Polda Metro Jaya tengah menelusuri kemungkinan adanya pola yang lebih besar di balik rangkaian begal dan kejahatan jalanan. Pemeriksaan itu tidak berhenti pada pelaku yang sudah ditangkap, tetapi juga menyasar jejak digital dari ratusan ponsel milik pelaku dan penadah.
Langkah tersebut dilakukan lewat uji laboratorium digital forensik Polri. Dari perangkat itu, penyidik ingin membaca komunikasi, transaksi, dan hubungan antarorang yang terlibat dalam kasus-kasus tersebut.
Pemeriksaan ratusan ponsel jadi pintu masuk
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, mengatakan timnya sedang mengkaji data statistik kejahatan yang belakangan mengalami kenaikan. Dari hasil kajian itu, kepolisian membentuk tim khusus untuk memburu para pelaku begal.
Menurut Iman, penyidik kini juga meneliti apakah ada skema lain di atas para pelaku lapangan. Karena itu, hampir 200 ponsel milik pelaku dan penadah sedang diperiksa untuk mencari petunjuk yang bisa membuka gambaran lebih utuh tentang pola kejahatan yang terjadi.
Polda Metro Jaya tidak ingin penyidikan berhenti pada pelaku yang tertangkap bila data digital mengarah ke pihak lain. Hasil forensik itu diharapkan bisa menunjukkan apakah aksi begal dan kejahatan jalanan itu berdiri sendiri atau terhubung dengan jaringan tertentu.
Fokus penyidikan meluas ke kemungkinan jaringan
Iman menegaskan bahwa pemeriksaan digital dilakukan untuk mencari jejak yang lebih luas dari sekadar aksi kriminal di lapangan. Penyidik ingin memastikan ada atau tidaknya pihak yang bekerja di belakang para pelaku langsung.
Dengan membaca isi ponsel, polisi berharap menemukan petunjuk soal komunikasi dan pola hubungan antarorang yang selama ini belum terlihat. Jejak seperti itu dinilai penting untuk menyusun gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana kejahatan jalanan tersebut berjalan.
Pendalaman ini juga menjadi bagian dari upaya membaca pola kejahatan secara lebih menyeluruh. Jika ada data yang mengarah pada skema lain, penyidikan akan bergerak mengikuti temuan itu.
Hoaks di media sosial ikut dipantau
Di saat yang sama, kepolisian juga menaruh perhatian pada penyebaran informasi soal begal di media sosial. Iman menilai ada amplifikasi di beberapa platform yang seolah-olah menggambarkan kejadian itu terjadi luas di Jakarta Barat.
Polda Metro Jaya mendalami apakah ada pihak yang sengaja membangun rasa takut di masyarakat lewat konten kriminalitas. Penyebaran informasi yang berlebihan dinilai bisa memicu keresahan, terutama bila tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, juga menyinggung kasus seorang model dan MUA yang sempat mengaku menjadi korban begal lewat media sosial. Setelah diperiksa, informasi itu dinyatakan tidak benar.
Penyidik sudah melakukan visum et repertum terhadap luka yang dikeluhkan. Hasil pemeriksaan menunjukkan luka tersebut berasal dari bisul yang meletus, bukan akibat bacokan pelaku begal.
Penindakan tetap tegas, tapi terukur
Dalam penindakan terhadap pelaku begal, Polda Metro Jaya menegaskan aparat tetap bekerja dengan prinsip tegas dan terukur. Keselamatan warga dan petugas menjadi pertimbangan utama saat upaya paksa dilakukan.
Iman menjelaskan bahwa banyak tersangka membawa senjata api atau senjata tajam saat hendak ditangkap. Karena itu, aparat harus mengutamakan keamanan lingkungan sekitar ketika melakukan penindakan terhadap kejahatan jalanan bersenjata.
Pendalaman terhadap ponsel pelaku dan penadah kini menjadi salah satu jalur utama untuk membaca pola kejahatan yang lebih besar. Dari perangkat digital itu, polisi berharap muncul jejak yang dapat menghubungkan para pelaku dengan kemungkinan jaringan yang selama ini belum terungkap.
Source: www.suara.com




