Upaya penyelamatan di tambang batu bara Liushenyu, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, China utara, masih berjalan dalam kondisi yang sangat berisiko. Di bawah tanah, 90 pekerja belum berhasil keluar sementara gas karbon monoksida masih terdeteksi di area kejadian.
Situasi itu membuat tim penyelamat harus bergerak hati-hati dan terus berpacu dengan waktu. Hingga Sabtu pagi, 157 dari sekitar 247 pekerja yang semula berada di bawah tanah sudah berhasil dievakuasi ke permukaan, termasuk empat orang yang dinyatakan meninggal dunia.
Dari mereka yang belum keluar, sekitar 16 orang dilaporkan berada dalam kondisi kritis. Angka itu menunjukkan bahwa proses penyelamatan bukan hanya soal menemukan para pekerja yang masih terjebak, tetapi juga menjaga agar kondisi di dalam lorong tambang tidak makin memburuk.
Insiden ini terjadi pada Jumat malam di wilayah Changzhi saat para pekerja masih berada di bawah tanah. Sejak saat itu, evakuasi dilakukan bertahap karena kadar karbon monoksida dilaporkan naik melewati batas aman.
Keberadaan gas beracun menjadi tantangan utama di lapangan. Xinhua menyebut kondisi tambang masih berbahaya karena karbon monoksida tetap terdeteksi, sehingga setiap langkah penyelamatan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Ancaman itu juga membuat jalur evakuasi tidak bisa dimanfaatkan secara leluasa. Dalam situasi seperti ini, keselamatan para pekerja yang masih terperangkap bergantung pada kecepatan respons dan kemampuan tim penyelamat menghadapi udara yang terus memburuk.
Sampai laporan terakhir, fokus utama masih tertuju pada 90 pekerja yang belum ditemukan di dalam tambang. Tim gabungan terus melakukan penyelamatan intensif sambil memantau paparan gas beracun yang masih tinggi.
Kecelakaan di Liushenyu kembali menegaskan betapa besar risiko kerja di tambang bawah tanah. Saat gas beracun muncul dan kondisi udara tidak stabil, operasi penyelamatan bisa berubah menjadi perlombaan melawan waktu dengan ancaman yang terus bergerak di bawah permukaan tanah.
Source: www.beritasatu.com




