS dan masih didominasi minyak serta mineral, sedangkan impor Afrika dari Cina mencapai 225 miliar dolar AS.

Selisih tersebut membuat defisit perdagangan Afrika melebar menjadi 102 miliar dolar AS, naik dari 62 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Di tengah kondisi itu, penghapusan tarif impor dinilai bisa memberi ruang bagi Afrika untuk menambah porsi produk yang masuk ke pasar Cina.

Bagi Kenya, kebijakan ini terasa sangat konkret di sektor pertanian. Olivé Gichuri, petani kopi asal Kenya, melihat akses pasar yang lebih luas bisa membuat pendapatan petani naik karena produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar yang lebih besar.

Ia juga menilai petani tidak lagi harus bergantung pada pasar lokal saja. Dengan akses yang lebih terbuka, Gichuri melihat peluang bisnis kopi yang lebih luas jika hubungan dagang dengan Cina terus berjalan.

Kenya memang termasuk negara yang paling cepat merespons peluang baru ini. Sebanyak 98,2 persen akses pasar bebas bea sudah diperoleh melalui Early Harvest Agreement, sehingga negara itu punya pijakan yang cukup kuat untuk mendorong ekspor.

Dengan standar pertanian dan jaringan ekspor yang sudah terbentuk, Kenya dinilai punya peluang untuk meningkatkan pengiriman teh, kopi, dan buah segar. Frederik Gathuma, petani Kenya, juga melihat populasi dan tingkat konsumsi Cina sebagai peluang besar bagi bisnis kopi.

Menurut Gathuma, dampaknya tidak berhenti di eksportir. Ia menilai pekerja di industri kopi juga bisa ikut merasakan manfaat jika volume perdagangan meningkat.

Meski begitu, Kenya belum bisa lepas dari ketergantungan pada barang impor dari Cina. Data UN COMTRADE menunjukkan impor Kenya dari Cina mencapai 4,31 miliar dolar AS pada 2024.

Dari sudut pandang yang lebih luas, kebijakan nol tarif ini dianggap lebih menguntungkan negara Afrika berpendapatan menengah. Lauren Johnston, peneliti senior sekaligus ekonom internasional di AustCina Institute di Melbourne, menilai negara yang ekonominya lebih kuat memang lebih siap menaikkan ekspor.

Ia menyebut Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, Etiopia, dan Mesir berada dalam posisi yang lebih baik dibanding negara berpenghasilan rendah. Johnston juga melihat skema ini dapat mendorong perdagangan intra-Afrika, selama negara-negara itu mampu membangun jalur industrialisasi yang tepat.

Masalahnya, tidak semua negara punya modal yang sama. Adu Owusu Sarkodie, ekonom dan dosen senior Universitas Ghana, menyoroti bahwa harga ekspor Afrika masih rendah karena banyak negara belum menambah nilai pada komoditas mereka.

Ghana sendiri mencatat rekor perdagangan 14,1 miliar dolar AS dengan Cina pada 2025 melalui kakao. Sarkodie menilai nilai tambah penting agar ekspor bisa memberi harga lebih tinggi, menaikkan pendapatan, dan membantu menekan kemiskinan.

Di luar masalah produksi, hambatan logistik juga masih besar. Mali dan Niger, misalnya, menghadapi biaya pengiriman yang tinggi untuk mencapai pelabuhan dan tidak memiliki industri skala besar yang sanggup memenuhi volume kebutuhan Cina.

Erick Rutto, presiden Kamar Dagang Nasional Kenya, menilai pelatihan eksportir jadi bagian penting agar produk Afrika bisa lolos standar bea cukai Cina. Pelatihan itu mencakup kepatuhan fitosanitasi, akses pasar, dan penentuan harga komoditas yang tepat.

Jalur pengiriman juga masih jadi pekerjaan rumah. Banyak rute Afrika-Cina masih bergantung pada pelabuhan Dubai atau Singapura, sehingga investasi Cina pada jalur pelayaran langsung dinilai penting untuk menekan biaya dan waktu pengiriman.

Di sisi pembiayaan, Cina tetap menarik bagi banyak pelaku usaha Afrika. Pengusaha Afrika Aliko Dangote menilai skema pembiayaan dari Cina lebih fleksibel untuk proyek besar, termasuk pembangkit listrik, karena bisa disusun bertahap selama beberapa tahun.

Baca Juga

Back to top button