Belarus Jadi Incaran Indonesia, Traktor Hingga Dump Truck Disiapkan untuk Pangan dan Tambang

Kerja sama Indonesia dan Belarus mulai mengarah ke kebutuhan yang sangat praktis: alat berat yang bisa dipakai untuk pertanian, transportasi, dan tambang. Pembahasan itu tidak hanya menyorot pembelian produk jadi, tetapi juga peluang transfer teknologi, perakitan lokal, dan penguatan industri dalam negeri.

Arah tersebut mencuat saat Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meninjau sejumlah industri manufaktur unggulan di Minsk dalam rangka Sidang Komisi Bersama ke-8 RI–Belarus. Dari situ, Indonesia membaca peluang untuk mencari barang strategis dan teknologi yang relevan dengan agenda industrialisasi nasional.

Belarus dilirik karena basis industrinya kuat

Belarus dianggap menarik karena punya kapasitas manufaktur yang mapan. Pada 2024, kontribusi sektor manufaktur negara itu terhadap PDB tercatat 20,3 persen, sementara tingkat swasembada pangannya berada di sekitar 96 persen.

Bagi Indonesia, kombinasi itu penting karena kebutuhan nasional tidak berhenti pada ketersediaan alat, tetapi juga pada kemampuan membangun rantai produksi yang lebih kuat. Karena itu, Belarus dipandang sebagai mitra yang layak dijajaki untuk mendukung produksi dalam negeri dan memperluas pilihan pemasok alat berat.

Pembahasan kerja sama juga dikaitkan dengan skema Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement. Jalur ini dinilai bisa memperkuat hubungan ekonomi kedua pihak, terutama karena pangan dan industri sama-sama menjadi prioritas.

Tiga perusahaan jadi titik pembicaraan

Dalam kunjungan di Minsk, Airlangga didampingi Wakil Menteri Industri Belarus, Leonid Ryzkovsky. Keduanya meninjau tiga perusahaan besar yang menjadi tulang punggung industri alat berat dan otomotif Belarus.

Minsk Tractor Works atau MTZ menjadi salah satu sorotan karena menawarkan teknologi traktor dan mesin pertanian modern. Perusahaan ini juga disebut siap menyesuaikan spesifikasi produk dan membuka ruang transfer teknologi untuk mendukung program food estate serta peningkatan produktivitas pertanian.

Perusahaan kedua, Minsk Automobile Plant atau MAZ, membahas peluang pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan khusus industri. Dalam pembahasan itu, opsi perakitan lokal dan kendaraan rendah emisi juga ikut masuk meja diskusi sebagai bagian dari penguatan industri otomotif dan transportasi.

Sementara itu, BelAZ Holding Management Company menjadi perhatian untuk sektor alat berat pertambangan. Fokus pembahasannya adalah kebutuhan dump truck yang efisien, sejalan dengan kebutuhan operasional di sektor batu bara yang besar dan terus menuntut armada andal.

Pangan, mekanisasi, dan hilirisasi ikut masuk agenda

Airlangga menilai perusahaan-perusahaan Belarus punya pengalaman memproduksi berbagai alat berat yang bisa mendukung industrialisasi dan mekanisasi pertanian modern di Indonesia. Di sektor pertanian, teknologi yang tepat diharapkan mampu mempercepat pengolahan lahan dan menaikkan produktivitas.

Dampaknya diarahkan pada penguatan pasokan pangan nasional. Jika teknologi yang dipilih benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan di Indonesia, maka manfaatnya tidak hanya terasa di sisi alat, tetapi juga di efektivitas kerja sektor pertanian.

Di sektor pertambangan, alat berat yang lebih efisien dibutuhkan untuk mendukung operasi yang lebih besar dan terukur. Kebutuhan itu menjadi penting karena Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun.

Kerja sama ini juga dibaca sebagai bagian dari hilirisasi. Artinya, pembicaraan tidak berhenti pada transaksi barang, tetapi juga membuka peluang pengolahan sumber daya dan pemanfaatan teknologi bernilai tambah.

Teknologi hijau ikut dibahas

Selain mesin dan alat berat, kedua pihak turut menjajaki inovasi yang lebih berkelanjutan. Salah satu topik yang muncul adalah studi penggunaan baterai nikel untuk modernisasi alat pertanian dan pertambangan agar lebih efisien dan ramah lingkungan.

Pembahasan lain menyangkut pengembangan singkong atau cassava menjadi etanol sebagai sumber energi terbarukan. Arah ini memperlihatkan bahwa kerja sama yang dibangun tidak semata soal pengadaan, tetapi juga menyentuh energi dan teknologi masa depan.

Pemetaan kebutuhan jadi langkah lanjutan

Airlangga menilai komunikasi yang lebih intensif antar pelaku industri perlu diperkuat agar pembahasan tidak berhenti di tingkat wacana. Pemerintah Belarus disebut aktif mempelajari pasar Indonesia, tetapi masih memerlukan informasi yang lebih rinci tentang kebutuhan teknis di lapangan.

Karena itu, kedua negara sepakat melakukan pemetaan kebutuhan bersama melalui forum konsultasi reguler. Cara ini diharapkan membuat solusi teknologi dari Belarus lebih cocok dengan kondisi geografis Indonesia, kebutuhan industri, dan arah pembangunan nasional yang menempatkan ketahanan pangan serta penguatan basis manufaktur sebagai prioritas.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button