Operasi kanker prostat kini tidak lagi selalu menuntut dokter dan pasien berada di ruang yang sama. Dalam kasus di China, seorang akademisi Chinese Academy of Sciences berhasil mengendalikan robot bedah dari jarak 220 kilometer, dengan bantuan jaringan 5G yang membuat jeda perintah nyaris tak terasa.
Tindakan ini berlangsung saat pasien berada di Kota Jingzhou, Provinsi Hubei, sedangkan ruang kendali berada di Rumah Sakit Tongji, Wuhan. Laporan Jimu News menyebut operasi tersebut dipimpin akademisi CAS Zhang Xu dengan dukungan tampilan gambar endoskopi beresolusi tinggi di layar besar.
Kendali jarak jauh yang sangat presisi
Dari ruang kendali, Zhang menggerakkan lengan robot bedah untuk menangani pasien bermarga Cao. Pasien itu diketahui mengidap kanker prostat stadium awal dengan risiko menengah.
Yang paling disorot dari prosedur ini adalah performa jaringan 5G. Sistem mencatat network round-trip latency hanya sembilan milidetik, sehingga respons antara perintah dokter, gerak robot, dan umpan balik gambar berlangsung sangat cepat.
Dalam operasi jarak jauh seperti ini, latensi rendah memang menjadi faktor penting. Dokter perlu melihat gambar yang stabil dan mengandalkan akurasi tinggi saat robot menjalankan instruksi secara langsung.
Tumor berhasil diangkat dalam waktu sekitar satu jam
Tim medis melaporkan tumor prostat pasien dapat diangkat dengan aman dan menyeluruh dalam waktu sekitar satu jam. Selama prosedur, perdarahan disebut minimal dan tidak terjadi kerusakan usus.
Direktur Departemen Urologi Rumah Sakit Pusat Jingzhou, Liao Yixiang, menilai pendekatan ini memberi peluang lebih baik untuk mempertahankan fungsi saluran kemih dan fungsi tubuh lain melalui bedah presisi tinggi. Hasil operasi tersebut juga menunjukkan bahwa robot bedah dan koneksi 5G bisa mendukung tindakan invasif minimal dengan risiko lebih rendah terhadap jaringan sehat.
Kerja sama dua rumah sakit makin terbuka
Operasi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal pola kerja sama medis lintas lokasi. Tim di Wuhan dan Jingzhou bekerja bersama untuk memastikan pemantauan, kendali, dan tindakan bedah berjalan lancar selama prosedur.
Bagi pasien berusia 57 tahun itu, pendekatan seperti ini berpotensi membantu pemulihan yang lebih cepat dan waktu kembali beraktivitas yang lebih singkat dibanding operasi yang lebih invasif. Teknologi semacam ini juga memperlihatkan bagaimana layanan bedah spesialis dapat menjangkau pasien di wilayah berbeda tanpa mengurangi ketepatan tindakan medis.
Source: www.beritasatu.com




