Di dasar Samudra Pasifik, ada bagian patahan yang justru bergerak dengan pola yang nyaris teratur. Gempa besar di sana muncul dengan besaran yang hampir sama dan jeda yang berulang, sehingga peristiwanya terasa seperti mengikuti jam.
Pola semacam ini menarik perhatian karena tidak semua gempa bekerja dengan cara serupa. Pada sistem tertentu, justru struktur batuan, retakan di sekitarnya, dan rem alami di sepanjang patahan membuat guncangan besar lebih mudah dipetakan dibandingkan gempa yang muncul secara acak.
Apa yang membuat pola itu begitu teratur
Sejumlah peneliti dari Amerika Serikat dan Kanada melihat bahwa sesar transformasi samudra tidak berdiri sendiri. Di sekelilingnya ada zona penghalang yang berperan seperti rem alami, sehingga aktivitas gempa tidak berkembang liar ke semua arah.
Di dalam sistem itu juga ada proses penguatan dilatasi. Proses ini terjadi ketika air laut meresap jauh ke dalam batuan bawah samudra dan membantu melindungi bagian-bagian sesar dari gempa yang lebih besar.
Kasus yang paling jelas terlihat di sesar Gofar
Contoh yang paling menonjol ada pada sesar transformasi Gofar, yang berada jauh di bawah Samudra Pasifik, di sebelah barat Ekuador. Sesar ini menjadi batas antara lempeng tektonik Pasifik dan Nazca, dua lempeng yang bergesekan dengan kecepatan sekitar 140 milimeter per tahun.
Di wilayah ini, gempa berkekuatan 6 skala richter muncul secara teratur setiap lima atau enam tahun sejak data mulai dicatat pada 1995. Pola berulang itu menjadi petunjuk penting bahwa ada mekanisme khusus yang membuat sebagian patahan bergerak dengan ritme yang relatif stabil.
Data langsung dari dasar laut memberi gambaran lebih jelas
Untuk membaca perilaku patahan itu, para peneliti menjalankan dua eksperimen terpisah pada 2008 dan 2019–2022. Mereka menempatkan seismometer dasar laut langsung di dasar laut agar gerakan patahan bisa dipantau lebih rinci.
Perangkat itu merekam puluhan ribu gempa kecil di sekitar dua gempa besar. Dari sana, para peneliti bisa melihat hubungan antara aktivitas kecil dan besar dalam satu sistem patahan yang sama, bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Peran zona penghalang tidak bisa diabaikan
Zona penghalang di sekitar sesar ini bukan sekadar batas fisik. Struktur tersebut ikut membatasi cara energi gempa menyebar sepanjang patahan, sehingga pelepasan energi tidak terjadi secara sembarangan.
Gabungan retakan yang kompleks dan infiltrasi air laut tampaknya menjadi faktor penting yang membentuk pola gempa lebih teratur. Itulah sebabnya gempa pada segmen tertentu dapat muncul hampir bersamaan dari waktu ke waktu dengan besaran yang relatif serupa.
Masih satu sesar, tetapi pelajarannya lebih luas
Penelitian ini baru menguji satu sesar spesifik, jadi hasilnya belum bisa langsung digeneralisasi ke semua patahan. Meski begitu, zona penghalang seperti yang ada di sekitar sesar Gofar dinilai mungkin juga memengaruhi sesar-sesar lain.
Untuk membuktikannya, penelitian lanjutan perlu mengecek apakah sesar lain memiliki retakan kompleks dan infiltrasi air laut yang serupa. Pengeboran dasar laut disebut sebagai salah satu teknik yang bisa dipakai untuk menguji hal itu.
Dampaknya bagi pemodelan gempa
Pemahaman baru ini penting bukan hanya untuk wilayah Gofar. Jika mekanisme di sana bisa dijelaskan lebih utuh, model gempa bumi secara umum berpotensi dibuat lebih baik.
Siklus seismik yang dapat diprediksi dan area patahan yang terbatas secara spasial, seperti yang terlihat dalam eksperimen OBS pada 2008 dan 2020, menunjukkan perlunya penempatan alat yang terarah. Pemantauan selama beberapa tahun juga dibutuhkan agar detail aktivitas seismik di sesar transformasi samudra benar-benar tertangkap dan mekanisme di balik gempa besar bisa diungkap lebih jelas.
Source: www.idntimes.com




