Pasar saham Indonesia sedang diuji oleh dua tekanan sekaligus: perubahan arah dana asing dan munculnya kekhawatiran atas kebijakan baru di sektor ekspor komoditas. Di tengah IHSG yang sudah lebih dulu bergejolak, investor luar negeri mulai menunjukkan sikap hati-hati bahkan cenderung melepas saham RI saat sentimen terhadap Danantara Sumberdaya Indonesia menguat.
Arah dana asing berubah sangat cepat dalam sepekan perdagangan. Setelah sempat mencatat beli bersih Rp261,23 miliar di seluruh pasar pada Selasa (19/5/2026), transaksi asing tetap berbalik rapuh karena IHSG hari itu turun 3,46% ke level 6.370,68.
Keesokan harinya, pasar kembali mendapat sinyal baru ketika Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pembentukan badan ekspor SDA satu pintu dalam Rapat Paripurna DPR RI. Meski IHSG masih melemah 0,82%, investor asing justru masih membukukan net buy Rp249,21 miliar.
Perubahan paling tajam muncul pada Kamis (21/5/2026). Saat IHSG anjlok 3,54% ke level 6.094,94, investor asing melepas saham RI dengan net sell Rp544,85 miliar di seluruh pasar.
Tekanan itu belum berhenti di satu hari. Pada Jumat (22/5/2026), aksi jual asing berlanjut dengan net sell Rp309,52 miliar, menandakan pasar belum mendapatkan kepastian atas arah kebijakan baru yang menyangkut ekspor komoditas strategis.
Kekhawatiran pasar soal kebijakan satu pintu
Munculnya Danantara Sumberdaya Indonesia memicu sorotan karena kebijakan ekspor satu pintu dinilai berpotensi menambah ketidakpastian. Di saat yang sama, IHSG juga sedang berada dalam kondisi lemah akibat tekanan dari dalam negeri dan tensi geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi itu membuat pelaku pasar membaca kebijakan baru ini bukan sekadar perubahan teknis. Bagi investor, arah pengelolaan ekspor komoditas strategis menjadi faktor penting karena bisa memengaruhi arus perdagangan dan persepsi risiko terhadap Indonesia.
Sentimen yang memburuk ini ikut mendorong asing lebih selektif masuk ke saham RI. Ketika pasar belum melihat kepastian operasional, aliran dana pun bergerak fluktuatif lalu berubah tajam menjadi jual bersih.
Tiga risiko yang disorot S&P Global Ratings
Kekhawatiran tersebut juga sejalan dengan pandangan S&P Global Ratings. Lembaga pemeringkat internasional itu menyoroti tiga risiko utama dari pemusatan pengelolaan ekspor komoditas lewat satu badan khusus.
Risiko pertama ada pada pelaksanaan. S&P menilai implementasi sistem ekspor satu pintu berlangsung terlalu cepat dan berpotensi memicu eksekusi yang buruk di lapangan, sehingga bisa merusak metrik kredit negara.
S&P juga menilai pemusatan ekspor komoditas utama sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Pengumuman kebijakan yang mendadak dengan masa persiapan sekitar tiga bulan dinilai memperbesar peluang kesalahan teknis.
Ancaman ke pendapatan dan perdagangan
Risiko kedua menyentuh pendapatan negara. Aturan yang dinilai terburu-buru berisiko mengganggu arus perdagangan, terutama saat industri nasional masih menghadapi gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah.
S&P mencatat pemerintah juga sedang menjalankan sejumlah kebijakan baru di sektor komoditas. Kebijakan itu mencakup penyesuaian kuota produksi, perubahan formula harga acuan, dan ketentuan nilai royalti.
Jika seluruh kebijakan itu berjalan bersamaan dengan operasionalisasi Danantara Sumberdaya Indonesia, S&P menilai kinerja ekspor nasional bisa tertekan. Dampaknya dapat mengoreksi pendapatan pemerintah dan mengganggu neraca pembayaran.
Alarm pada peringkat utang dan sentimen pasar
Risiko ketiga berkaitan dengan kemungkinan penurunan peringkat utang Indonesia. S&P menilai akumulasi faktor tersebut menambah ketidakpastian dan memperbesar risiko penurunan peringkat dari posisi sovereign credit Indonesia saat ini, yaitu BBB/Stable/A-2.
S&P juga mengingatkan bahwa kebijakan satu pintu ini dapat mengikis kepercayaan dunia usaha dan sentimen positif di pasar modal. Bila arah kebijakan dipandang sulit diprediksi, investasi bisa melambat, pertumbuhan ekonomi tertahan, dan modal asing berpeluang terus keluar dari bursa RI.
Di tengah situasi itu, pasar masih menunggu apakah kebijakan baru ini benar-benar mampu memberi efisiensi atau justru menambah beban pada arus ekspor dan persepsi risiko Indonesia. Pergerakan asing pada perdagangan berikutnya akan menjadi petunjuk penting bagi arah saham RI.





