Tekanan Ke Israel Dan Hamas Dinilai Sama Penting, Gaza Terancam Mandek Permanen

Gaza kembali berada di titik rawan karena tidak ada kepastian bahwa gencatan senjata akan benar-benar mengubah keadaan di lapangan. Nickolay Mladenov menilai wilayah itu bisa tetap terbelah untuk waktu yang sangat panjang jika tekanan terhadap Hamas dan Israel tidak dijalankan bersamaan.

Utusan utama Board of Peace untuk Gaza itu membawa peringatan tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Ia meminta badan itu menggunakan segala cara yang dimilikinya untuk mendorong Hamas melucuti senjata, sambil menegaskan Israel juga wajib menjalankan komitmen dalam kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada Oktober.

Mladenov menolak pendekatan yang hanya menekan satu pihak. Menurut dia, kesepakatan tidak akan bergerak maju bila beban pelaksanaannya hanya diarahkan kepada Palestina, sementara kewajiban pihak lain dibiarkan mengambang.

Di lapangan, situasinya memang masih jauh dari stabil. Mladenov menyinggung pembunuhan yang masih terjadi serta pembatasan Israel terhadap aliran bantuan kemanusiaan sebagai masalah nyata yang belum terurai.

Ancaman Gaza terbelah permanen

Peringatan paling keras datang dari gambaran yang ia sebut paling berbahaya, yakni Gaza terus dibiarkan terbagi tanpa perubahan berarti. Dalam skenario itu, Hamas akan tetap memegang kendali atas lebih dari dua juta orang di kurang dari setengah wilayah Gaza, sementara proses pembangunan kembali tidak kunjung dimulai.

Mladenov menyebut warga akan terus hidup di antara reruntuhan dan bergantung pada bantuan. Rekonstruksi juga tak akan bergerak selama senjata belum diturunkan, sehingga masa depan wilayah itu tetap tersandera keadaan yang sama.

Ia bahkan memperingatkan bahwa kondisi seperti itu bisa melahirkan generasi baru yang tumbuh di tenda dengan rasa putus asa sebagai latar hidup mereka. Karena itu, ia menilai skenario tersebut harus dihindari bukan hanya oleh Israel dan Palestina, tetapi juga oleh kawasan secara luas.

Tahap berikutnya masih macet

Kebuntuan ini juga berkaitan dengan tahap lanjutan gencatan senjata yang belum berjalan mulus. Pada Januari, Amerika Serikat mengumumkan bahwa gencatan senjata Gaza sudah masuk fase dua, yang dirancang mencakup pelucutan senjata Hamas, tata kelola jangka panjang, pembentukan panel teknokrat Palestina untuk memimpin Gaza pascaperang, penarikan bertahap militer Israel, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

Namun transisi ke tahap itu tersendat selama berminggu-minggu. Perhatian dunia kemudian tersedot ke perang di Iran di tengah krisis energi global, sementara pelaksanaan fase berikutnya belum bergerak sesuai rencana.

Di saat yang sama, tanda-tanda ketegangan di wilayah itu masih terus muncul. Sejak gencatan senjata dalam perang AS-Israel melawan Iran dicapai bulan lalu, bombardemen Israel ke Gaza disebut meningkat, dan serangan keras oleh pemukim serta militer di Tepi Barat yang diduduki juga makin sering terjadi.

Korban masih berjatuhan

Situasi rapuh itu berakar dari perang besar yang meledak setelah serangan Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lain pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan. Konflik itu kemudian dihentikan lewat gencatan senjata pada Oktober 2025, tetapi dampaknya masih terasa kuat.

Korban jiwa dalam perang tersebut juga sangat besar. Lebih dari 72.775 warga Palestina tewas, sementara militer Israel tetap mempertahankan rezim keamanan yang ketat dan ratusan orang lain dilaporkan tewas dalam tujuh bulan terakhir.

Serangan terbaru juga menunjukkan belum adanya jeda nyata bagi warga sipil. Pada Kamis, serangan drone Israel menewaskan seorang pria berusia 26 tahun di wilayah al-Mahatta, sebelah timur kota Deir el-Balah, menurut kantor berita Wafa.

Baca Juga

Back to top button