Potongan Aplikasi Ojol Disunat Jadi 8 Persen, Pengemudi Kantongi Lebih Banyak Tiap Order

Perubahan potongan aplikasi ojek online menjadi 8 persen langsung menarik perhatian para mitra driver. Dengan skema ini, porsi pendapatan pengemudi naik menjadi 92 persen sehingga setiap order berpotensi memberi hasil bersih yang lebih besar.

Bagi driver, selisih beberapa ribu rupiah per perjalanan bukan hal kecil. Saat order harian tidak selalu stabil dan biaya operasional terus berjalan, tambahan pendapatan dari setiap trip bisa sangat membantu.

Dampak perubahan itu paling mudah terlihat lewat simulasi order. Untuk pesanan senilai Rp 30 ribu, sebelumnya pengemudi hanya mengantongi Rp 24 ribu karena Rp 6 ribu dipotong aplikator. Dengan aturan baru, order yang sama membuat driver menerima Rp 27.600, sementara potongan aplikator turun menjadi Rp 2.400.

Selisih dari satu order Rp 30 ribu saja mencapai Rp 3.600. Angka ini menjadi lebih berarti bagi pengemudi yang mengandalkan banyak perjalanan dalam sehari untuk mengejar target penghasilan.

Perubahan serupa juga terasa pada perjalanan jarak menengah. Di Zona 1 yang mencakup Pulau Jawa dan Sumatera, tarif awal berada di kisaran Rp 8-10 ribu, lalu penumpang membayar Rp 2.500 per kilometer.

Jika pengemudi di Pulau Jawa menerima order sejauh 10 km, nilai perjalanannya setidaknya mencapai Rp 35 ribu. Dengan skema potongan baru, Rp 32.200 dari nilai itu akan masuk ke kantong mitra driver.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa penurunan fee aplikasi tidak hanya menguntungkan pada order besar. Perjalanan yang nilainya sedang pun tetap memberi ruang pendapatan bersih yang lebih lebar bagi pengemudi.

Kebijakan ini lahir dari perubahan skema bagi hasil yang diputuskan pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto. Aturan tersebut disebut mulai berlaku pada Juni 2026, dan salah satu aplikator besar, Gojek, juga disebut akan menjalankan amanat yang sudah disampaikan Presiden.

Saat ini, pihak perusahaan tinggal menunggu keputusan akhir untuk pelaksanaannya. Bagi banyak mitra ojol, kepastian soal skema baru ini penting karena langsung menyangkut penghasilan harian yang mereka bawa pulang.

Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menilai kebijakan tersebut bukan sekadar urusan administrasi. Ia menyebut langkah itu sebagai bentuk keberpihakan negara kepada pengemudi ojol di Indonesia.

Igun juga menyoroti besaran potongan 8 persen yang dinilai lebih rendah dari tuntutan awal komunitas pengemudi. Sebelumnya, Garda dan para driver memperjuangkan skema potongan maksimal 10 persen.

Menurut Igun, keputusan ini bahkan melampaui permintaan awal asosiasi dan para pengemudi. Ia menyebut kebijakan itu sebagai bukti keberanian politik sekaligus sensitivitas sosial pemerintah dalam merespons aspirasi akar rumput.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai setelah aturan diumumkan. Pengawasan tetap dibutuhkan agar platform digital benar-benar menjalankan ketentuan itu di lapangan.

Bagi ekosistem transportasi online, perubahan fee aplikasi menjadi salah satu isu yang paling sensitif. Saat porsi aplikator turun, pendapatan bersih mitra naik tanpa perlu menunggu perubahan tarif perjalanan, sehingga dampaknya langsung terasa dalam transaksi harian.

Karena itu, revisi potongan aplikasi ke 8 persen dipandang sebagai penyesuaian penting dalam hubungan bagi hasil antara aplikator dan pengemudi. Jika implementasinya berjalan sesuai rencana pada Juni 2026, banyak driver berpeluang membawa pulang lebih banyak dari setiap order yang mereka selesaikan.

Source: oto.detik.com
Exit mobile version